Menu

Mode Gelap
Ekspor ke Malaysia Masih Terbuka Lebar, Rumah BUMN Jambi Bekali 100 UMKM Strategi Go Global Pengurus GP Ansor Provinsi Jambi 2024-2028 Resmi Dilantik

OPINI

Sarjana Muda Kependidikan dan Ketakutan Menjadi Guru: Sebuah Paradoks di Negeri Terdidik

badge-check


					Sarjana Muda Kependidikan dan Ketakutan Menjadi Guru: Sebuah Paradoks di Negeri Terdidik Perbesar

Setiap tahun, ribuan mahasiswa kependidikan melangkah gagah ke atas podium wisuda. Mengenakan toga dengan gelar S.Pd. di belakang nama, ada binar harapan bahwa mereka akan menjadi pelita bagi kegelapan bodohnya bangsa. Namun, ketika euforia pesta kelulusan mereda, sebuah perasaan dingin mulai merayap di hati mereka.

Bagi sarjana muda kependidikan hari ini, ruang kelas bukan lagi sekadar tempat berbagi ilmu, melainkan sebuah medan tempur yang penuh dengan ketidakpastian. Ketakutan ini bukan karena mereka tidak menguasai materi pedagogi, melainkan karena realita di lapangan yang sering kali jauh dari kata manusiawi.

Mari kita bicara jujur hal pertama yang menghantui para lulusan baru adalah urusan dapur. Di saat teman sejawat mereka yang lulus dari jurusan teknik atau ekonomi mungkin mulai mengincar gaji dua digit di perusahaan rintisan, sarjana pendidikan sering kali dihadapkan pada pilihan sulit: menjadi guru honorer dengan bayaran yang kerap dijuluki “gaji ikhlas”.

Sangat menyedihkan ketika biaya kuliah selama empat tahun—yang mungkin dibayar orang tua dengan memeras keringat—hanya dihargai beberapa ratus ribu rupiah per bulan. Ironi ini menjadi hantaman mental yang berat. Mereka ingin berbakti, tapi tagihan kos, biaya transportasi, dan kebutuhan hidup tidak bisa dibayar dengan sekadar ucapan terima kasih atau piagam penghargaan.

Ketakutan kedua muncul saat mereka melihat beban kerja guru senior. Alih-alih menghabiskan waktu untuk membedah metode mengajar yang kreatif agar siswa tidak bosan, guru-guru kita justru sering kali “tenggelam” dalam lautan administrasi.

Laporan kinerja, pengisian aplikasi pendidikan yang terus berganti, hingga tuntutan kurikulum yang sering kali berubah-ubah membuat esensi mengajar jadi terpinggirkan. Bagi anak muda yang penuh semangat dan kreativitas, terjebak dalam rutinitas administratif yang kaku adalah sebuah mimpi buruk. Mereka takut energi muda mereka habis hanya untuk mengisi kolom-kolom aplikasi, bukan untuk menyentuh hati para murid.

Di era media sosial seperti sekarang, menjadi guru terasa seperti hidup di bawah mikroskop. Ada tuntutan tak tertulis bahwa guru harus menjadi sosok sempurna tanpa celah. Sedikit saja tindakan tegas di kelas bisa disalahpahami, direkam, dan diviralkan tanpa konteks yang utuh.

Risiko hukum dan perundungan digital ini membuat para sarjana muda merasa cemas. Mereka berada di posisi sulit: ingin mendisiplinkan tapi takut dipolisikan, ingin akrab tapi takut dianggap melampaui batas. Tekanan psikologis ini sering kali membuat profesi guru terasa lebih menyeramkan ketimbang membanggakan.

Ketakutan-ketakutan ini adalah alarm keras bagi sistem pendidikan kita. Jika kita terus membiarkan realita “kesejahteraan minim” dan “beban administrasi maksimal” ini berlanjut, jangan kaget jika lulusan terbaik kependidikan kita justru memilih berkarier di bank, menjadi tenaga administratif perusahaan, atau bahkan beralih profesi menjadi content creator.

Menjadi guru memang sebuah panggilan jiwa, sebuah pengabdian. Namun, pengabdian yang tulus seharusnya didukung oleh ekosistem yang sehat. Kita tidak bisa terus-menerus menuntut dedikasi tanpa memberikan apresiasi yang layak.

Pada akhirnya, kita semua tentu tidak ingin melihat kursi-kursi di sekolah diisi oleh orang-orang yang “terpaksa” mengajar hanya karena tidak ada pilihan lain. Kita ingin guru yang datang ke kelas dengan senyum lebar karena hidupnya terjamin, bukan guru yang di depan kelas tapi pikirannya cemas memikirkan cara membayar cicilan esok hari.

Masa depan bangsa ini bermula dari ruang kelas, dan para sarjana muda kependidikan adalah kuncinya. Jangan biarkan ketakutan memadamkan api semangat mereka sebelum sempat menyala.

 

Penulis Muhammad imam Arifin Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Universitas Jambi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lanjut Baco

Melewati Ambang Batas: Ketika Ledakan Menjadi Keniscayaan

10 Juli 2026 - 11:49 WIB

Urbanisasi dan Moderasi Beragama: Belajar dari Sungai Nibung

14 Maret 2026 - 18:16 WIB

Keamanan Siber Bank 9 Jambi Dipertanyakan: Pembobolan Rekening Nasabah Menjadi Sinyal Merah

27 Februari 2026 - 07:33 WIB

Refleksi Mahasiswa Batanghari: Antara Usia Daerah dan Diamnya Kaum Muda

5 Januari 2026 - 04:56 WIB

Cermin 1928, Jendela 2045: Refleksi Sumpah Pemuda untuk Generasi Emas

28 Oktober 2025 - 03:42 WIB

#JambiBergerak BERITA