Menu

Mode Gelap
Ekspor ke Malaysia Masih Terbuka Lebar, Rumah BUMN Jambi Bekali 100 UMKM Strategi Go Global Pengurus GP Ansor Provinsi Jambi 2024-2028 Resmi Dilantik

OPINI

Jambi Barat Membutuhkan Program Studi Pendidikan Sejarah

badge-check


					Jambi Barat Membutuhkan Program Studi Pendidikan Sejarah Perbesar

Oleh : Muhammad Dwi Kurniadi

Kabupaten Bungo dan wilayah Jambi bagian barat selama ini lebih dikenal sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam. Padahal, di balik bentang alamnya tersimpan kekayaan lain yang tidak kalah penting, yakni jejak sejarah dan budaya. Berbagai situs bersejarah, tradisi masyarakat, peninggalan kolonial, hingga sumber sejarah lokal tersebar di Bungo, Tebo, Merangin, Sarolangun, dan Kerinci. Sayangnya, kekayaan tersebut belum sepenuhnya menjadi objek kajian akademik yang berkelanjutan.

Ironisnya, ketika wilayah ini memiliki potensi sejarah yang besar, lembaga pendidikan tinggi yang secara khusus menyiapkan calon guru sejarah justru belum hadir di kawasan Jambi bagian barat. Program Studi Pendidikan Sejarah di Provinsi Jambi saat ini masih terpusat di Universitas Jambi di Kampus Mendalo. Akibatnya, calon mahasiswa dari wilayah barat Jambi yang ingin mendalami pendidikan sejarah harus merantau atau bahkan memilih program studi lain yang lebih mudah dijangkau.

Padahal, pendidikan sejarah memiliki karakter yang berbeda dibandingkan disiplin ilmu lainnya. Sejarah tidak cukup dipelajari melalui buku teks, tetapi harus bersentuhan langsung dengan sumber-sumber sejarah yang hidup di tengah masyarakat. Situs sejarah, bangunan tua, arsip lokal, tradisi lisan, hingga tokoh-tokoh masyarakat merupakan laboratorium pembelajaran yang tidak tergantikan. Keberadaan program studi di wilayah yang kaya akan sumber sejarah akan menjadikan proses pembelajaran lebih kontekstual dan menghasilkan penelitian yang benar-benar berangkat dari persoalan daerah.

Selama ini, banyak potensi sejarah lokal di Kabupaten Bungo dan daerah sekitarnya belum terdokumentasikan secara optimal. Sebagian situs bahkan belum memperoleh perhatian serius dalam aspek penelitian maupun pelestarian. Kondisi tersebut bukan semata-mata karena kurangnya kepedulian masyarakat, tetapi juga karena masih terbatasnya pusat-pusat akademik yang secara konsisten melakukan penelitian sejarah lokal.

Di sinilah pentingnya menghadirkan Program Studi Pendidikan Sejarah di Muara Bungo. Program studi tersebut tidak hanya berfungsi mencetak guru sejarah, tetapi juga menjadi pusat dokumentasi, penelitian, pelestarian, dan publikasi sejarah Jambi bagian barat. Kehadirannya akan mendorong lahirnya penelitian mengenai sejarah lokal yang selama ini belum banyak tersentuh oleh kalangan akademisi.

Lebih jauh, keberadaan program studi ini akan memberi manfaat langsung bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah di Kabupaten Bungo, Tebo, Merangin, hingga daerah sekitarnya membutuhkan guru sejarah yang tidak hanya menguasai sejarah nasional, tetapi juga memahami sejarah daerahnya sendiri. Guru yang tumbuh, belajar, dan meneliti di lingkungan Jambi bagian barat akan memiliki kedekatan emosional sekaligus pemahaman yang lebih mendalam terhadap sejarah lokal. Mereka dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih relevan sehingga peserta didik mengenal tokoh, situs, dan peristiwa bersejarah di daerahnya sendiri.

Penguatan sejarah lokal merupakan bagian penting dalam pendidikan karakter. Ketika peserta didik memahami asal-usul daerahnya, mereka akan tumbuh dengan rasa memiliki terhadap warisan budaya yang diwariskan para pendahulu. Kesadaran inilah yang menjadi fondasi pelestarian sejarah pada masa depan.

Universitas Muhammadiyah Muara Bungo, yang berawal dari STKIP Muhammadiyah Muara Bungo dengan fokus pada pengembangan pendidikan, telah menunjukkan komitmennya dalam mencetak tenaga pendidik melalui beberapa program studi kependidikan. Pengembangan Program Studi Pendidikan Sejarah dapat menjadi langkah strategis berikutnya untuk menjawab kebutuhan kawasan Jambi bagian barat, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan berbasis potensi lokal.

Tentu, pendirian sebuah program studi bukan perkara sederhana. Dibutuhkan dosen yang memenuhi kualifikasi, kurikulum yang relevan, sarana pendukung, serta pemenuhan berbagai persyaratan akademik dan regulasi. Namun, ketika kebutuhan daerah bertemu dengan potensi akademik yang besar, tantangan tersebut bukan alasan untuk berhenti, melainkan menjadi agenda bersama yang harus diperjuangkan.

Sudah saatnya pembangunan pendidikan tinggi tidak hanya berpusat di ibu kota provinsi. Daerah-daerah yang memiliki kekhasan sejarah juga layak menjadi pusat pengembangan ilmu. Muara Bungo memiliki modal tersebut. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian para pemangku kepentingan—pemerintah daerah, perguruan tinggi, masyarakat, dan dunia pendidikan—untuk melihat sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan investasi bagi masa depan.

Menghadirkan Program Studi Pendidikan Sejarah di Muara Bungo bukan hanya tentang membuka ruang kuliah baru. Lebih dari itu, ini adalah ikhtiar untuk menjaga identitas daerah, melahirkan guru-guru sejarah yang memahami akar budayanya, memperkuat penelitian sejarah lokal, serta memastikan bahwa kekayaan sejarah Jambi bagian barat tidak hilang ditelan zaman.

Kabupaten Bungo sesungguhnya memiliki modal yang sangat kuat untuk menjadi pusat pengembangan pendidikan sejarah di Jambi bagian barat. Salah satu warisan sejarah yang paling dikenal adalah Kompleks Rumah Tuo Balai Panjang di Dusun Tanah Periuk, Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas. Kompleks rumah tradisional Melayu ini diperkirakan telah berusia lebih dari dua abad dan masih mempertahankan karakter arsitektur aslinya. Di kawasan tersebut juga terdapat makam-makam tua yang diyakini berkaitan dengan tokoh-tokoh terdahulu, benda pusaka, serta berbagai tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun. Pemerintah Kabupaten Bungo telah menjadikan kawasan ini sebagai salah satu objek wisata sejarah dan budaya yang perlu terus dilestarikan. Selain Rumah Tuo, Kabupaten Bungo juga memiliki berbagai peninggalan kolonial Belanda berupa kantor pemerintahan lama, jembatan, jalan, bendungan, kantor pos, dan bangunan bersejarah lainnya yang memiliki nilai edukatif sebagai sumber belajar sejarah lokal. Penelitian dari Universitas Jambi bahkan menegaskan bahwa situs-situs peninggalan kolonial di Kabupaten Bungo memiliki potensi besar sebagai sumber belajar sejarah, tetapi pemanfaatannya di sekolah masih sangat terbatas akibat minimnya penelitian dan publikasi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Jambi bagian barat tidak kekurangan sumber sejarah, tetapi justru masih kekurangan lembaga akademik yang secara khusus bertugas mengkajinya. Kehadiran Program Studi Pendidikan Sejarah di Muara Bungo akan menjadi pusat pengembangan historiografi lokal melalui penelitian terhadap situs, tradisi lisan, arsip daerah, maupun cagar budaya. Program studi ini dapat menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara nyata: menghasilkan guru sejarah yang profesional, melaksanakan penelitian tentang sejarah lokal Jambi bagian barat, serta melakukan pengabdian kepada masyarakat melalui inventarisasi, digitalisasi, edukasi, dan pelestarian warisan budaya. Dengan demikian, keberadaan program studi tidak hanya menjawab kebutuhan tenaga pendidik, tetapi juga berkontribusi terhadap pelestarian identitas budaya daerah.

Urgensi tersebut semakin diperkuat oleh amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, yang menegaskan bahwa pelestarian cagar budaya dilakukan melalui upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam mewujudkan amanat tersebut melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu, kehadiran Program Studi Pendidikan Sejarah di Muara Bungo bukan sekadar penambahan program akademik, melainkan investasi jangka panjang dalam membangun sumber daya manusia, memperkuat identitas daerah, serta menjaga warisan sejarah Jambi bagian barat agar tetap lestari bagi generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lanjut Baco

Melewati Ambang Batas: Ketika Ledakan Menjadi Keniscayaan

10 Juli 2026 - 11:49 WIB

Sarjana Muda Kependidikan dan Ketakutan Menjadi Guru: Sebuah Paradoks di Negeri Terdidik

8 Mei 2026 - 07:58 WIB

Urbanisasi dan Moderasi Beragama: Belajar dari Sungai Nibung

14 Maret 2026 - 18:16 WIB

Keamanan Siber Bank 9 Jambi Dipertanyakan: Pembobolan Rekening Nasabah Menjadi Sinyal Merah

27 Februari 2026 - 07:33 WIB

Refleksi Mahasiswa Batanghari: Antara Usia Daerah dan Diamnya Kaum Muda

5 Januari 2026 - 04:56 WIB

#JambiBergerak BERITA