Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap ketergantungan gadget pada anak-anak, Pemerintah Kota Jambi memilih pendekatan yang tidak lazim namun sarat makna: mengajak generasi muda turun langsung ke lahan pertanian. Bersama anggota Pramuka, pemerintah kota memulai gerakan edukatif yang memadukan aktivitas bertani, pembentukan karakter, dan pendidikan sosial sebagai cara membangun hubungan anak-anak dengan dunia nyata—bukan sekadar layar digital.
Program tersebut berlangsung dalam kegiatan perkemahan Pramuka yang digelar Pemerintah Kota Jambi melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. Dalam kegiatan itu, para peserta tidak hanya mengikuti aktivitas kepanduan, tetapi juga diperkenalkan pada praktik bercocok tanam dan pengelolaan pertanian sederhana.

Di era ketika penggunaan perangkat digital pada anak meningkat drastis pascapandemi, banyak pemerintah daerah di Indonesia mulai mencari pendekatan alternatif untuk menjaga keseimbangan tumbuh kembang generasi muda. Kota Jambi tampaknya memilih jalur yang lebih membumi: menghubungkan anak-anak kembali dengan alam, kerja kolektif, dan keterampilan hidup dasar.
Bertani Sebagai Pendidikan Karakter
Wali Kota Jambi, Maulana, menilai aktivitas pertanian memiliki nilai edukatif yang lebih luas dibanding sekadar menghasilkan pangan. Menurutnya, bertani mengajarkan disiplin, kesabaran, hingga rasa tanggung jawab—nilai-nilai yang dinilai mulai tergerus oleh budaya instan di era digital.
“Anak-anak harus dikenalkan dengan aktivitas produktif sejak dini agar tidak terus-menerus bergantung pada gadget,” ujar Maulana dalam keterangannya.
Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran yang kini dirasakan banyak orang tua dan pendidik. Ketergantungan terhadap telepon pintar dan media sosial tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik anak, tetapi juga kemampuan sosial dan emosional mereka.
Dalam kegiatan itu, para anggota Pramuka diajak mengenal proses menanam sayuran, mengelola media tanam, hingga memahami pentingnya ketahanan pangan keluarga. Aktivitas dilakukan secara interaktif agar anak-anak tidak sekadar menerima teori, melainkan mengalami langsung proses bercocok tanam.
Upaya Mengurangi Ketergantungan Gadget
Fenomena kecanduan gadget pada anak menjadi perhatian serius di berbagai daerah. Berdasarkan sejumlah penelitian nasional, penggunaan perangkat digital berlebihan pada anak dapat memengaruhi kualitas tidur, konsentrasi belajar, hingga interaksi sosial.
Pemerintah Kota Jambi melihat kondisi tersebut sebagai tantangan jangka panjang yang tidak cukup diselesaikan hanya melalui pembatasan penggunaan perangkat elektronik. Karena itu, pendekatan berbasis aktivitas nyata dianggap lebih efektif untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari dunia digital.
Melalui gerakan bertani bersama Pramuka, pemerintah mencoba menciptakan ruang interaksi sosial yang lebih sehat. Anak-anak diajak bergerak aktif, bekerja sama dalam kelompok, dan belajar memahami lingkungan sekitar mereka.
“Kegiatan seperti ini penting untuk membentuk generasi yang sehat, tangguh, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan,” kata Maulana.
Pramuka dan Revitalisasi Pendidikan Nonformal
Keterlibatan Pramuka dalam program ini juga memperlihatkan upaya revitalisasi pendidikan nonformal di tengah perubahan sosial yang cepat. Selama beberapa dekade, Pramuka dikenal sebagai wadah pembentukan karakter berbasis kedisiplinan, kepemimpinan, dan kerja sama.
Namun di era digital, organisasi kepanduan menghadapi tantangan baru: bagaimana tetap relevan bagi generasi muda yang tumbuh dalam budaya serba instan dan berbasis teknologi.
Pemerintah Kota Jambi tampaknya mencoba menjawab tantangan itu dengan menghadirkan kegiatan yang lebih kontekstual dan aplikatif. Bertani dipilih bukan hanya karena dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia, tetapi juga karena mampu membangun kesadaran ekologis sejak dini.
Di sisi lain, kegiatan tersebut juga memperkuat pesan mengenai pentingnya ketahanan pangan lokal. Dalam beberapa tahun terakhir, isu pangan menjadi perhatian global akibat perubahan iklim, krisis ekonomi, dan gangguan rantai distribusi.
Dengan mengenalkan pertanian kepada anak-anak, pemerintah berharap muncul generasi yang tidak asing terhadap sektor pangan dan lingkungan hidup.
Membangun Generasi yang Dekat dengan Alam
Bagi banyak anak perkotaan, pengalaman menyentuh tanah, menanam bibit, atau merawat tanaman kini menjadi sesuatu yang semakin jarang ditemui. Kehidupan modern telah memindahkan sebagian besar aktivitas mereka ke ruang digital.
Karena itu, program bertani bersama Pramuka di Kota Jambi menghadirkan pesan yang lebih besar daripada sekadar kegiatan luar ruang. Ia menjadi simbol perlawanan halus terhadap budaya digital yang terlalu dominan dalam kehidupan anak-anak.
Program tersebut juga menunjukkan bahwa solusi terhadap persoalan generasi muda tidak selalu harus berbasis teknologi baru. Dalam beberapa kasus, jawabannya justru terletak pada aktivitas sederhana yang selama ini mulai ditinggalkan.
Pemerintah Kota Jambi berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan di sekolah maupun komunitas masyarakat sebagai bagian dari gerakan membangun generasi yang sehat secara fisik, emosional, dan sosial.
Di tengah dunia yang semakin terhubung secara digital, Kota Jambi tampaknya ingin mengingatkan satu hal sederhana: masa depan generasi muda tidak hanya dibangun melalui teknologi, tetapi juga melalui kedekatan mereka dengan manusia lain, alam, dan kehidupan nyata.








