Menu

Mode Gelap
Ekspor ke Malaysia Masih Terbuka Lebar, Rumah BUMN Jambi Bekali 100 UMKM Strategi Go Global Pengurus GP Ansor Provinsi Jambi 2024-2028 Resmi Dilantik

BERITA

OPBM Terus Diperkuat, Langkah Nyata Transformasi Tata Kelola Persampahan di Kota Jambi

badge-check


					OPBM Terus Diperkuat, Langkah Nyata Transformasi Tata Kelola Persampahan di Kota Jambi Perbesar

Dari TPS Pinggir Jalan Menuju Sistem Jemput Sampah Rumah Tangga

JAMBI — Pemerintah Kota Jambi terus mempercepat transformasi tata kelola persampahan melalui penguatan program Operator Pengumpul Sampah Berbasis Masyarakat (OPBM). Langkah terbaru ditandai dengan peluncuran delapan unit armada OPBM di wilayah Kelurahan Paal Merah dan sekitarnya, yang dirangkaikan dengan penutupan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di kawasan Kebun Sayur, Kecamatan Paal Merah. Program ini menjadi bagian dari perubahan besar dalam sistem pengelolaan sampah yang selama ini bertumpu pada TPS terbuka menuju pola jemput sampah langsung dari rumah warga.

Peresmian dilakukan langsung oleh Wali Kota Jambi, Maulana, didampingi Wakil Wali Kota Diza Hazra Aljosha, bersama unsur Forkopimcam, camat, lurah, serta para ketua RT setempat. Delapan armada tersebut merupakan hasil pemanfaatan Program Kampung Bahagia yang diperkuat dengan dukungan gerobak motor (Germo), kendaraan swadaya masyarakat, dan fasilitas pendukung lainnya untuk melayani kawasan Paal Merah.

Bagi Pemerintah Kota Jambi, peluncuran armada baru ini bukan sekadar penambahan sarana operasional. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mengubah budaya pengelolaan sampah di tingkat masyarakat.

Mengapa Transformasi Tata Kelola Sampah Menjadi Mendesak?

Persoalan sampah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi kota-kota berkembang di Indonesia. Pertumbuhan penduduk, peningkatan aktivitas ekonomi, serta perubahan pola konsumsi masyarakat menyebabkan volume sampah terus meningkat dari tahun ke tahun.

Di Kota Jambi, persoalan tersebut semakin kompleks dengan munculnya TPS liar dan penumpukan sampah di sejumlah ruas jalan utama yang tidak hanya mengganggu estetika kota, tetapi juga berdampak pada kesehatan lingkungan dan aktivitas ekonomi masyarakat. Pemerintah Kota Jambi mencatat hampir 400 ton sampah masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Talang Gulo setiap harinya.

Dalam konteks itu, pendekatan lama yang hanya mengandalkan TPS dinilai tidak lagi memadai. Pemerintah daerah kemudian mendorong sistem baru yang menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dari solusi melalui OPBM.

OPBM: Membangun Sistem Pengelolaan Sampah dari Tingkat RT

Program Operator Pengumpul Sampah Berbasis Masyarakat dirancang untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih tertutup, terorganisasi, dan efisien. Melalui mekanisme ini, sampah tidak lagi dibuang ke TPS oleh warga, melainkan dijemput langsung dari rumah ke rumah oleh operator yang telah ditunjuk di lingkungan masing-masing.

Wali Kota Jambi Maulana menjelaskan bahwa keberadaan TPS Kebun Sayur yang ditutup sebelumnya telah menjadi sumber persoalan lingkungan selama bertahun-tahun.

“Di sini ada TPS liar yang cukup panjang, sekitar 70 meter yang kadang kala sampahnya berserakan hingga ke tengah jalan. Kita lakukan perubahan dan sudah disepakati bersama masyarakat untuk dilakukan penutupan,” ujar Maulana.

Menurutnya, ketika OPBM berjalan penuh, masyarakat tidak lagi diperkenankan membuang sampah ke TPS mana pun. Sampah akan diangkut langsung dari rumah warga menuju depo transfer sebelum diteruskan ke TPA Talang Gulo.

Pendekatan ini diharapkan mampu menghilangkan tumpukan sampah di ruang publik sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan tertata.

Tahap Berikutnya: Membangun Ekonomi Sirkular dari Sampah

Transformasi yang dilakukan Pemerintah Kota Jambi tidak berhenti pada pengangkutan sampah. Setelah implementasi OPBM mencapai cakupan penuh, pemerintah berencana memasuki tahap berikutnya, yakni pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga.

Konsep tersebut mengarah pada pembangunan ekonomi sirkular, di mana sampah yang memiliki nilai ekonomi akan dipilah dan dimanfaatkan kembali sehingga menghasilkan manfaat finansial bagi masyarakat.

Maulana menegaskan bahwa hasil pengelolaan sampah nantinya dapat digunakan untuk mendukung operasional armada, membiayai operator, bahkan berpotensi mengurangi atau menghilangkan biaya pengangkutan sampah yang selama ini ditanggung masyarakat.

Model tersebut sejalan dengan tren pengelolaan sampah modern yang tidak lagi memandang sampah sebagai limbah semata, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.

Dukungan Masyarakat Menjadi Faktor Penentu

Keberhasilan transformasi tata kelola persampahan tidak hanya ditentukan oleh armada dan kebijakan pemerintah. Partisipasi masyarakat menjadi faktor paling penting dalam memastikan sistem ini berjalan secara berkelanjutan.

Respons positif mulai terlihat dari warga yang selama ini terdampak langsung oleh keberadaan TPS liar. Nanik, seorang pelaku UMKM kuliner di kawasan Paal Merah, menyambut baik penutupan TPS Kebun Sayur karena selama ini bau tidak sedap dari tumpukan sampah mengganggu aktivitas usaha dan kenyamanan pelanggan.

Dukungan serupa juga datang dari berbagai ketua RT dan tokoh masyarakat yang menilai sistem OPBM mampu meningkatkan kesadaran warga terhadap tanggung jawab pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing.

Menuju Kota Jambi yang Bersih dan Berkelanjutan

Penguatan OPBM menjadi salah satu bagian penting dari Program Kampung Bahagia yang selama ini diusung Pemerintah Kota Jambi. Program tersebut menempatkan aspek kebersihan sebagai prioritas utama dalam mewujudkan Kota Jambi yang lebih nyaman, sehat, dan berkelanjutan.

Transformasi tata kelola persampahan yang sedang berlangsung menunjukkan perubahan paradigma yang signifikan. Jika sebelumnya sampah dipandang sebagai persoalan yang harus dibuang, kini pengelolaannya diarahkan menjadi tanggung jawab bersama yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan komunitas lokal.

Pada akhirnya, keberhasilan program OPBM tidak hanya akan diukur dari jumlah TPS yang ditutup atau armada yang diluncurkan. Ukuran keberhasilannya terletak pada perubahan perilaku masyarakat dan terciptanya sistem pengelolaan sampah yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

Di tengah berbagai tantangan perkotaan yang semakin kompleks, Kota Jambi sedang menunjukkan bahwa solusi terhadap persoalan lingkungan dapat dimulai dari tingkat paling dasar: lingkungan tempat warga tinggal. Dari sanalah transformasi besar sebuah kota sesungguhnya dimulai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lanjut Baco

Inklusif Berkarya, Rumah BUMN Jambi dan GERKATIN Latih 17 Teman Tuli Membuat Sabun Handmade

28 Juli 2026 - 08:04 WIB

GAPEMBI Provinsi Jambi Siap Sinergi Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis

26 Juli 2026 - 21:30 WIB

Bangun Kepercayaan Pelanggan, 17 UMKM Jambi Belajar Susun Company Profile Profesional

23 Juli 2026 - 09:18 WIB

Tingkatkan Kualitas Layanan, Kemenag Kota Jambi Gandeng BSI Gelar Capacity Building Petugas PTSP Menuju Service Excellence

17 Juli 2026 - 16:51 WIB

Pelaku Usaha Desa Mendalo Laut Belajar Legalitas dan AI Bersama Rumah BUMN Jambi

17 Juli 2026 - 03:00 WIB

#JambiBergerak BERITA