Dari TPS Konvensional Menuju Sistem Berbasis Masyarakat
Pemerintah Kota Jambi secara bertahap menutup TPS yang selama ini kerap meluber hingga ke badan jalan, yang dinilai tidak hanya merusak estetika kota tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.
Wali Kota Jambi Maulana menegaskan bahwa pola lama pembuangan sampah tidak lagi mampu menjawab kebutuhan kota yang terus berkembang.

“TPS kini sudah tidak mampu lagi menampung volume sampah,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa kawasan tersebut akan ditata ulang menjadi ruang publik yang lebih bermanfaat.
Sebagai gantinya, sistem OPBM mengedepankan pengelolaan sampah dari sumbernya—rumah tangga—dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam proses pengumpulan dan pengangkutan.
Sampah Dijemput dari Rumah, Bukan Lagi Dibuang
Melalui OPBM, pengangkutan sampah dilakukan dari rumah ke rumah menggunakan armada seperti bentor atau gerobak motor, yang kemudian mengantarkan sampah ke depo atau fasilitas pengolahan.
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi pengangkutan, tetapi juga mengubah pola pikir masyarakat tentang sampah.
“Sampah bukan hanya dibuang, tapi harus dikelola,” tegas Wali Kota Maulana.
Model ini menempatkan warga sebagai aktor utama dalam sistem, bukan sekadar pengguna layanan.
Dukungan Masyarakat Jadi Fondasi Keberhasilan
Keberhasilan program OPBM sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat. Sejumlah ketua RT dan tokoh masyarakat menyatakan dukungannya terhadap implementasi program ini, yang dinilai mampu menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan tertata.
Di beberapa wilayah, armada pengangkut sampah berbasis komunitas bahkan telah beroperasi secara aktif, menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif ini mulai diterima dan dijalankan secara nyata.
Meski demikian, pemerintah menyadari bahwa perubahan sistem ini tidak sepenuhnya bebas dari tantangan. Respons beragam dari masyarakat menjadi bagian dari proses adaptasi menuju sistem baru yang lebih terstruktur.
Dari Beban Menjadi Nilai Ekonomi
Salah satu dimensi penting dalam program OPBM adalah upaya mengubah sampah menjadi sumber nilai ekonomi. Pemerintah Kota Jambi merencanakan tahap lanjutan berupa pemilahan sampah agar memiliki nilai jual.
Sampah yang memiliki nilai ekonomi akan dipilah dan dikelola, sehingga tidak hanya mengurangi beban pengelolaan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Konsep ini juga berpotensi mengurangi biaya pengangkutan sampah yang selama ini dibebankan kepada warga, bahkan memungkinkan layanan tersebut menjadi lebih murah atau gratis di masa depan.
Transformasi Sistem dan Perilaku Sekaligus
Program OPBM bukan sekadar inovasi teknis, melainkan transformasi menyeluruh yang mencakup sistem dan perilaku. Pemerintah Kota Jambi secara simultan melakukan penataan infrastruktur, seperti pembangunan depo transfer, serta edukasi kepada masyarakat.
Langkah ini diperkuat dengan penambahan armada pengangkut dan integrasi sistem yang lebih modern, termasuk pengembangan teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Dengan demikian, perubahan yang diupayakan tidak bersifat parsial, melainkan sistemik.
Menuju Kota yang Bersih, Nyaman, dan Berkelanjutan
Transformasi tata kelola sampah melalui OPBM menjadi bagian dari visi besar Pemerintah Kota Jambi dalam mewujudkan kota yang bersih, sehat, dan nyaman.
Program ini juga selaras dengan pendekatan pembangunan berbasis masyarakat yang menempatkan warga sebagai mitra aktif dalam pembangunan kota.
Wali Kota Maulana menegaskan bahwa keberhasilan program ini hanya dapat dicapai melalui kolaborasi semua pihak.
“Ini gerakan bersama… persoalan sampah adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Penutup
Dukungan masyarakat terhadap program OPBM menunjukkan bahwa transformasi tata kelola sampah di Kota Jambi bukan sekadar kebijakan pemerintah, melainkan gerakan kolektif.
Di tengah tantangan urbanisasi, pendekatan berbasis partisipasi ini menawarkan model baru pengelolaan kota—di mana keberlanjutan tidak hanya dibangun oleh sistem, tetapi juga oleh kesadaran dan keterlibatan warganya.








