Menu

Mode Gelap
Ekspor ke Malaysia Masih Terbuka Lebar, Rumah BUMN Jambi Bekali 100 UMKM Strategi Go Global Pengurus GP Ansor Provinsi Jambi 2024-2028 Resmi Dilantik

BERITA

Sedekah Bumi Kota Jambi: Ketika Tradisi Menjadi Instrumen Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Pangan

badge-check


					Sedekah Bumi Kota Jambi: Ketika Tradisi Menjadi Instrumen Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Pangan Perbesar

Merawat Warisan Leluhur di Tengah Arus Perubahan

JAMBI — Di tengah derasnya arus urbanisasi dan modernisasi yang perlahan menggeser berbagai tradisi lokal, Pemerintah Kota Jambi memilih langkah berbeda. Melalui penyelenggaraan Sedekah Bumi Kebun Bohok di Kelurahan Kenali Asam Bawah, Kecamatan Kota Baru, pemerintah daerah tidak hanya merawat warisan budaya masyarakat, tetapi juga menjadikannya sebagai instrumen penguatan ekonomi lokal dan ketahanan pangan.

Kegiatan yang digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kota Jambi dan 625 Tahun Tanah Pilih Pusako Batuah tersebut berlangsung meriah di Lapangan Bola Bohok FC. Ratusan warga memadati lokasi acara sejak pagi untuk mengikuti berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari arak-arakan hasil panen, doa syukur bersama, bazar UMKM, hingga Gerakan Pangan Murah (GPM).

Namun di balik kemeriahan itu, tersimpan pesan yang lebih besar: tradisi tidak harus menjadi artefak masa lalu. Ia dapat menjadi fondasi pembangunan masa depan.

Sedekah Bumi dan Relevansinya di Era Modern

Dalam banyak komunitas agraris Nusantara, Sedekah Bumi telah lama menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen sekaligus sarana mempererat hubungan sosial masyarakat. Tradisi serupa dapat ditemukan di berbagai daerah Indonesia, namun di Kebun Bohok, Kota Jambi, praktik tersebut berkembang menjadi sebuah agenda budaya yang memiliki dampak ekonomi nyata.

Arak-arakan hasil panen menjadi pusat perhatian dalam kegiatan tersebut. Warga membawa berbagai hasil bumi, mulai dari sayuran, buah-buahan, hingga hasil pertanian lainnya sebagai simbol keberlimpahan dan rasa syukur atas rezeki yang diperoleh.

Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, yang membuka kegiatan tersebut menilai Sedekah Bumi memiliki nilai strategis yang jauh melampaui fungsi seremonial.

“Kegiatan ini bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Selain itu, juga mendukung ketahanan pangan dan menggerakkan ekonomi masyarakat melalui UMKM serta Gerakan Pangan Murah,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan cara pandang baru terhadap pelestarian budaya. Tradisi tidak lagi diposisikan sebagai kegiatan simbolik semata, melainkan sebagai bagian dari strategi pembangunan daerah yang menyentuh berbagai sektor sekaligus.

Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal

Dari Ritual Syukur Menjadi Kesadaran Kolektif

Dalam beberapa tahun terakhir, isu ketahanan pangan menjadi perhatian utama berbagai daerah di Indonesia. Ketidakpastian ekonomi global, perubahan iklim, serta fluktuasi harga bahan pokok menuntut pemerintah mencari pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat.

Sedekah Bumi menjadi salah satu jawabannya.

Melalui tradisi ini, masyarakat diajak kembali mengingat pentingnya sektor pertanian sebagai penyangga kehidupan. Hasil bumi yang diarak dan dipamerkan bukan sekadar simbol budaya, melainkan representasi dari kekuatan pangan lokal yang perlu dijaga.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Jambi, Mariani Yanti, menegaskan bahwa Sedekah Bumi merupakan warisan budaya yang sarat makna dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

“Sedekah bumi ini merupakan warisan budaya yang sarat makna. Kita ingin menghidupkan kembali semangat gotong royong, rasa syukur atas hasil panen, serta mempererat silaturahmi masyarakat,” katanya.

Menurutnya, pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan penguatan sektor ekonomi dan pangan agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

UMKM Menjadi Bagian dari Perayaan Budaya

Ketika Tradisi Menggerakkan Roda Ekonomi

Salah satu aspek menarik dari penyelenggaraan Sedekah Bumi tahun ini adalah keterlibatan aktif pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Di sela-sela prosesi budaya, bazar UMKM menjadi ruang interaksi ekonomi yang hidup. Berbagai produk lokal dipasarkan kepada masyarakat yang hadir, menciptakan perputaran ekonomi yang memberi manfaat langsung bagi pelaku usaha.

Model seperti ini menunjukkan bahwa kegiatan budaya tidak harus berdiri terpisah dari aktivitas ekonomi. Sebaliknya, keduanya dapat saling memperkuat.

Pemerintah Kota Jambi melihat potensi besar dalam pengembangan tradisi sebagai daya tarik wisata budaya yang mampu menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Dengan pengelolaan yang tepat, Sedekah Bumi berpotensi masuk dalam kalender wisata daerah yang dapat menarik kunjungan wisatawan sekaligus memperluas pasar bagi produk lokal.

Bagian dari Program “Bahagia Berbudaya”

Penyelenggaraan Sedekah Bumi Kebun Bohok juga menjadi bagian dari program unggulan Pemerintah Kota Jambi yang dikenal dengan nama “Bahagia Berbudaya”.

Program tersebut dirancang untuk memperkuat identitas budaya lokal sembari meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan suatu daerah menjaga akar budayanya.

Tradisi Sedekah Bumi sendiri telah berlangsung sejak era 1980-an di kawasan Kebun Bohok. Selama lebih dari empat dekade, tradisi ini menjadi ruang pertemuan sosial yang memperkuat nilai gotong royong dan solidaritas masyarakat.

Kini, tradisi tersebut berkembang menjadi sebuah festival budaya yang memiliki dimensi sosial, ekonomi, dan edukatif.

Menjaga Warisan, Menyiapkan Masa Depan

Di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat, tantangan terbesar pelestarian budaya bukan sekadar mempertahankan ritual, melainkan menjaga relevansinya bagi generasi berikutnya.

Karena itu, Pemerintah Kota Jambi mengajak generasi muda untuk turut terlibat dalam menjaga keberlangsungan Sedekah Bumi agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak hilang ditelan waktu.

Dengan mengusung tema “Merawat Tradisi, Mempererat Silaturahmi, Meningkatkan Ketahanan Pangan, Menuju Kota Jambi Bahagia”, Sedekah Bumi Kebun Bohok menjadi contoh bagaimana budaya lokal dapat bertransformasi menjadi instrumen pembangunan yang inklusif.

Di Kota Jambi, tradisi tidak hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu. Ia sedang dibentuk menjadi fondasi masa depan—menghubungkan identitas budaya, ketahanan pangan, dan kesejahteraan ekonomi dalam satu gerakan yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lanjut Baco

Inklusif Berkarya, Rumah BUMN Jambi dan GERKATIN Latih 17 Teman Tuli Membuat Sabun Handmade

28 Juli 2026 - 08:04 WIB

GAPEMBI Provinsi Jambi Siap Sinergi Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis

26 Juli 2026 - 21:30 WIB

Bangun Kepercayaan Pelanggan, 17 UMKM Jambi Belajar Susun Company Profile Profesional

23 Juli 2026 - 09:18 WIB

Tingkatkan Kualitas Layanan, Kemenag Kota Jambi Gandeng BSI Gelar Capacity Building Petugas PTSP Menuju Service Excellence

17 Juli 2026 - 16:51 WIB

Pelaku Usaha Desa Mendalo Laut Belajar Legalitas dan AI Bersama Rumah BUMN Jambi

17 Juli 2026 - 03:00 WIB

#JambiBergerak BERITA