Wali Kota Jambi Apresiasi Program RT 17 Peduli Berbagi, Simbol Gotong Royong yang Menguat dari Akar Rumput
JAMBI — Di tengah arus modernisasi perkotaan yang kerap mengikis relasi sosial, sebuah inisiatif sederhana dari tingkat rukun tetangga justru menunjukkan arah sebaliknya. Program RT 17 Peduli Berbagi Tetangga di Kelurahan Simpang III Sipin, Kota Jambi, menjadi contoh konkret bagaimana solidaritas warga dapat tumbuh dan bertahan—bahkan menguat—dalam skala komunitas terkecil.
Wali Kota Jambi, Maulana, secara langsung mengapresiasi program tersebut saat menghadiri kegiatan berbagi bersama warga. Ia menilai inisiatif itu sebagai refleksi nilai kebersamaan yang semakin langka, namun krusial dalam membangun masyarakat yang inklusif dan berdaya.

“Ini bisa menjadi contoh di tempat lain. Konsep ini mencerminkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial antarwarga,” ujar Maulana dalam kegiatan tersebut.
Menghidupkan Kembali Semangat Gotong Royong
Program RT 17 Peduli Berbagi berangkat dari gagasan sederhana: warga yang memiliki kelebihan secara ekonomi menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu tetangga yang membutuhkan. Dana yang terkumpul kemudian diwujudkan dalam bentuk paket sembako yang didistribusikan secara langsung kepada warga kurang mampu.
Dalam praktiknya, program ini bukan sekadar kegiatan amal musiman. Ketua RT setempat menjelaskan bahwa kegiatan ini telah berlangsung secara konsisten dan bahkan telah memasuki tahun pelaksanaan yang keenam. Hal tersebut menunjukkan bahwa solidaritas sosial tidak hanya dapat dibangun, tetapi juga dirawat melalui mekanisme yang berkelanjutan.
Lebih dari itu, pendekatan berbasis komunitas ini menciptakan relasi yang lebih personal antarwarga—sebuah dimensi yang sering kali tidak terjangkau oleh program bantuan berskala besar.
Relevansi dalam Agenda “Kota Jambi Bahagia”
Apresiasi pemerintah terhadap program ini tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari narasi yang lebih luas tentang arah pembangunan Kota Jambi yang menitikberatkan pada kesejahteraan berbasis komunitas, yang dikenal dengan konsep Kampung Bahagia.
Dalam kerangka tersebut, pembangunan tidak hanya dipahami sebagai penyediaan infrastruktur fisik, tetapi juga penguatan kohesi sosial. Program seperti RT 17 Berbagi dinilai sejalan dengan upaya pemerintah mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang inklusif, saling peduli, dan mandiri.
Maulana menegaskan bahwa keterlibatan warga menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang harmonis. Program ini, menurutnya, menunjukkan bahwa solusi atas berbagai persoalan sosial tidak selalu harus datang dari atas, melainkan dapat tumbuh dari inisiatif warga itu sendiri.
Dari Lokal ke Inspirasi Kota
Kehadiran sejumlah pejabat daerah dalam kegiatan tersebut—termasuk Wakil Wali Kota, kepala dinas, serta perangkat wilayah—menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah melihat potensi replikasi program ini di wilayah lain.
Pemerintah Kota Jambi bahkan mendorong agar konsep serupa dapat diadaptasi oleh RT lain sebagai bagian dari gerakan sosial yang lebih luas. Dengan demikian, solidaritas tidak hanya berhenti pada satu titik, tetapi berkembang menjadi jaringan kepedulian antarlingkungan.
“Diharapkan program seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi lingkungan lain di Kota Jambi dalam memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial,” ujar Maulana.
Ketika Pembangunan Dimulai dari Hal Sederhana
Apa yang terjadi di RT 17 Simpang III Sipin menunjukkan bahwa pembangunan sosial tidak selalu membutuhkan intervensi besar atau anggaran yang kompleks. Dalam banyak kasus, ia justru tumbuh dari hal-hal sederhana: kepercayaan, empati, dan kemauan untuk berbagi.
Di tengah tantangan urbanisasi dan meningkatnya individualisme, model seperti ini menawarkan perspektif alternatif—bahwa kota yang kuat bukan hanya dibangun oleh kebijakan, tetapi juga oleh hubungan antarwarganya.
Program RT 17 Peduli Berbagi mungkin bermula dari lingkup kecil, tetapi dampaknya berpotensi meluas. Ia bukan hanya tentang bantuan sembako, melainkan tentang membangun kembali makna bertetangga—sebuah fondasi yang, jika dirawat dengan baik, dapat menjadi kekuatan utama dalam menciptakan kota yang benar-benar “bahagia.”








