Pemerintah Hadir di Tengah Musibah yang Menimpa Warga
JAMBI — Di tengah kesedihan mendalam yang menyelimuti keluarga almarhum Muhammad Rafasya Aditya, bocah berusia tujuh tahun yang meninggal akibat terseret arus drainase saat hujan deras, Pemerintah Kota Jambi menunjukkan respons kemanusiaannya. Wali Kota Jambi, Maulana, mendatangi langsung rumah duka dan menyerahkan santunan kepada keluarga korban sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap warganya yang tertimpa musibah.
Kunjungan tersebut berlangsung di kediaman keluarga korban di RT 24, Kelurahan Lingkar Selatan, Kecamatan Paal Merah. Selain menyampaikan belasungkawa, Wali Kota juga menyerahkan bantuan yang diharapkan dapat meringankan beban keluarga yang tengah berduka. Dalam kesempatan itu, ia didampingi jajaran pemerintah daerah serta unsur terkait, termasuk Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Jambi.

Tragedi yang Menggugah Perhatian Publik
Peristiwa yang merenggut nyawa Rafasya terjadi pada Rabu sore, 20 Mei 2026. Saat itu, korban diketahui sedang bermain bersama teman-teman sebayanya di tengah hujan deras yang mengguyur kawasan Paal Merah. Arus air yang meluap di saluran drainase menjadi petaka ketika bocah tersebut terseret dan hilang terbawa aliran air.
Upaya pencarian yang dilakukan oleh tim SAR gabungan bersama warga berlangsung sepanjang malam. Setelah penyisiran intensif yang melelahkan, korban akhirnya ditemukan pada keesokan harinya di sepanjang jalur gorong-gorong. Namun, harapan keluarga pupus setelah Rafasya ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.
Tragedi ini kembali mengingatkan masyarakat akan risiko yang mengintai anak-anak di tengah cuaca ekstrem dan infrastruktur drainase yang mengalami peningkatan debit air secara drastis saat hujan deras.
Santunan sebagai Bentuk Kehadiran Negara
Dalam sambutannya di rumah duka, Maulana menegaskan bahwa kehadiran pemerintah tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui perhatian langsung kepada masyarakat yang sedang mengalami musibah.
“Kami beserta OPD terkait datang ke sini sebagai bentuk perhatian Pemerintah Kota Jambi serta memberikan bantuan untuk sekadar meringankan beban kepada keluarga yang ditinggalkan. Mudah-mudahan dapat sedikit membantu,” ujar Maulana.
Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah akan terus mengupayakan berbagai bentuk bantuan lanjutan sesuai dengan kebijakan dan mekanisme yang berlaku. Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa perlindungan sosial dan respons kebencanaan menjadi bagian penting dalam tata kelola pemerintahan daerah.
Langkah ini sejalan dengan berbagai program bantuan sosial yang sebelumnya telah dijalankan Pemerintah Kota Jambi terhadap korban bencana maupun keluarga yang terdampak musibah lainnya.
Peringatan Serius bagi Orang Tua di Tengah Cuaca Ekstrem
Pengawasan Anak Menjadi Kunci Pencegahan
Di balik penyerahan santunan tersebut, terselip pesan yang lebih luas bagi masyarakat Kota Jambi. Maulana menyoroti pentingnya peran orang tua dalam mengawasi aktivitas anak-anak, terutama ketika hujan deras mengguyur dan saluran drainase mengalami peningkatan arus yang berpotensi membahayakan.
Menurutnya, kejadian yang menimpa Rafasya seharusnya menjadi pelajaran bersama agar anak-anak tidak dibiarkan bermain di sekitar aliran air, sungai, maupun drainase ketika kondisi cuaca sedang tidak bersahabat.
“Ini juga menjadi perhatian kepada warga di Kota Jambi lainnya untuk dapat mencegah anak-anaknya bermain di aliran air atau sungai mengingat curah hujan yang tinggi. Kita harapkan tidak terjadi hal-hal seperti ini lagi,” kata Maulana.
Imbauan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam beberapa bulan terakhir, Pemerintah Kota Jambi berulang kali mengingatkan masyarakat mengenai meningkatnya risiko kecelakaan yang melibatkan anak-anak akibat cuaca ekstrem dan luapan arus air. Pemerintah bahkan telah menjadikan edukasi keselamatan anak sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana di tingkat masyarakat.
Duka yang Menjadi Refleksi Bersama
Kehilangan seorang anak selalu meninggalkan luka yang mendalam bagi keluarga. Namun, tragedi yang menimpa Rafasya juga menghadirkan refleksi yang lebih luas tentang pentingnya keselamatan anak di ruang publik, terutama saat musim hujan dan cuaca ekstrem semakin sering terjadi.
Kunjungan Wali Kota Jambi ke rumah duka bukan sekadar seremoni penyerahan bantuan. Di balik santunan yang diberikan, terdapat pesan bahwa pemerintah berupaya hadir di saat masyarakat menghadapi masa-masa tersulit. Pada saat yang sama, tragedi ini menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap anak memerlukan kolaborasi antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah.
Di tengah duka yang masih menyelimuti keluarga Rafasya, harapan terbesar yang tersisa adalah agar peristiwa serupa tidak kembali terulang, dan kesadaran kolektif tentang pentingnya pengawasan anak dapat tumbuh lebih kuat di seluruh penjuru Kota Jambi.








