Menu

Mode Gelap
Pengurus GP Ansor Provinsi Jambi 2024-2028 Resmi Dilantik

BERITA

Menembus Sekat Birokrasi: Bagaimana Wawako Jambi Menjadikan Safari Ramadan sebagai Medium Kohesi Sosial

badge-check


					Menembus Sekat Birokrasi: Bagaimana Wawako Jambi Menjadikan Safari Ramadan sebagai Medium Kohesi Sosial Perbesar

JAMBI — Di tengah modernisasi dan kompleksitas tata kelola birokrasi perkotaan, momen keagamaan sering kali menjadi satu-satunya jembatan organik yang tersisa untuk menghubungkan para pembuat kebijakan dengan masyarakat di tingkat akar rumput. Kesadaran akan pentingnya sentuhan langsung inilah yang mendasari langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi dalam merancang agenda Safari Ramadan 1447 Hijriah.

Menggeser sorotan dari pusat kota yang gemerlap ke sudut-sudut permukiman warga, agenda ini membuktikan bahwa kehadiran negara tidak selalu harus diukur dari kemegahan infrastruktur berskala besar, melainkan dari kedekatan emosional pemimpinnya. Pada Jumat malam (6/3/2026), Wakil Wali Kota (Wawako) Jambi, Diza Hazra Aljosha, S.E., M.A., memanifestasikan hal tersebut dengan menyambangi warga di kawasan historis kota.

Didampingi oleh Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Jambi, Marsha Lystia, S.E., B.Com., kunjungan Diza dipusatkan di Langgar Hijau, yang berlokasi di Jalan Temenggung Jakfar, RT 04 Kelurahan Tahtul Yaman, Kecamatan Pelayangan. Rangkaian kegiatan komunal ini diawali dengan agenda berbuka puasa bersama di kantor Kecamatan Pelayangan, sebelum akhirnya bergeser untuk menunaikan salat Isya dan Tarawih berjamaah bersama warga setempat.

Meruntuhkan Hierarki Melalui Silaturahmi

Dalam kacamata sosiologi politik, kunjungan seorang kepala daerah ke sebuah langgar—istilah lokal untuk musala atau tempat ibadah berskala kecil—memiliki simbolisme yang kuat. Hal ini meruntuhkan hierarki protokoler dan menempatkan pejabat publik sejajar dengan warganya.

Dalam sambutannya usai menunaikan ibadah, Diza mengartikulasikan bahwa Safari Ramadan adalah medium krusial untuk memelihara kohesi sosial kota. Bagi Diza, silaturahmi bukan sekadar dogma teologis, melainkan instrumen perekat masyarakat.

“Kita semua sudah mengetahui bahwa silaturahmi itu hukumnya wajib. Tentunya kami ingin mendapatkan pahala dan rida, begitupun masyarakat di sini pun ingin mendapatkan pahala yang sama dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujar Diza di hadapan para jemaah.

Ia lebih lanjut menekankan sebuah filosofi kesetaraan ruang publik. Menurutnya, esensi dari bersilaturahmi melampaui sekat-sekat arsitektural. Tidak ada pembeda esensial apakah ibadah tersebut dilakukan di bawah kubah masjid agung yang megah atau di balik dinding kayu sebuah langgar di pelosok kelurahan. Yang menjadi titik berat adalah substansi kebersamaannya.

“Saya senang sekali bisa berada di sini, salat di sini, bertemu dengan sebagian teman-teman yang belum pernah ketemu,” tuturnya dengan nada reflektif, menegaskan komitmennya untuk menjangkau kelompok demografi yang mungkin jarang tersentuh oleh seremonial resmi pemerintahan.

Intervensi Fiskal untuk ‘Jambi Kota Taqwa’

Namun, Safari Ramadan ala Pemkot Jambi ini tidak dibiarkan berhenti pada batas retorika dan doa bersama. Pertemuan spiritual tersebut langsung diiringi dengan kebijakan afirmatif berupa dukungan material bagi fasilitas komunitas.

Memanfaatkan momentum tersebut, Wawako Diza menyerahkan bantuan operasional dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Jambi senilai Rp5 juta yang dialokasikan khusus untuk pemeliharaan Langgar Hijau. Penyaluran dana taktis ini merupakan bagian terintegrasi dari visi makro tata kelola pemerintahan yang bertajuk Jambi Kota Taqwa—sebuah inisiatif yang memastikan rumah-rumah ibadah memiliki kemandirian finansial untuk melayani umat.

Menutup perjumpaannya di malam Ramadan tersebut, Diza menitipkan harapan bagi resiliensi komunitas di Kelurahan Tahtul Yaman. “Kepada masyarakat Kecamatan Pelayangan khususnya RT 04 Kelurahan Tahtul Yaman, saya turut mendoakan mewakili Pemerintah Kota Jambi dan masyarakat di sini, semoga selalu diberikan kesehatan, diberikan kekuatan, umur panjang, dan bisa menyambut Ramadan di tahun depan,” pungkasnya.

Pada akhirnya, apa yang terjadi di Langgar Hijau malam itu menawarkan sebuah perspektif yang menyegarkan tentang tata kelola kota. Ketika pendekatan teknokratis dan kebijakan publik dibalut dengan kehangatan interaksi kultural, sebuah kota tidak hanya akan tumbuh menjadi lebih tertata, tetapi juga lebih manusiawi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lanjut Baco

Investasi Manusia di Kota Jambi: Menakar Strategi Ekonomi Menekan Angka Anak Tidak Sekolah

26 Mei 2026 - 12:27 WIB

Mengurai Sengkarut Agraria Muaro Jambi: Jejak Laporan Penyerobotan Lahan Gambut Jaya Terungkap

25 Mei 2026 - 01:36 WIB

Jika Surat Rekomendasi Cacat, Mengapa Hanya 105 yang Dipersoalkan?”: Pemilik SHM Gambut Jaya Tuntut Asas Persamaan di Depan Hukum

22 Mei 2026 - 20:01 WIB

Gerakan Kemanusiaan BOLONG Jadi Bukti Kepedulian Anak Muda Bungo untuk Sesama

21 Mei 2026 - 06:51 WIB

Kota Jambi Mengubah Wajah Pengelolaan Sampah melalui Reformasi Berbasis Lingkungan

21 Mei 2026 - 03:35 WIB

#JambiBergerak BERITA