Di bawah kubah Masjid Raya Magat Sari, Pasar Jambi, gaung peringatan keagamaan menjelma menjadi sebuah diskursus tentang pembangunan karakter warga. Pada Jumat (16/1/2026), peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW tidak sekadar diisi dengan kilas balik historis perjalanan spiritual sang rasul, melainkan dikontekstualisasikan menjadi sebuah seruan moral bagi masyarakat urban. Wali Kota Jambi, Maulana, hadir dengan sebuah pesan sentral yang tajam: bahwa ketahanan sebuah kota di era modern tidak hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, tetapi sangat bergantung pada kualitas ibadah dan integritas spiritual warganya.
Bagi jajaran Pemerintah Kota Jambi, indikator kesejahteraan tidak semata-mata diukur melalui kurva ekonomi. “Kota Jambi Bahagia”—sebuah visi tata kelola pemerintahan yang tengah diusung—membutuhkan fondasi sosial yang stabil. Dalam kacamata sosiologis dan tata negara, stabilitas ini sering kali bermuara pada kerukunan umat beragama dan kualitas moral aparat serta warganya. Oleh karena itu, momentum Isra Mikraj menjadi panggung yang strategis bagi kepala daerah untuk mengkalibrasi ulang komitmen moral masyarakat, dengan menjadikan salat lima waktu sebagai instrumen utama pengendalian diri sekaligus perekat kohesi sosial.

Salat sebagai Jangkar Ketaqwaan dan Kedamaian Urban
Di hadapan para jemaah, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta perwakilan Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Jambi, Maulana memaparkan korelasi langsung antara kedisiplinan ibadah dengan ketertiban sosial.
“Kami mengajak umat muslim untuk menjaga dan meningkatkan kualitas salat, karena keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa menjadi dasar dalam mewujudkan Kota Jambi Bahagia,” tegas Maulana dalam sambutannya.
Ia memposisikan peringatan Isra Mikraj sebagai medium refleksi untuk mempertebal rasa syukur melalui zikir dan amal saleh. Lebih dari itu, Maulana menyadari bahwa kompleksitas tantangan yang dihadapi birokrasi membutuhkan dukungan doa dari masyarakat luas agar pemerintah selalu diberikan kebijaksanaan dalam melahirkan kebijakan publik.
“Kita harus menjaga keamanan dan kerukunan di Kota Jambi, agar kota ini menjadi tempat yang aman dan sejahtera bagi seluruh masyarakatnya,” tambahnya, merujuk pada pentingnya toleransi dan kedamaian komunal sebagai prasyarat utama pembangunan daerah.
Integritas Personal dalam Lanskap Keagamaan
Pandangan Wali Kota ini mendapatkan resonansi teologis dari Ustaz Abdullah Firdaus, yang bertindak sebagai penceramah utama dalam kegiatan tersebut. Ia mengurai makna filosofis di balik kewajiban ibadah yang dijemput langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa agung tersebut.
Menurut Abdullah Firdaus, ibadah ini bukanlah sekadar kewajiban ritualistis, melainkan sebuah metode pembentukan karakter. “Berbicara tentang salat berarti berbicara tentang komitmen dan integritas dalam menumbuhkan rasa ketergantungan seorang hamba kepada Allah,” tuturnya.
Ia lebih lanjut mengilustrasikan bagaimana konsistensi dalam menjaga ibadah akan berdampak langsung pada ketenangan psikologis seseorang di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Mengutip teladan Rasulullah, ia menegaskan bahwa bagi mereka yang memeliharanya, ibadah ini akan “menjadi cahaya dalam kegelapan,” yang dapat dimaknai sebagai panduan moral dalam mengambil keputusan hidup.
Menyulam Persaudaraan Melalui Peringatan Hari Besar
Pada akhirnya, perayaan Hari Besar Islam (PHBI) di Masjid Raya Magat Sari ini merefleksikan sebuah upaya sistematis untuk merawat nilai-nilai keislaman di tengah denyut nadi sebuah kota yang terus berkembang. Melalui sinergi antara ulama, umara (pemerintah), dan masyarakat, peringatan Isra Mikraj di Kota Jambi menjadi bukti bahwa narasi keagamaan dan visi pembangunan daerah dapat berjalan beriringan. Harapannya, kualitas ibadah vertikal yang semakin baik akan secara otomatis melahirkan kualitas hubungan horizontal antarwarga yang semakin harmonis, mengantarkan Jambi menuju era kesejahteraan yang komprehensif.








