Penghargaan yang Membawa Tanggung Jawab
Sebuah penghargaan kepada Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha di Cibubur berubah menjadi momentum untuk mempertegas kembali posisi Gerakan Pramuka dalam pembinaan generasi muda Kota Jambi.
Diza menerima Lencana Darma Bakti Pramuka atas dedikasi dan kontribusinya dalam mendukung serta mengembangkan Gerakan Pramuka di Kota Jambi. Penghargaan tersebut diserahkan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Komjen Pol. (Purn.) Drs. Budi Waseso, dalam rangkaian Jambore Nasional Pramuka ke-XII di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka, Cibubur, Kamis (13/8/2026).

Bagi Diza, penghargaan itu bukan sekadar pengakuan personal. Ia justru melihatnya sebagai pengingat sekaligus dorongan untuk memperluas perhatian pemerintah terhadap pembinaan anggota Pramuka di Kota Jambi.
“Penghargaan ini juga menjadi pengingat dan motivasi bagi kami untuk selalu bisa membimbing adik-adik dan juga teman-teman Pramuka di Kota Jambi.”
Pramuka dan Tantangan Generasi Muda
Dalam beberapa tahun terakhir, fungsi organisasi kepemudaan semakin berhadapan dengan tantangan yang tidak sederhana. Perkembangan teknologi, perubahan pola interaksi sosial, hingga meningkatnya berbagai persoalan yang melibatkan anak dan remaja membuat pendidikan karakter membutuhkan ruang yang lebih luas daripada sekolah formal.
Dalam konteks itu, Gerakan Pramuka memiliki posisi yang khas. Pendidikan kepramukaan menggabungkan disiplin, kerja sama, kepemimpinan, kemandirian, serta kegiatan sosial dalam pengalaman langsung.
Pemkot Jambi melihat nilai-nilai tersebut relevan untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga karakter dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Diza menilai Pramuka merupakan salah satu instrumen penting untuk menanamkan nilai kebangsaan, cinta tanah air, kepedulian sosial, kedisiplinan, dan semangat gotong royong sejak usia sekolah.
Dari Ekstrakurikuler Menjadi Ruang Pembentukan Karakter
Komitmen Pemkot Jambi tidak berhenti pada pemberian dukungan terhadap kegiatan Pramuka. Pemerintah kota mendorong agar kepramukaan di sekolah tidak hanya diposisikan sebagai kegiatan ekstrakurikuler, tetapi menjadi bagian dari proses pembentukan karakter peserta didik.
Arah tersebut mencakup penguatan pembinaan gugus depan, peningkatan kapasitas pembina dan peserta didik, serta pengembangan kegiatan yang kreatif, edukatif, dan sesuai dengan tantangan generasi saat ini.
Pendekatan itu penting karena generasi muda tidak cukup hanya diberi pengetahuan tentang nilai-nilai kebangsaan. Mereka juga perlu mengalami bagaimana nilai tersebut diterapkan—melalui kerja sama, kegiatan sosial, kepemimpinan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Penghargaan Personal, Komitmen Institusional
Diza, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Waka Mabicab) Gerakan Pramuka Kota Jambi, menempatkan penghargaan tersebut sebagai motivasi bagi pemerintah daerah untuk terus mendukung kegiatan kepramukaan.
“Mudah-mudahan ini juga menjadi semangat kami untuk sama-sama memberikan program-program yang relevan, sehingga Pramuka bisa dirasakan manfaatnya tidak hanya oleh para anggota Pramuka, tetapi juga oleh seluruh masyarakat Kota Jambi.”
Pernyataan itu memperluas makna Gerakan Pramuka. Organisasi tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan anggota yang terampil dalam kegiatan kepramukaan, tetapi juga mampu memberi kontribusi lebih luas kepada lingkungan sekitarnya.
Sinergi Pemerintah, Sekolah dan Masyarakat
Penguatan Gerakan Pramuka pada akhirnya tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Sekolah, pembina, orang tua, Kwartir Cabang, peserta didik, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi.
Pemerintah dapat menyediakan dukungan kebijakan dan fasilitas. Sekolah menjadi ruang pembinaan. Pembina menerjemahkan nilai-nilai kepramukaan dalam kegiatan. Sementara keluarga dan masyarakat menyediakan lingkungan yang memungkinkan karakter tersebut tumbuh secara konsisten.
Model kolaborasi semacam ini menjadi penting jika Pramuka ingin tetap relevan dengan perubahan zaman.
Menjaga Relevansi di Tengah Perubahan Zaman
Gerakan Pramuka sendiri telah menunjukkan bahwa kegiatan kepramukaan dapat berkembang melampaui aktivitas tradisional. Dalam konteks Kota Jambi, pemerintah mendorong program yang lebih kreatif, edukatif, dan sesuai dengan kebutuhan generasi muda masa kini.
Hal tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang. Pramuka perlu mempertahankan nilai dasarnya, tetapi pada saat yang sama harus mampu berbicara dalam bahasa generasi yang tumbuh bersama teknologi digital.
Jika berhasil menjaga keseimbangan tersebut, kepramukaan dapat menjadi ruang yang relevan bagi anak muda untuk belajar memimpin, bekerja sama, melayani, sekaligus memahami arti tanggung jawab sosial.
Lencana sebagai Awal, Bukan Akhir
Lencana Darma Bakti yang diterima Diza pada akhirnya bukan sekadar simbol penghargaan. Di tingkat pemerintah daerah, ia menjadi momentum untuk memperbarui komitmen terhadap pembinaan generasi muda.
Bagi Kota Jambi, tantangan berikutnya adalah memastikan komitmen tersebut hadir dalam program yang nyata dan berkelanjutan. Sebab, karakter tidak terbentuk melalui satu kegiatan, begitu pula kepemimpinan tidak lahir dari satu pelatihan.
Di lapangan, di sekolah, dan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, nilai-nilai itulah yang akan diuji.
Dan di sanalah makna penghargaan tersebut menemukan bentuk yang lebih penting: bukan pada lencana yang dikenakan, tetapi pada generasi yang berhasil dibentuk melalui semangat pengabdian, kemandirian, dan gotong royong.








