Menu

Mode Gelap
Ekspor ke Malaysia Masih Terbuka Lebar, Rumah BUMN Jambi Bekali 100 UMKM Strategi Go Global Pengurus GP Ansor Provinsi Jambi 2024-2028 Resmi Dilantik

BERITA

Selepas Empat Puluh Hari

badge-check

ng tua mereka meninggal, tidak ada satu pun yang melayat.

***

Kini, selepas empat puluh hari kematian kakek dan nenek, anak-anak mereka yang berganti menghubungiku. Ada beberapa kali panggilan telepon masuk yang kuangkat. Bukan menanyakan kabarku, melainkan tentang rumah besar yang kini kutempati sendiri.

“Kenapa kamu masih tinggal di rumah busuk itu?”

“Harusnya kamu juga menjual rumah itu seperti rumah tetangga-tetangga yang lain.”

“Buat apa kamu tinggal di rumah yang sepi tidak berguna begitu?”

Itu adalah perkataan dan pertanyaan yang mampir ke telingaku sepekan setelah orang tua mereka tiada dan puncaknya selepas empat puluh hari dengan narasi berbeda.

“Jual dong rumahnya, aku butuh uang banyak buat bayar tagihan ini-itu.”

“Aku punya hak atas rumah itu. Jual saja, nanti kita bagi-bagi uang hasil penjualannya.”

“Bisa tidak sih kamu cepat jual rumah itu? Aku muak dengan semua kenangan di dalamnya.”

Aku hanya diam, tidak kujawab perkataan atau pertanyaan mereka. Kulafalkan istighfar, berharap mereka cepat sadar dengan ucapan-ucapan itu.

***

“Jadi kapan Masnya mau jual rumah ini?” Seorang utusan pengembang datang ke rumah saat hari beranjak malam. Aku terdiam. Teringat selepas empat puluh hari, ia sudah tiga kali datang ke rumah besar yang kutinggali sendiri ini. Kali ini dengan membawa koper besar ke rumah besar.

Aku mendesah perlahan. Mulut ini kubuka pelan-pelan. Mengeluarkan kalimat yang sebenarnya tidak mau kukatakan. Terbata-bata aku mengatakan sesuatu yang ingin didengarnya. Ia tersenyum. Membuka koper besar, menyodorkan dokumen dan beberapa uang sebagai tanda pembayaran di muka. Aku kembali mendesah. Kuambil pulpen yang disodorkannya, menandatangani dokumen. Uang pun berpindah tangan kepadaku. Selesai sudah, ia bergegas pergi.

Anak-anak orang tua yang kupanggil kakek dan nenek langsung pulang ke rumah besar yang kini kutinggali sendiri begitu kukabari berita yang sudah lama ingin mereka dengar. Mereka datang membawa wajah-wajah ceria. Bukan menemuiku, tapi umtuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

“Ingat, bagianku paling besar karena aku laki-laki dan anak pertama. Selanjutnya kamu, kamu, kamu, dan kamu.” Anak tertua menunjuk satu per satu saudaranya.

“Yang terakhir, kamu. Bagianmu yang paling kecil. Kamu paham kan kenapa?” Aku mengangguk pelan.

“Motor butut itu juga jadi milikku sekarang. Mau aku jual. Lumayan buat nambal cicilan mobil.” Anak kakek yang paling bungsu menambahkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lanjut Baco

Inklusif Berkarya, Rumah BUMN Jambi dan GERKATIN Latih 17 Teman Tuli Membuat Sabun Handmade

28 Juli 2026 - 08:04 WIB

GAPEMBI Provinsi Jambi Siap Sinergi Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis

26 Juli 2026 - 21:30 WIB

Bangun Kepercayaan Pelanggan, 17 UMKM Jambi Belajar Susun Company Profile Profesional

23 Juli 2026 - 09:18 WIB

Tingkatkan Kualitas Layanan, Kemenag Kota Jambi Gandeng BSI Gelar Capacity Building Petugas PTSP Menuju Service Excellence

17 Juli 2026 - 16:51 WIB

Pelaku Usaha Desa Mendalo Laut Belajar Legalitas dan AI Bersama Rumah BUMN Jambi

17 Juli 2026 - 03:00 WIB

#JambiBergerak BERITA