Upaya mengakhiri penyebaran tuberkulosis (TBC) di Kota Jambi memasuki babak baru. Tidak hanya mengandalkan fasilitas kesehatan dan tenaga medis, Pemerintah Kota Jambi kini memperkuat pelibatan masyarakat melalui Gerakan Bersama Kader Screening Tuberkulosis (GEBRAK TBC) yang digagas Tim Penggerak (TP) PKK Kota Jambi. Melalui pendekatan door to door, para kader PKK diterjunkan langsung ke lingkungan warga untuk meningkatkan deteksi dini, memperluas edukasi kesehatan, sekaligus mengikis stigma yang selama ini menjadi salah satu hambatan utama dalam penanggulangan TBC.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi yang lebih luas untuk mendukung target eliminasi TBC nasional pada 2030. Bagi Kota Jambi, target itu bahkan ingin dicapai lebih cepat melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, tokoh agama, hingga keluarga sebagai garda terdepan dalam mengenali gejala penyakit.

GEBRAK TBC, Inovasi PKK untuk Mempercepat Deteksi Dini
Ketua TP PKK Kota Jambi, Dr. dr. Hj. Nadiyah, Sp.OG, menjelaskan bahwa GEBRAK TBC merupakan inovasi yang dikembangkan untuk memperluas cakupan skrining tuberkulosis di tengah masyarakat.
Melalui program ini, kader PKK yang tergabung dalam Pokja IV di setiap kecamatan melakukan kunjungan langsung ke rumah-rumah warga. Selain memberikan edukasi mengenai penyakit TBC, mereka juga membantu masyarakat mengenali gejala awal yang sering kali diabaikan.
“Para kader akan door to door dari rumah ke rumah mensosialisasikan gejala-gejala yang dialami pasien TBC, seperti batuk yang berkelanjutan selama dua minggu, penurunan berat badan, dan gejala lainnya,” ujar Nadiyah.
Apabila ditemukan warga dengan gejala yang mengarah pada tuberkulosis, kader akan mendorong mereka segera melapor ke puskesmas agar dapat menjalani pemeriksaan lebih lanjut dan memperoleh penanganan sedini mungkin. Pendekatan ini diharapkan mampu memutus mata rantai penularan sebelum penyakit berkembang lebih luas.
Deteksi Dini Menjadi Kunci Eliminasi TBC
Tuberkulosis masih menjadi salah satu persoalan kesehatan terbesar di Indonesia. Berdasarkan data yang disampaikan Pemerintah Kota Jambi, Indonesia masih berada di peringkat kedua dunia dengan beban kasus TBC tertinggi. Secara nasional terdapat lebih dari satu juta kasus, sementara pemerintah menargetkan sedikitnya 90 persen kasus dapat ditemukan dan 80 persen di antaranya menjalani pengobatan hingga tuntas.
Karena itu, perluasan skrining menjadi langkah yang sangat penting. Nadiyah menilai, semakin cepat penderita ditemukan, semakin besar peluang untuk disembuhkan sekaligus mencegah penularan kepada anggota keluarga maupun masyarakat di sekitarnya.
“Harapannya deteksi dini bisa lebih baik sehingga mereka bisa disembuhkan, dengan harapan Indonesia bisa bebas TBC,” katanya.
Kota Jambi Targetkan Eliminasi Lebih Cepat
Berbeda dengan target nasional yang dipatok pada 2030, Pemerintah Kota Jambi berharap mampu menunjukkan penurunan signifikan angka TBC pada 2029.
Optimisme tersebut didukung berbagai langkah strategis, mulai dari penguatan edukasi masyarakat, perluasan skrining aktif, hingga penyusunan regulasi daerah yang menjadi dasar pelaksanaan program penanggulangan TBC secara berkelanjutan.
Menurut Nadiyah, keberhasilan eliminasi tidak mungkin dicapai hanya oleh tenaga kesehatan.
“Ini bukan hanya tanggung jawab petugas medis. Ini adalah tanggung jawab masyarakat, swasta, tokoh agama, dan semua harus bergerak bersama,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menghapus stigma terhadap penderita TBC. Rasa malu atau takut sering membuat pasien menunda pemeriksaan, sehingga penyakit baru diketahui ketika kondisinya sudah lebih berat dan risiko penularannya semakin tinggi.
“Mari kita rangkul dan support mereka yang memang mengidap TBC agar bisa diobati hingga sembuh sehingga tidak menjadi sumber penularan kepada yang lainnya,” tambah Nadiyah.
Didukung Kebijakan Daerah dan Kolaborasi Lintas Sektor
Pelaksanaan GEBRAK TBC berjalan seiring dengan komitmen Pemerintah Kota Jambi yang telah menerbitkan Peraturan Wali Kota tentang Rencana Aksi Daerah (RAD) Penanggulangan Tuberkulosis 2025–2030 sebagai pedoman pelaksanaan program di tingkat daerah.
Selain itu, pemerintah juga berencana memperluas kegiatan skrining melalui kerja sama dengan Kementerian Kesehatan sebagai tindak lanjut komunikasi yang dilakukan Wali Kota Jambi bersama Wakil Menteri Kesehatan. Sinergi tersebut diharapkan memperkuat akses diagnosis, pengobatan, hingga pendampingan pasien secara berkesinambungan.
Peran Kader PKK Menjadi Garda Terdepan Pencegahan
Keberhasilan program eliminasi TBC tidak hanya bergantung pada rumah sakit atau puskesmas, tetapi juga pada kemampuan masyarakat mengenali gejala sejak dini. Dalam konteks inilah kader PKK memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara layanan kesehatan dan warga.
Dengan kedekatan mereka terhadap lingkungan, kader dinilai lebih mudah membangun komunikasi, memberikan edukasi, sekaligus mendorong masyarakat agar tidak ragu menjalani pemeriksaan. Pendekatan berbasis komunitas seperti GEBRAK TBC juga memungkinkan pesan-pesan kesehatan disampaikan secara lebih personal dan efektif.
Melalui gerakan ini, Kota Jambi menunjukkan bahwa penanggulangan TBC bukan sekadar program kesehatan, melainkan gerakan sosial yang membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat.
Jika kolaborasi tersebut terus diperkuat, target eliminasi TBC bukan lagi sekadar ambisi kebijakan, melainkan tujuan yang semakin realistis untuk diwujudkan. Dengan kader PKK sebagai ujung tombak di tingkat keluarga dan lingkungan, Kota Jambi berupaya membangun sistem deteksi dini yang lebih kuat, meningkatkan keberhasilan pengobatan, serta menghadirkan masyarakat yang lebih sehat sebagai fondasi pembangunan daerah yang berkelanjutan.








