Ruang Dialog untuk Menyatukan Perspektif
Dialog publik yang digelar di Aula Griya Mayang, Rumah Dinas Wali Kota Jambi, menjadi wadah terbuka bagi masyarakat, akademisi, organisasi, dan tokoh masyarakat untuk menyampaikan pandangan mereka terhadap kebijakan pengelolaan sampah.
Forum ini tidak hanya menjadi ajang penyampaian kritik, tetapi juga sarana untuk merumuskan solusi bersama dalam menghadapi persoalan sampah yang kian kompleks.

Sebagai hasil diskusi, seluruh peserta menyepakati bahwa kebersihan Kota Jambi harus menjadi prioritas utama, meskipun implementasinya tetap memerlukan penyempurnaan kebijakan.
Transformasi Tata Kelola Sampah: Respons atas “Darurat Sampah”
Rektor Universitas Jambi, Prof. Helmi, menilai bahwa langkah transformasi pengelolaan sampah yang dilakukan pemerintah merupakan respons terhadap kondisi “darurat sampah” akibat pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi.
“Inisiatif ini sudah berada pada koridor yang tepat untuk kebersihan dan keindahan kota,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kebersihan bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga berkaitan erat dengan kesejahteraan masyarakat serta daya tarik Kota Jambi sebagai kota perdagangan, jasa, dan bahkan destinasi wisata.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa upaya tersebut tidak dapat bergantung pada pemerintah semata.
“Tidak mungkin dilakukan kalau hanya dari pemerintah, butuh dukungan semua pihak,” tegasnya.
OPBM dan Penataan TPS Jadi Sorotan
Salah satu fokus utama dalam dialog adalah implementasi program Operator Pengangkut Sampah Berbasis Masyarakat (OPBM) serta kebijakan penutupan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di sejumlah titik kota.
Peserta dialog menyampaikan dukungan terhadap program tersebut, namun juga memberikan sejumlah catatan penting, terutama terkait:
- Mekanisme pelaksanaan di lapangan
- Sosialisasi kebijakan kepada masyarakat
- Pengaturan iuran agar tetap adil dan tidak membebani warga
Diskusi yang berkembang menunjukkan bahwa meskipun arah kebijakan dinilai tepat, keberhasilan implementasi sangat bergantung pada kejelasan teknis dan transparansi.
Peran Akademisi dan Pakar Lingkungan
Pakar lingkungan dari Universitas Jambi, Prof. Ir. Rosyani, menilai bahwa kebijakan OPBM merupakan langkah positif dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.
Ia menekankan bahwa kunci keberhasilan program terletak pada partisipasi aktif masyarakat.
“Ini soal pilihan, mau lingkungan bersih atau kotor,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyoroti potensi ekonomi dari pengelolaan sampah, di mana pemilahan dan pemanfaatan limbah dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Kebersihan sebagai Tanggung Jawab Bersama
Salah satu benang merah yang menguat dari dialog ini adalah kesadaran kolektif bahwa persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan seluruh elemen masyarakat.
Kesepakatan ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan kebijakan, karena tanpa partisipasi publik, program sebaik apa pun berisiko tidak berjalan optimal.
Dengan adanya forum dialog seperti ini, pemerintah tidak hanya memperoleh masukan konstruktif, tetapi juga membangun legitimasi sosial atas kebijakan yang dijalankan.
Implikasi Lebih Luas: Kota Bersih sebagai Pilar Pembangunan
Upaya mewujudkan Kota Jambi yang bersih memiliki implikasi yang lebih luas dari sekadar aspek lingkungan. Kebersihan kota berkaitan erat dengan:
- Kesehatan masyarakat
- Kualitas hidup
- Daya tarik investasi dan pariwisata
- Stabilitas sosial
Dalam kerangka pembangunan jangka panjang, kota yang bersih dan tertata menjadi indikator penting keberhasilan tata kelola pemerintahan.
Kesimpulan
Dialog Publik Pengelolaan Sampah di Kota Jambi menegaskan satu hal: di tengah perbedaan pandangan, terdapat kesepakatan kuat bahwa kebersihan kota adalah tujuan bersama.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, transformasi pengelolaan sampah diharapkan tidak hanya menjadi kebijakan administratif, tetapi gerakan kolektif menuju kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.








