Jambi, 23 Juni 2025 — Rumah BUMN Jambi kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong partisipasi aktif komunitas dalam isu lingkungan dan penanggulangan bencana. Melalui kegiatan bertajuk “Merangkai Aksi Mitigasi Bencana yang Adil & Inklusif,” Rumah BUMN berkolaborasi dengan komunitas GoGreen Jambi dan menghadirkan narasumber ahli lingkungan dari Absaruna, Waliyah Lestari, untuk menggugah kesadaran publik terhadap pentingnya aksi kolektif yang adil, kreatif, dan inklusif.
Acara ini secara resmi dibuka oleh CEO Rumah BUMN Jambi, Deko Sanjaya, yang menyampaikan apresiasi terhadap keterlibatan aktif anak muda dan komunitas lingkungan. Dalam sambutannya, Deko menegaskan bahwa “perubahan besar bisa dimulai dari hal kecil di lingkungan sekitar. Kita tidak perlu menunggu bencana datang baru bergerak. Edukasi seperti ini adalah bagian dari mitigasi berbasis komunitas.”

Salah satu agenda menarik dari kegiatan ini adalah pelatihan pembuatan ronce dari sampah, yang diikuti antusias oleh para anggota komunitas GoGreen. Sampah plastik, kain perca, dan bahan bekas lainnya disulap menjadi gelang warna-warni yang tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga mengandung pesan simbolik: bahwa dari sampah pun bisa lahir harapan dan solusi.
“Selama ini kita sering melihat sampah sebagai masalah. Tapi hari ini kita belajar bahwa dengan kreativitas dan kolaborasi, sampah bisa menjadi media edukasi bahkan sumber ekonomi alternatif,” ujar Fitri Amalia, salah satu peserta dari Komunitas GoGreen.
Dalam sesi diskusi interaktif, Waliyah Lestari, aktivis lingkungan dan sebagai manager Pundi Sumatera, mengajak peserta melihat persoalan mitigasi dari sudut pandang keadilan sosial. Ia menyampaikan bahwa kelompok masyarakat yang paling rentan, seperti perempuan, anak, lansia, penyandang disabilitas, dan masyarakat adat, sering kali menjadi korban ganda dalam situasi bencana.
“Kita tidak hanya butuh sistem peringatan dini, tapi juga sistem partisipasi dini,” tegas Waliyah. “Kita perlu memastikan bahwa kelompok rentan tidak hanya menjadi objek bantuan, tetapi menjadi subjek dari setiap kebijakan mitigasi.”
Ia juga menekankan bahwa pendidikan lingkungan harus dimulai dari akar rumput, dan kegiatan seperti ini sangat relevan untuk membangun sense of ownership komunitas terhadap lingkungannya.
Selain edukasi praktis dan diskusi kritis, acara ini juga menghasilkan komitmen bersama antara peserta dan fasilitator untuk melanjutkan gerakan lingkungan berbasis komunitas. Rumah BUMN Jambi akan mendorong keberlanjutan program dengan membuka ruang kolaborasi bagi komunitas kreatif untuk mengembangkan produk daur ulang, serta membuka peluang pendampingan UMKM berbasis lingkungan.
Di akhir acara, CEO Rumah BUMN Jambi Deko Sanjaya menyampaikan harapannya, “Kami ingin Rumah BUMN menjadi rumah ide, rumah aksi, dan rumah kolaborasi. Hari ini bukan akhir, tapi awal dari rangkaian gerakan yang bisa menjangkau lebih banyak komunitas.”
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa mitigasi bencana dapat dirangkai melalui aksi-aksi sederhana namun bermakna, berbasis komunitas, inklusif, dan penuh nilai kolaborasi. Lewat gelang dari sampah, suara keadilan dan harapan terus disuarakan.








