Menu

Mode Gelap
Pengurus GP Ansor Provinsi Jambi 2024-2028 Resmi Dilantik

BERITA

Mengubah Zakat Menjadi Mesin Ekonomi: Pemkot Jambi dan Baznas RI Resmikan ‘Z Corner’ di Taman Banjuran Budayo

badge-check


					Mengubah Zakat Menjadi Mesin Ekonomi: Pemkot Jambi dan Baznas RI Resmikan ‘Z Corner’ di Taman Banjuran Budayo Perbesar

JAMBI — Dalam paradigma tata kelola perkotaan modern, filantropi keagamaan tidak lagi sekadar tentang mendistribusikan dana amal secara konsumtif. Ia telah berevolusi menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi yang sistematis. Transformasi ini terlihat jelas di Taman Banjuran Budayo, Kota Jambi, pada Senin sore (2/3/2026), ketika Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI secara resmi meluncurkan program Z Corner.

Dihadiri langsung oleh Ketua Baznas RI Prof. Dr. KH. Noor Achmad, M.A., Gubernur Jambi Al Haris, serta Wali Kota Jambi Maulana beserta jajaran eksekutif dan legislatif kota, acara ini jauh dari sekadar seremoni pemotongan pita. Z Corner merupakan sebuah intervensi ekonomi yang terukur, dirancang untuk menekan angka kemiskinan urban dengan menyuntikkan modal dan menyediakan ruang niaga strategis bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Pemilihan Kota Jambi sebagai episentrum peluncuran tingkat nasional ini didasari oleh sebuah metrik yang mengejutkan: Z Corner di kota ini berhasil mencatatkan rekor omzet tertinggi di seluruh Indonesia.

Kalkulasi Ekonomi di Balik Ruang Publik

Keberhasilan Z Corner tidak terlepas dari kejelian pemerintah daerah dalam memetakan ruang publik. Taman Banjuran Budayo, yang awalnya berfungsi murni sebagai ruang terbuka hijau, kini diinkubasi menjadi pusat perputaran ekonomi yang mempertemukan pariwisata, kuliner lokal, dan syiar agama (dakwah).

Ketua Baznas RI, Noor Achmad, membedah filosofi di balik inisiatif ini. “Dimana ada kerumunan, maka di situ pasti ada potensi. Kita mencoba untuk mendekatkan potensi pemberdayaan masyarakat yang memang sangat dibutuhkan,” urainya secara analitis.

Data di lapangan mengonfirmasi tesis tersebut. Saat ini, terdapat 15 tenant kuliner yang beroperasi di Z Corner dengan strategi diferensiasi produk untuk mencegah kanibalisme pasar antarpedagang. Hasilnya sangat signifikan; akumulasi omzet keseluruhan telah menyentuh angka hampir Rp360 juta. Jika dirata-ratakan, setiap pelaku UMKM di kawasan tersebut mampu mengantongi pendapatan sekitar Rp8 juta per bulan—sebuah angka yang sangat krusial bagi ketahanan ekonomi kelas menengah ke bawah.

Visi Tata Ruang dan Ekspansi Bisnis Mikro

Bagi Wali Kota Jambi, Maulana, kesuksesan di Taman Banjuran Budayo hanyalah cetak biru awal. Selaku kepala daerah, ia melihat momentum ini sebagai fondasi untuk mereplikasi model ekonomi serupa ke berbagai sudut strategis kota.

“Kami atas nama Pemerintah Kota Jambi berterima kasih atas dipilihnya Kota Jambi sebagai tempat launching secara nasional,” ujar Maulana. Lebih lanjut, ia memaparkan proyeksi ambisiusnya untuk menggandeng Baznas RI dalam pengembangan kawasan ekonomi baru, termasuk di Terminal Rawasari (Rumah Milenial), Kampung Batik di Ulu Gedong, hingga pembenahan kawasan komersial Ancol Jambi.

Keyakinan Maulana didukung oleh tren positif di lokasi lain. Ia mengungkapkan bahwa sentra UMKM di kawasan Terminal Rawasari yang dikelola bersama Wakil Wali Kota Diza Hazra Aljosha—bertepatan dengan momen Pasar Bedug Ramadan—berhasil meraup omzet hingga Rp3,5 miliar hanya dalam kurun waktu 11 hari dengan melibatkan lebih dari 100 tenant.

“Kota Jambi adalah wajah dari Provinsi Jambi, maka kita akan selalu menata kota ini untuk menggerakkan ekonomi masyarakat,” tegas Maulana, merefleksikan pentingnya estetika kota yang berbanding lurus dengan utilitas ekonominya.

Sinergi Filantropi dan Ketahanan Sosial

Di luar narasi komersial, kolaborasi antara Pemkot Jambi dan Baznas RI juga menyentuh aspek ketahanan sosial yang paling dasar. Gubernur Jambi, Al Haris, yang turut menyaksikan peluncuran tersebut, menyoroti bahwa sinergi ini melampaui urusan UMKM semata. Dana zakat dari para muzakki juga dialokasikan secara presisi untuk program bedah rumah—di mana 11 dari target 50 rumah tak layak huni di Jambi telah selesai direnovasi dan diserahterimakan kuncinya.

Pada akhirnya, peluncuran Z Corner di Taman Banjuran Budayo menawarkan sebuah studi kasus yang menarik bagi kota-kota lain di Indonesia. Program ini membuktikan bahwa ketika kewajiban religius (zakat) dikelola dengan transparansi dan dipadukan dengan tata ruang kota yang cerdas, ia mampu bertransformasi menjadi mesin ekonomi yang kuat, mengangkat derajat UMKM, dan menciptakan kemandirian sosial yang sejati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lanjut Baco

Investasi Manusia di Kota Jambi: Menakar Strategi Ekonomi Menekan Angka Anak Tidak Sekolah

26 Mei 2026 - 12:27 WIB

Mengurai Sengkarut Agraria Muaro Jambi: Jejak Laporan Penyerobotan Lahan Gambut Jaya Terungkap

25 Mei 2026 - 01:36 WIB

Jika Surat Rekomendasi Cacat, Mengapa Hanya 105 yang Dipersoalkan?”: Pemilik SHM Gambut Jaya Tuntut Asas Persamaan di Depan Hukum

22 Mei 2026 - 20:01 WIB

Gerakan Kemanusiaan BOLONG Jadi Bukti Kepedulian Anak Muda Bungo untuk Sesama

21 Mei 2026 - 06:51 WIB

Kota Jambi Mengubah Wajah Pengelolaan Sampah melalui Reformasi Berbasis Lingkungan

21 Mei 2026 - 03:35 WIB

#JambiBergerak BERITA