Koperasi di Persimpangan Perubahan
Di tengah perubahan ekonomi yang semakin cepat, koperasi di Kota Jambi dihadapkan pada tantangan klasik: bertahan atau bertransformasi.
Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, menegaskan bahwa koperasi tidak bisa lagi berjalan dengan cara lama. Dalam arahannya, ia mendorong seluruh koperasi untuk “naik kelas”—berkembang menjadi lembaga ekonomi yang adaptif, modern, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Peran Strategis dalam Ekonomi Rakyat
Menurut Diza, koperasi memiliki posisi penting sebagai salah satu pilar ekonomi masyarakat. Jika dikelola dengan baik, koperasi mampu:
- Memperkuat ekonomi lokal
- Meningkatkan kesejahteraan anggota
- Menjadi solusi pembiayaan bagi pelaku usaha kecil
Ia menekankan bahwa koperasi bukan sekadar wadah simpan pinjam, melainkan instrumen pemberdayaan ekonomi yang memiliki dampak luas.
Naik Kelas: Dari Konvensional ke Modern
Istilah “naik kelas” yang disampaikan Diza bukan tanpa makna. Ia merujuk pada transformasi menyeluruh yang harus dilakukan koperasi, meliputi:
1. Digitalisasi Layanan
Koperasi dituntut memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan pelayanan.
Digitalisasi dinilai mampu mempercepat akses informasi serta mempermudah transaksi anggota.
2. Peningkatan Kapasitas SDM
Pengurus koperasi harus memiliki kompetensi manajerial dan bisnis yang lebih kuat agar mampu bersaing di era modern.
3. Inovasi Model Usaha
Koperasi perlu mengembangkan unit usaha yang lebih produktif dan sesuai dengan kebutuhan pasar.
Tantangan Nyata di Lapangan
Meski jumlah koperasi di Kota Jambi cukup banyak, tidak semuanya aktif dan produktif. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah.
Banyak koperasi masih menghadapi kendala seperti:
- Manajemen yang belum profesional
- Minimnya pemanfaatan teknologi
- Keterbatasan akses pasar dan permodalan
Situasi ini memperkuat urgensi transformasi yang didorong oleh pemerintah.
Kolaborasi Jadi Kunci
Diza juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem koperasi. Pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, hingga komunitas harus bergerak bersama.
Pendekatan ini diharapkan mampu:
- Memperluas akses pembiayaan
- Meningkatkan daya saing produk lokal
- Mendorong koperasi terlibat dalam rantai ekonomi yang lebih luas
Dari Koperasi ke Ekonomi Berkelanjutan
Transformasi koperasi bukan sekadar tujuan jangka pendek. Ia menjadi bagian dari strategi besar pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan koperasi yang kuat, pemerintah berharap tercipta:
- Pertumbuhan ekonomi yang merata
- Pengurangan kesenjangan sosial
- Peningkatan kesejahteraan masyarakat
Kesimpulan: Adaptasi atau Tertinggal
Pesan yang disampaikan Wawako Diza jelas: koperasi harus berubah.
Di era digital dan kompetisi global, hanya koperasi yang mampu beradaptasi yang akan bertahan dan berkembang. Sementara yang tidak berubah, perlahan akan tertinggal.
Upaya “naik kelas” ini bukan sekadar slogan, tetapi kebutuhan mendesak agar koperasi tetap menjadi tulang punggung ekonomi rakyat di Kota Jambi.








