Lonjakan Cakupan: Dari Ribuan ke Belasan Ribu Penerima
Data terbaru menunjukkan peningkatan signifikan dalam cakupan perlindungan. Hingga pertengahan 2026, sebanyak 15.740 pekerja rentan di Kota Jambi telah terdaftar dalam program jaminan sosial ketenagakerjaan—lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 7.080 orang.
Peningkatan ini menandai percepatan implementasi kebijakan sosial yang sebelumnya dimulai dengan cakupan terbatas. Dalam tahap awal, program hanya menyasar beberapa kelompok tertentu, namun kini telah diperluas secara signifikan.

Siapa yang Dilindungi? Dari RT hingga Petugas Keagamaan
Program ini secara khusus menyasar pekerja yang berada di sektor informal dan berisiko tinggi, yang selama ini kerap berada di luar jangkauan sistem perlindungan formal.
Kelompok penerima manfaat mencakup:
- Ketua dan sekretaris RT
- Petugas Operator Pengumpul Sampah Berbasis Masyarakat (OPBM)
- Petugas rumah ibadah
- Pekerja harian lepas
- Tenaga keagamaan
Seluruh iuran kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan bagi kelompok ini ditanggung penuh oleh pemerintah daerah, sehingga mereka tidak perlu membayar premi bulanan.
Manfaat Nyata: Perlindungan dari Risiko Ekonomi
Program ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi memberikan perlindungan konkret terhadap risiko kerja.
Peserta yang mengalami kecelakaan kerja mendapatkan jaminan biaya pengobatan hingga sembuh. Sementara itu, jika terjadi kematian, ahli waris berhak menerima santunan sebesar Rp42 juta.
Sejak Februari 2025 hingga Juni 2026, total manfaat yang telah disalurkan mencapai sekitar Rp3,46 miliar kepada puluhan penerima manfaat.
Wali Kota Jambi menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bentuk kehadiran negara dalam memberikan rasa aman bagi pekerja.
“Program ini merupakan wujud nyata komitmen Pemkot Jambi dalam memberikan perlindungan bagi masyarakat yang bekerja di sektor informal,” ujarnya.
Bagian dari Program “Kartu Bahagia” dan Strategi UHC
Perluasan jaminan sosial ini merupakan bagian dari program prioritas Kartu Bahagia, yang dirancang untuk memperkuat perlindungan sosial masyarakat secara menyeluruh.
Selain jaminan ketenagakerjaan, pemerintah juga memastikan bahwa masyarakat kurang mampu telah terfasilitasi dalam program jaminan kesehatan. Upaya ini selaras dengan target besar pemerintah daerah untuk mencapai Universal Health Coverage (UHC) 100 persen.
Pendekatan integratif ini menunjukkan bahwa perlindungan sosial tidak lagi dilihat secara parsial, melainkan sebagai ekosistem yang saling terhubung antara kesehatan, ketenagakerjaan, dan kesejahteraan masyarakat.
Dari Program Awal hingga Ekspansi Masif
Program ini bukanlah inisiatif yang muncul secara instan. Pada tahap awal tahun 2025, pemerintah hanya mampu menjangkau sekitar 3.000 pekerja rentan. Seiring waktu, jumlah tersebut meningkat melalui pendataan yang lebih akurat dan dukungan lintas sektor.
Pada 2026 saja, ribuan pekerja tambahan kembali difasilitasi, menunjukkan konsistensi pemerintah dalam memperluas cakupan perlindungan sosial secara bertahap namun berkelanjutan.
Implikasi Sosial: Mencegah Kerentanan Baru
Di tengah dinamika ekonomi, pekerja informal sering kali menjadi kelompok paling rentan terhadap guncangan, baik akibat kecelakaan kerja maupun kehilangan penghasilan. Tanpa perlindungan sosial, risiko tersebut dapat dengan cepat berubah menjadi kemiskinan baru.
Program ini hadir sebagai bantalan sosial (social safety net) yang tidak hanya melindungi individu, tetapi juga menjaga stabilitas ekonomi keluarga. Dengan demikian, dampaknya meluas hingga pada ketahanan sosial masyarakat secara keseluruhan.
Kesimpulan
Perluasan jaminan sosial bagi pekerja rentan di Kota Jambi mencerminkan transformasi kebijakan sosial yang semakin inklusif dan progresif. Dengan lebih dari 15.000 pekerja kini terlindungi, pemerintah daerah menunjukkan bahwa perlindungan sosial bukan sekadar program, melainkan investasi jangka panjang dalam kesejahteraan masyarakat.
Di tengah tantangan ekonomi yang terus berkembang, langkah ini menjadi fondasi penting dalam membangun kota yang tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga tangguh secara sosial.








