Transformasi Pendidikan Dimulai dari Ruang Kelas Anak Usia Dini
JAMBI — Ketika teknologi digital semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari anak-anak, tantangan terbesar dunia pendidikan bukan lagi sekadar menyediakan akses pembelajaran, melainkan memastikan bahwa para pendidik mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut. Kesadaran itulah yang melatarbelakangi pelaksanaan Workshop Transformasi Pembelajaran PAUD di Era Digital yang diikuti ratusan tenaga pendidik di Kota Jambi.
Bertempat di Aula Kartini Kurnia Global School, kegiatan yang diinisiasi oleh Penerbit Erlangga, IGTKI PGRI, dan HIMPAUDI Kota Jambi itu diikuti oleh 340 peserta yang terdiri atas kepala sekolah, pengelola, dan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dari berbagai wilayah di Kota Jambi. Workshop tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas tenaga pendidik dalam menghadapi perubahan pola belajar generasi baru yang tumbuh bersama teknologi digital.

Mengapa Transformasi Pembelajaran PAUD Menjadi Penting?
Perkembangan teknologi telah mengubah cara anak-anak berinteraksi dengan dunia. Generasi yang saat ini duduk di bangku PAUD sebagian besar berasal dari kelompok Generasi Alfa—anak-anak yang sejak lahir telah terbiasa dengan perangkat digital, internet, dan berbagai bentuk teknologi interaktif.
Dalam konteks tersebut, metode pembelajaran konvensional menghadapi tantangan baru. Guru dituntut tidak hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga memahami bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan secara efektif tanpa mengabaikan aspek perkembangan sosial, emosional, dan karakter anak.
Bunda PAUD Kota Jambi, Dr. dr. Hj. Nadiyah, Sp.OG., yang membuka kegiatan tersebut menegaskan bahwa peningkatan kompetensi guru menjadi kebutuhan mendesak di tengah perubahan zaman.
“Kompetensi guru PAUD harus meningkat di era digital. Generasi alfa pada saat ini sudah terpapar teknologi sejak dini, apabila dalam proses pembelajaran tidak bertransformasi maka kita akan ketinggalan,” ujar Nadiyah dalam sambutannya.
Pernyataan itu mencerminkan tantangan yang kini dihadapi dunia pendidikan secara global: bagaimana menjadikan teknologi sebagai alat pendukung pembelajaran, bukan pengganti interaksi manusia yang menjadi fondasi pendidikan anak usia dini.
Digitalisasi: Tantangan Sekaligus Peluang
Memanfaatkan Teknologi Secara Bijak
Dalam paparannya, Nadiyah mengibaratkan perkembangan digitalisasi sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, teknologi menawarkan berbagai peluang untuk menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif, interaktif, dan menyenangkan. Namun di sisi lain, penggunaan yang tidak tepat dapat membawa dampak negatif bagi perkembangan anak.
Karena itu, menurutnya, guru memiliki peran penting dalam mengarahkan pemanfaatan teknologi secara bijaksana.
“Digitalisasi bisa menjadi tantangan namun bisa juga menjadi sebuah peluang. Sekarang bagaimana kita menyikapi dengan bijak untuk dapat memaksimalkan sisi positif dan meminimalisir sisi negatifnya,” katanya.
Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai kebijakan pendidikan yang mendorong transformasi digital tanpa menghilangkan esensi pembelajaran berbasis interaksi langsung antara guru dan peserta didik.
Guru Tetap Menjadi Faktor Utama Pendidikan
Teknologi Tidak Bisa Menggantikan Sentuhan Manusia
Meski digitalisasi menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan masa kini, para narasumber menekankan bahwa teknologi bukanlah pengganti guru.
Dalam workshop tersebut, para peserta dibekali berbagai strategi untuk mengembangkan konten pembelajaran yang lebih inovatif dan menarik. Mereka juga diajak memahami cara memanfaatkan aplikasi digital sebagai media pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan anak usia dini.
Namun demikian, Nadiyah mengingatkan bahwa aspek emosional dalam pendidikan tetap tidak tergantikan.
“Jangan lupa untuk menyentuh dan memeluk anak-anak kita dengan kasih sayang, karena hal tersebut tidak bisa diganti oleh gadget atau AI sekalipun,” tegasnya.
Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa teknologi hanyalah alat bantu. Pendidikan anak usia dini pada hakikatnya tetap bertumpu pada hubungan personal yang hangat antara guru dan peserta didik.
Membangun Guru yang Adaptif dan Kreatif
Workshop yang mengusung tema “Transformasi Pembelajaran PAUD di Era Digitalisasi, Inovasi, dan Kreativitas Guru dalam Mengajar” menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai institusi, termasuk Direktorat Jenderal PAUD dan sektor penerbitan pendidikan. Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif, sehingga peserta dapat langsung mengimplementasikannya dalam proses pembelajaran sehari-hari.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Jambi, Sugiyono, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, dunia pendidikan tidak boleh berhenti berinovasi meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.
“Berkembangnya era digital bukan tanpa tantangan, tetapi di era inilah tantangan tersebut semakin meningkat,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa guru memiliki tanggung jawab untuk membimbing anak-anak agar mampu memanfaatkan teknologi secara positif demi perkembangan diri mereka di masa depan.
Investasi Jangka Panjang bagi Generasi Masa Depan
Peningkatan kompetensi guru PAUD sejatinya merupakan investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia. Pendidikan anak usia dini merupakan fase krusial yang menentukan kualitas generasi mendatang.
Karena itu, langkah Pemerintah Kota Jambi bersama berbagai mitra pendidikan dalam memperkuat kapasitas tenaga pendidik menjadi bagian penting dari strategi pembangunan manusia yang berkelanjutan.
Di tengah percepatan transformasi digital yang terjadi di berbagai sektor, pendidikan anak usia dini menjadi titik awal untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi berjalan beriringan dengan pembentukan karakter, kreativitas, dan kecerdasan sosial anak. Dari ruang workshop ini, Kota Jambi tengah menyiapkan fondasi bagi lahirnya generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga tumbuh sebagai manusia yang adaptif, kreatif, dan berkarakter kuat.








