Dari Pengendali Banjir Menjadi Ruang Hidup Kota
Kolam retensi sering kali dipahami sebagai infrastruktur yang bekerja ketika hujan datang: menampung limpasan air dan mengurangi risiko banjir. Namun di Telaga Kajang Lako, Kota Jambi mencoba memperluas fungsi tersebut. Kawasan ini diarahkan menjadi ruang publik yang memadukan pengendalian banjir, ruang terbuka hijau, olahraga, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Wali Kota Jambi Maulana bersama Wakil Wali Kota Diza Hazra Aljosha melakukan penanaman pohon perdana di kawasan Kolam Retensi Telaga Kajang Lako, Kelurahan Paal V, Kecamatan Kota Baru, Selasa (18/8/2026). Pohon tabebuya dan tanjung ditanam di sekitar kawasan yang nantinya dilengkapi jogging track sepanjang sekitar 1,4 kilometer.

Langkah tersebut memperlihatkan arah pembangunan yang tidak lagi memisahkan infrastruktur pengendali banjir dari kebutuhan masyarakat akan ruang terbuka yang nyaman.
Telaga Kajang Lako dan Dua Fungsi yang Berjalan Bersamaan
Kolam Retensi Telaga Kajang Lako dibangun melalui kolaborasi Pemerintah Kota Jambi, Pemerintah Provinsi Jambi, dan pemerintah pusat. Infrastruktur ini diarahkan menjadi bagian dari sistem pengendalian banjir Sungai Asam sekaligus kawasan publik yang memiliki nilai sosial dan ekonomi.
Konsep tersebut penting bagi kota yang terus berkembang. Lahan perkotaan semakin memiliki nilai strategis, sementara kebutuhan terhadap ruang terbuka hijau dan fasilitas publik juga meningkat.
Dengan menggabungkan kedua fungsi itu, satu kawasan dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Ketika hujan deras, kolam berperan dalam sistem pengendalian air. Pada kondisi normal, kawasan tersebut dapat menjadi tempat masyarakat berjalan kaki, berolahraga, bersantai, dan melakukan berbagai aktivitas sosial.
Pohon Ditanam Sejak Awal Pembangunan
Penanaman tabebuya dan tanjung dilakukan ketika pembangunan kawasan masih berlangsung. Menurut Maulana, strategi tersebut dimaksudkan agar pepohonan memiliki waktu untuk tumbuh sebelum kawasan selesai dan digunakan secara penuh oleh masyarakat.
“Tabebuya dan tanjung ini nantinya diharapkan dapat memberikan keteduhan bagi pejalan kaki dan pelari yang beraktivitas di kawasan ini,” ujar Maulana.
Pemerintah Kota Jambi menyebut pohon-pohon tersebut ditanam dengan jarak sekitar lima meter di sepanjang jalur jogging track. Pada saat penanaman dilakukan, pembangunan lintasan yang akan mencapai sekitar 1,4 kilometer itu telah dicor sepanjang kurang lebih 275 meter.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa unsur ekologis tidak ditempatkan sebagai pelengkap setelah pembangunan selesai. Vegetasi justru mulai disiapkan bersamaan dengan pembentukan kawasan.
Infrastruktur Banjir yang Dirancang untuk Masyarakat
Perubahan fungsi Telaga Kajang Lako menjadi ruang publik juga memperlihatkan perkembangan cara pemerintah kota memandang infrastruktur perkotaan.
Infrastruktur pengendali banjir pada dasarnya memiliki fungsi teknis. Namun ketika kawasan di sekitarnya dirancang dengan jalur pedestrian, ruang hijau dan fasilitas aktivitas masyarakat, manfaatnya dapat melampaui fungsi hidrologis.
Ruang tersebut berpotensi menjadi titik pertemuan warga. Aktivitas olahraga dapat tumbuh, komunitas dapat memanfaatkannya, sementara pelaku UMKM dan ekonomi kreatif memiliki peluang untuk memperoleh ruang beraktivitas.
Pemkot Jambi memang mengarahkan kawasan Telaga Kajang Lako untuk menjadi ruang terbuka hijau, kawasan olahraga, serta pusat aktivitas ekonomi kreatif dan UMKM masyarakat.
Menjawab Dua Persoalan Perkotaan Sekaligus
Kota-kota yang berkembang menghadapi dua kebutuhan yang sering kali berkompetisi: bagaimana menyediakan infrastruktur untuk menghadapi risiko lingkungan dan bagaimana mempertahankan ruang yang layak bagi kehidupan sosial masyarakat.
Telaga Kajang Lako mencoba menjawab keduanya dalam satu desain.
Di satu sisi, kolam retensi menjadi bagian dari sistem pengendalian banjir Sungai Asam. Di sisi lain, ruang di sekelilingnya diproyeksikan sebagai kawasan yang dapat digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan semacam ini membuat keberhasilan proyek tidak hanya dapat diukur dari kemampuan kolam menampung air. Kualitas ruang publik, keberlanjutan vegetasi, pemeliharaan fasilitas, serta seberapa aktif masyarakat memanfaatkannya juga akan menjadi ukuran penting.
Pembangunan yang Membutuhkan Perawatan Berkelanjutan
Penanaman pohon menjadi salah satu contoh bahwa pembangunan ruang publik tidak selesai ketika konstruksi berakhir. Pohon membutuhkan perawatan, fasilitas membutuhkan pemeliharaan, dan ruang publik membutuhkan pengelolaan agar tetap aman serta nyaman.
Maulana menegaskan bahwa pohon yang telah ditanam akan dirawat agar tumbuh dengan baik.
Hal tersebut menjadi penting karena keberadaan ruang hijau tidak hanya ditentukan oleh jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga oleh keberhasilannya tumbuh dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Begitu pula dengan jogging track dan fasilitas lain. Infrastruktur publik baru akan memiliki nilai apabila masyarakat dapat menggunakannya secara aman, nyaman, dan berkelanjutan.
Dari Telaga Kajang Lako untuk Wajah Kota Jambi
Pembangunan Kolam Retensi Telaga Kajang Lako pada akhirnya menawarkan gambaran mengenai bagaimana infrastruktur kota dapat dirancang dengan fungsi yang lebih beragam.
Sebuah kolam tidak harus menjadi ruang yang hanya terlihat ketika banjir datang. Dengan perencanaan yang tepat, kawasan tersebut dapat menjadi bagian dari kehidupan kota sehari-hari—tempat warga berolahraga, berinteraksi, menikmati ruang hijau, sekaligus menjalankan aktivitas ekonomi.
Bagi Pemerintah Kota Jambi, penanaman tabebuya dan tanjung menjadi langkah awal menuju konsep tersebut. Pekerjaan berikutnya adalah memastikan pembangunan fisik, fungsi pengendalian banjir, kelestarian lingkungan, dan pemanfaatan masyarakat dapat berjalan dalam satu arah.
Sebab, kota yang tangguh bukan hanya kota yang mampu menghadapi air ketika hujan datang. Ia juga merupakan kota yang mampu menyediakan ruang yang sehat, teduh, dan hidup bagi warganya ketika langit sedang cerah.








