Peringatan Hari Kartini di Kota Jambi tahun ini tidak sekadar menjadi seremoni tahunan untuk mengenang perjuangan emansipasi perempuan. Di tengah berbagai tantangan sosial yang masih dihadapi kelompok rentan, momentum tersebut justru diarahkan untuk menyoroti isu yang kerap berada di pinggiran perhatian publik: pemberdayaan perempuan penyandang disabilitas.
Melalui kegiatan yang berlangsung di Aula Griya Mayang Rumah Dinas Wali Kota Jambi, Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Jambi, Sri Purwaningsih Maulana, menyampaikan komitmennya untuk mendorong keterlibatan perempuan disabilitas dalam ruang sosial, ekonomi, dan pembangunan daerah. Agenda itu menjadi bagian dari peringatan Hari Kartini 2025 yang mengusung semangat inklusivitas dan kesetaraan akses bagi seluruh perempuan tanpa terkecuali.

Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap isu inklusi sosial, langkah tersebut menempatkan Kota Jambi dalam diskursus yang lebih luas mengenai bagaimana pemerintah daerah dan organisasi perempuan mulai menggeser pendekatan simbolik menuju tindakan yang lebih substantif.
Hari Kartini dan Tantangan Kesetaraan yang Belum Selesai
Lebih dari satu abad sejak gagasan emansipasi perempuan diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini, persoalan kesenjangan akses bagi perempuan masih menjadi tantangan nyata, terutama bagi perempuan penyandang disabilitas.
Kelompok ini sering menghadapi lapisan hambatan yang berlapis—mulai dari akses pendidikan, pekerjaan, pelayanan publik, hingga keterlibatan sosial. Dalam konteks itulah, peringatan Hari Kartini di Kota Jambi diposisikan bukan hanya sebagai penghormatan historis, melainkan refleksi terhadap pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan.
Sri Purwaningsih Maulana menegaskan bahwa perempuan disabilitas memiliki hak dan peluang yang sama untuk berkembang. Menurutnya, dukungan terhadap kelompok tersebut perlu diwujudkan melalui pendekatan yang konkret dan berkelanjutan.
“Perempuan disabilitas harus mendapatkan ruang dan kesempatan yang sama untuk berkarya, mandiri, dan berpartisipasi dalam pembangunan,” ujarnya dalam kegiatan tersebut.
Pernyataan itu memperlihatkan adanya dorongan untuk memaknai kesetaraan gender secara lebih inklusif—tidak hanya berbicara tentang perempuan secara umum, tetapi juga memperhatikan kelompok yang selama ini kerap terpinggirkan dalam kebijakan sosial.
Komitmen GOW Kota Jambi terhadap Pemberdayaan Disabilitas
Dalam kegiatan tersebut, GOW Kota Jambi turut menghadirkan perempuan-perempuan penyandang disabilitas sebagai bagian dari ruang apresiasi dan pemberdayaan. Kegiatan diisi dengan berbagai agenda sosial yang bertujuan membangun rasa percaya diri sekaligus memperkuat partisipasi mereka di ruang publik.
Menurut Sri Purwaningsih, organisasi perempuan memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan tidak ada perempuan yang tertinggal dalam pembangunan. Ia menilai pendekatan inklusif harus dimulai dari lingkungan sosial paling dekat, termasuk keluarga dan komunitas.
“Mereka memiliki potensi luar biasa. Yang dibutuhkan adalah dukungan, perhatian, dan kesempatan,” katanya.
Pendekatan itu sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap konsep pembangunan inklusif di berbagai daerah di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, isu aksesibilitas dan pemberdayaan penyandang disabilitas mulai mendapat tempat dalam agenda kebijakan publik, meskipun implementasinya masih menghadapi tantangan struktural.
Inklusi Sosial Jadi Bagian Agenda Pembangunan Daerah
Pemerintah Kota Jambi sendiri dalam beberapa kesempatan menekankan pentingnya pembangunan berbasis kesejahteraan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Dukungan terhadap perempuan disabilitas dalam peringatan Hari Kartini menunjukkan bahwa isu inklusi sosial mulai menjadi bagian dari narasi pembangunan daerah.
Kehadiran berbagai organisasi perempuan dalam kegiatan tersebut juga mencerminkan semakin besarnya keterlibatan komunitas sipil dalam isu-isu sosial. Tidak lagi terbatas pada kegiatan seremonial, organisasi perempuan kini mulai mengambil peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun kesadaran sosial masyarakat.
Selain itu, kegiatan tersebut membawa pesan penting bahwa pemberdayaan perempuan tidak dapat dipisahkan dari akses terhadap pendidikan, pelatihan keterampilan, dan kesempatan ekonomi yang layak. Bagi perempuan disabilitas, akses tersebut sering kali menjadi tantangan paling mendasar.
Memaknai Kartini dalam Konteks Modern
Peringatan Hari Kartini di Kota Jambi tahun ini memperlihatkan pergeseran cara pandang terhadap makna emansipasi perempuan. Jika dahulu perjuangan Kartini identik dengan akses pendidikan bagi perempuan pribumi, maka tantangan hari ini bergerak ke arah yang lebih kompleks: bagaimana memastikan seluruh perempuan, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh kesempatan yang setara dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Momentum tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kesetaraan tidak hanya diukur dari hadirnya kebijakan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat membuka ruang partisipasi yang inklusif bagi kelompok rentan.
Di tengah transformasi sosial yang terus berlangsung, pesan yang muncul dari peringatan Hari Kartini di Kota Jambi terasa relevan: bahwa pembangunan yang berkeadilan hanya mungkin tercapai ketika seluruh warga, tanpa memandang kondisi fisik maupun sosialnya, memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan dihargai.








