Pengakuan Nasional atas Inisiatif Keluarga di Kota Jambi
Upaya memperkuat ketahanan keluarga melalui kebijakan berbasis peran ayah mengantarkan Wali Kota Jambi, Maulana, meraih penghargaan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusi Pemerintah Kota Jambi dalam menyukseskan Program Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak (GEMAR) tahun 2026—sebuah inisiatif nasional yang menempatkan ayah sebagai aktor penting dalam pendidikan dan pengasuhan anak.
Momentum penghargaan ini tidak hanya menjadi simbol prestasi administratif, melainkan juga refleksi dari perubahan paradigma dalam pembangunan keluarga: dari yang semula berfokus pada peran ibu, menuju keterlibatan aktif kedua orang tua secara seimbang.

Mengapa Peran Ayah Menjadi Isu Strategis
Dalam beberapa tahun terakhir, isu minimnya keterlibatan ayah—sering disebut sebagai fenomena fatherless—menjadi perhatian serius dalam kebijakan pembangunan keluarga di Indonesia. Program GEMAR hadir sebagai respons atas tantangan tersebut, dengan mendorong kehadiran ayah dalam momen penting pendidikan anak, seperti pengambilan rapor di sekolah.
Maulana menegaskan bahwa kehadiran ayah tidak boleh sekadar simbolik. Ia harus hadir secara emosional dan aktif dalam proses tumbuh kembang anak.
“Ini bukan sekadar soal mengantar anak ke sekolah, tetapi menghadirkan peran ayah secara utuh dalam kehidupan anak,” ujarnya.
Pendekatan ini memperlihatkan pergeseran penting: keluarga tidak lagi dipandang sebagai unit privat semata, melainkan sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia.
Program “Ayah Bahagia” sebagai Penguat Kebijakan GEMAR
Di tingkat lokal, Pemerintah Kota Jambi memperkuat implementasi GEMAR melalui inisiatif “Ayah Bahagia”. Program ini dirancang untuk membangun kedekatan emosional antara ayah dan anak, sekaligus menciptakan lingkungan keluarga yang sehat dan suportif.
Melalui program ini, berbagai pendekatan dilakukan—mulai dari edukasi parenting, kampanye keterlibatan ayah, hingga penguatan nilai-nilai keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Fokusnya tidak hanya pada kehadiran fisik, tetapi juga kualitas interaksi dalam keluarga.
Menurut Maulana, keterlibatan ayah dalam pendidikan anak memiliki dampak langsung terhadap pembentukan karakter, kepercayaan diri, dan motivasi belajar.
“Dari rumah yang hangat akan lahir generasi yang kuat,” ungkapnya, menekankan pentingnya lingkungan keluarga dalam mencetak generasi masa depan.
Dukungan terhadap Visi Indonesia Emas 2045
Kebijakan ini juga selaras dengan visi nasional menuju Indonesia Emas 2045, di mana kualitas sumber daya manusia menjadi faktor kunci. Pemerintah Kota Jambi menempatkan keluarga sebagai titik awal dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Melalui program Ayah Bahagia dan GEMAR, pendekatan pembangunan menjadi lebih holistik—tidak hanya fokus pada pendidikan formal, tetapi juga pada penguatan nilai-nilai keluarga sebagai basis karakter.
Penghargaan dari BKKBN menjadi indikator bahwa pendekatan ini mendapatkan pengakuan, sekaligus validasi bahwa kebijakan berbasis keluarga memiliki dampak strategis dalam jangka panjang.
Dampak Sosial: Dari Keluarga ke Masyarakat
Lebih dari sekadar program, inisiatif ini mulai membentuk budaya baru di masyarakat: keterlibatan ayah dalam kehidupan anak menjadi norma yang didorong secara kolektif.
Efeknya tidak hanya dirasakan di tingkat keluarga, tetapi juga pada lingkungan sosial yang lebih luas. Anak-anak yang mendapatkan dukungan emosional dari kedua orang tua cenderung memiliki stabilitas psikologis yang lebih baik, serta kemampuan sosial yang lebih kuat.
Maulana bahkan mempersembahkan penghargaan tersebut kepada seluruh orang tua di Kota Jambi sebagai bentuk apresiasi atas peran mereka dalam mendidik generasi penerus.
“Terima kasih kepada Ayahanda dan Ibunda yang terus mendampingi anak-anak menuju kesuksesan,” katanya.
Kesimpulan: Dari Kebijakan ke Perubahan Budaya
Penghargaan yang diraih Wali Kota Jambi bukan sekadar capaian seremonial, melainkan representasi dari perubahan arah kebijakan publik yang lebih berorientasi pada keluarga.
Di tengah kompleksitas tantangan sosial modern, pendekatan yang menempatkan keluarga—dan khususnya peran ayah—sebagai pusat pembangunan menjadi semakin relevan. Jambi, melalui program Ayah Bahagia dan implementasi GEMAR, menawarkan contoh bagaimana kebijakan lokal dapat berkontribusi pada agenda nasional.
Pada akhirnya, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari penghargaan yang diterima, tetapi dari sejauh mana ia mampu membentuk generasi yang lebih kuat, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.








