JAMBI — Menjelang perayaan Idul Fitri, beban inflasi kebutuhan pokok kerap kali menjadi ujian terberat bagi ketahanan ekonomi masyarakat urban kelas bawah. Dalam lanskap ini, ketika anggaran jaring pengaman sosial pemerintah memiliki keterbatasan, inisiatif filantropi dari sektor privat sering kali muncul sebagai katup penyelamat yang krusial. Pemotretan ideal dari sinergi sosio-ekonomi ini tergambar jelas di Taman Wisata Donorejo, Kelurahan Wijaya Pura, Kecamatan Jambi Selatan, pada Senin (2/3/2026).
Siang itu, ribuan warga memadati kawasan wisata tersebut bukan untuk berekreasi, melainkan untuk menerima penyaluran 13.000 paket bantuan sosial. Menariknya, operasi logistik berskala masif ini tidak dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan bersumber dari zakat personal seorang pengusaha lokal sekaligus pemilik Taman Wisata Donorejo, H. Muhammad Sandi.

Kehadiran Wali Kota Jambi, Dr. dr. H. Maulana, M.K.M., bersama Ketua TP PKK Dr. dr. Hj. Nadiyah, Sp.OG., dan Wakil Wali Kota Diza Hazra Aljosha, S.E., M.A., memberikan legitimasi institusional yang kuat terhadap acara tersebut. Kehadiran para pimpinan eksekutif kota ini menggarisbawahi sebuah pesan kebijakan: pemerintah daerah secara aktif merangkul dan mendukung setiap inisiatif warga sipil yang berkontribusi pada penekanan angka kemiskinan.
Sinergi Filantropi dan Visi Pemerintah Daerah
Bantuan yang didistribusikan pada tahun ini mencatatkan lonjakan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, naik dari 9.000 menjadi 13.000 paket. Rinciannya mencakup 12.000 paket bahan kebutuhan pokok (sembako) seperti beras, tepung, dan mi instan, serta 1.000 paket perlengkapan sekolah yang didedikasikan khusus bagi anak yatim dan pelajar dari keluarga prasejahtera.
Wali Kota Maulana melihat manuver filantropi ini sebagai cerminan dari ekosistem sosial yang sehat, di mana warga yang memiliki privilese ekonomi mengambil peran tanggung jawab langsung terhadap komunitasnya.
“Tentunya kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas nama Pemkot Jambi, karena kami memang mengajak bagi siapapun yang memiliki kemampuan untuk sama-sama membantu saudara-saudara kurang mampu,” urai Maulana. Ia menambahkan bahwa gerakan semacam ini beresonansi sempurna dengan program rutin Pemkot Jambi yang selalu mengalokasikan bantuan logistik pada setiap peringatan hari besar keagamaan.
Sebagai bentuk intervensi positif dari negara untuk merangsang tumbuhnya lebih banyak donatur swasta, Maulana menjanjikan rekognisi formal bagi H. Sandi. “Kami akan undang secara khusus pada saat sidang Paripurna Istimewa HUT Kota Jambi, akan kami berikan penghargaan atas kepeduliannya,” janjinya.
Inklusivitas Sosial di Balik Distribusi Ribuan Paket
Satu aspek yang membuat penyaluran zakat ini menonjol dalam kacamata sosiologis adalah pendekatan distribusinya yang buta warna terhadap sekat-sekat primodial. Dari total 13.000 paket yang disiapkan, H. Sandi mengalokasikan 3.000 paket secara khusus untuk warga lintas agama (non-Muslim), sementara 10.000 lainnya didistribusikan bagi umat Muslim.
Keputusan untuk merangkul lintas keyakinan dalam sebuah kerangka ibadah (zakat) menunjukkan kedewasaan toleransi sosial di Kota Jambi. Radius distribusinya pun tidak eksklusif di dalam garis administratif kota, melainkan menyentuh area perbatasan hingga Kabupaten Muaro Jambi.
Bagi H. Sandi, operasi sosial yang dikelolanya selama enam hari berturut-turut ini bukan sekadar urusan matematika kerugian atau keuntungan bisnis. “Kami dapat membantu saudara-saudari kita sekalian yang kekurangan ekonomi. Ketahuilah sebenarnya sedekah yang mengantarkan saya selama ini,” tuturnya singkat, merefleksikan filosofi ekonomi spiritual yang ia yakini.
Pada akhirnya, apa yang terjadi di Taman Wisata Donorejo memberikan sebuah preseden penting bagi kota-kota lain. Ketika arsitektur kebijakan publik dari pemerintah (Pemkot Jambi) berhasil diharmonisasikan dengan kedermawanan akar rumput, sebuah kota tidak hanya akan bertahan menghadapi tekanan ekonomi musiman, tetapi juga tumbuh menjadi ruang hidup yang lebih empatik dan inklusif.








