Perempuan Dinilai Menjadi Pilar Utama Keluarga dan Pembangunan Bangsa
JAMBI — Di tengah berbagai tantangan sosial dan perubahan yang berlangsung cepat pada era modern, peran perempuan semakin mendapat pengakuan sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan pembangunan bangsa. Dalam peringatan Hari Kartini ke-148 tingkat Kota Jambi, Wali Kota Jambi Maulana menegaskan bahwa perempuan, khususnya seorang ibu, memiliki posisi sentral dalam membentuk karakter generasi masa depan yang berkualitas.
Pernyataan tersebut disampaikan Maulana saat menghadiri peringatan Hari Kartini ke-148 yang digelar di Aula Griya Mayang, Rumah Dinas Wali Kota Jambi. Mengusung tema “Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi Menuju Indonesia Emas 2045”, kegiatan itu menjadi momentum refleksi atas perjuangan panjang Raden Ajeng Kartini sekaligus penguatan komitmen terhadap pemberdayaan perempuan di Kota Jambi.

Lebih dari sekadar seremoni tahunan, peringatan Hari Kartini tahun ini hadir pada saat Indonesia tengah mempersiapkan diri menghadapi bonus demografi dan target besar menuju Indonesia Emas 2045. Dalam konteks tersebut, kualitas generasi muda menjadi isu strategis yang tidak dapat dipisahkan dari peran perempuan sebagai pendidik pertama dalam lingkungan keluarga.
Peran Ibu Menentukan Karakter Generasi Bangsa
Menurut Maulana, peran perempuan dari waktu ke waktu terus mengalami perkembangan yang signifikan. Jika dahulu perempuan lebih banyak diidentikkan dengan urusan domestik, kini mereka berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan tanpa meninggalkan fungsi utamanya sebagai pembentuk karakter keluarga.
“Peranan ibu dari waktu ke waktu semakin meningkat. Salah satunya adalah bagaimana menjaga keluarga dan mendidik anak-anak sebagai generasi masa depan bangsa,” ujar Maulana dalam sambutannya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas pendidikan karakter yang diterima anak sejak usia dini di lingkungan keluarga.
Dalam pandangannya, sosok ibu memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan nilai-nilai moral, kedisiplinan, empati, dan tanggung jawab yang kelak menjadi fondasi kehidupan anak ketika dewasa.
“Peran wanita dalam mendidik anak sangat krusial, di samping peranannya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Karena pembentuk karakter utama adalah ibu-ibu,” tegasnya.
Hari Kartini dan Relevansinya di Era Modern
Emansipasi Tidak Lagi Sekadar Kesetaraan, tetapi Pemberdayaan
Lebih dari satu abad setelah gagasan emansipasi perempuan diperjuangkan oleh R.A. Kartini, tantangan yang dihadapi perempuan Indonesia mengalami perubahan yang signifikan. Jika pada masa Kartini fokus perjuangan berada pada akses pendidikan dan kesetaraan hak, saat ini perempuan dihadapkan pada tantangan yang lebih kompleks, mulai dari perkembangan teknologi hingga perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat.
Karena itu, Maulana menilai semangat Kartini tetap relevan untuk dijadikan inspirasi dalam menghadapi dinamika zaman.
Menurutnya, perempuan tidak hanya dituntut mampu berpartisipasi di ruang publik, tetapi juga menjadi fondasi utama dalam membangun keluarga yang sehat, harmonis, dan produktif.
“Perempuan memiliki peran besar, tidak hanya di ruang publik, tetapi juga dalam keluarga sebagai fondasi utama membangun generasi berkualitas,” ujarnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai program pembangunan keluarga yang selama ini dijalankan Pemerintah Kota Jambi, yang menempatkan keluarga sebagai titik awal lahirnya generasi unggul dan berdaya saing.
Perempuan Jambi Semakin Menunjukkan Kiprah Strategis
Dari Lingkungan Pemerintahan hingga Dunia Pendidikan
Dalam kesempatan itu, Maulana juga mengapresiasi meningkatnya partisipasi perempuan di berbagai sektor strategis di Kota Jambi. Ia menilai perempuan saat ini semakin banyak mengambil peran penting dalam bidang pemerintahan, pendidikan, kesehatan, hingga sektor ekonomi.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perjuangan kesetaraan yang diperjuangkan Kartini telah menghasilkan kemajuan nyata. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pencapaian tersebut tidak boleh membuat masyarakat lengah terhadap tantangan yang masih dihadapi perempuan, terutama terkait perlindungan anak, penguatan keluarga, dan adaptasi terhadap perkembangan teknologi digital.
Karena itu, penghormatan terhadap perempuan tidak cukup diwujudkan melalui peringatan simbolik semata, melainkan melalui kebijakan dan lingkungan sosial yang mendukung perempuan untuk berkembang secara optimal.
Kartini Masa Kini Harus Menjadi Cahaya dan Solusi
Pada kesempatan yang sama, Ketua TP PKK Kota Jambi, Nadiyah Maulana, mengajak perempuan untuk memaknai Hari Kartini sebagai momentum meningkatkan kapasitas diri dan memperluas kontribusi bagi masyarakat.
Menurutnya, perempuan masa kini harus mampu menjadi agen perubahan yang membawa solusi bagi berbagai persoalan sosial sekaligus tetap menjaga nilai-nilai keluarga.
“Ibu-ibu semua bertugas mendidik anak-anak kita untuk tumbuh menjadi anak yang baik dan berkarakter, menjadi motor penggerak dalam mendukung pembangunan di keluarga maupun lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Nadiyah juga menegaskan bahwa perempuan harus terus belajar, meningkatkan kemampuan, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai luhur sebagai perempuan Indonesia.
Menyongsong Indonesia Emas 2045 Melalui Keluarga Berkualitas
Peringatan Hari Kartini ke-148 di Kota Jambi pada akhirnya mengirimkan pesan yang lebih luas daripada sekadar mengenang sejarah. Momentum ini menjadi pengingat bahwa pembangunan bangsa sesungguhnya dimulai dari lingkungan keluarga, tempat karakter generasi masa depan dibentuk.
Di tengah cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045, perempuan memegang peran strategis sebagai pendidik, penggerak sosial, sekaligus agen pembangunan. Oleh karena itu, investasi terbaik bagi masa depan bangsa tidak hanya berupa pembangunan infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pemberdayaan perempuan dan penguatan institusi keluarga.
Seperti yang ditegaskan Wali Kota Maulana, keberhasilan membangun generasi berkualitas pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh kemampuan masyarakat dalam menghargai, memperkuat, dan mendukung peran perempuan di setiap lini kehidupan.








