Menu

Mode Gelap
Ekspor ke Malaysia Masih Terbuka Lebar, Rumah BUMN Jambi Bekali 100 UMKM Strategi Go Global Pengurus GP Ansor Provinsi Jambi 2024-2028 Resmi Dilantik

BERITA

Ketika Rumah Menjadi Awal Kehidupan yang Lebih Layak: Jambi Memperkuat Jaring Pengaman bagi Warga

badge-check


					Ketika Rumah Menjadi Awal Kehidupan yang Lebih Layak: Jambi Memperkuat Jaring Pengaman bagi Warga Perbesar

Bantuan Bedah Rumah Menyasar Warga Kurang Mampu dan Mengandalkan Gotong Royong Masyarakat

JAMBI — Sebuah rumah yang aman dan sehat sering kali dianggap sebagai kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan. Namun, bagi keluarga berpenghasilan terbatas, memperbaiki atap, dinding, lantai, atau bagian rumah yang telah rusak dapat menjadi persoalan yang sulit diselesaikan sendiri. Di titik inilah program peningkatan kualitas rumah tidak layak huni Pemerintah Kota Jambi berusaha menghadirkan intervensi yang langsung menyentuh kehidupan warga.

Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha menyerahkan bantuan sosial peningkatan kualitas Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) kepada Sukirman, 58 tahun, warga Jalan H. Samsoe Bachroen RT 03, Kelurahan Selamat, Kecamatan Danau Sipin, Sabtu (18 Juli 2026). Bantuan senilai Rp20 juta tersebut bersumber dari APBD Kota Jambi Tahun Anggaran 2026.

Program itu bukan semata-mata tentang memperbaiki bangunan. Ia merupakan bagian dari upaya pemerintah memperbaiki kualitas hidup masyarakat kurang mampu melalui akses terhadap hunian yang lebih aman, sehat, dan layak.

Bantuan Rp20 Juta untuk Meningkatkan Kualitas Hunian

Diza mengatakan bantuan peningkatan kualitas RTLH merupakan salah satu program unggulan Pemerintah Kota Jambi yang dilaksanakan melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim).

Program tersebut diarahkan untuk membantu masyarakat yang kondisi tempat tinggalnya belum memenuhi standar kelayakan. Pemerintah tidak hanya melihat rumah sebagai bangunan fisik, tetapi juga sebagai bagian dari lingkungan yang menentukan kualitas kehidupan sebuah keluarga.

Dalam penyerahan bantuan kepada Sukirman, Diza turun langsung melihat kondisi rumah penerima manfaat. Ia juga mengapresiasi masyarakat RT 03 yang turut membantu proses pembangunan, baik melalui tenaga maupun dukungan material.

“Alhamdulillah untuk proses pembangunan rumah dibantu dengan partisipasi warga berjalan lancar. Mudah-mudahan ini bisa dimanfaatkan dengan baik untuk Bapak Sukirman dan keluarga dalam hal peningkatan kualitas hidupnya,” ujar Diza.

Pernyataan tersebut memperlihatkan satu unsur penting dalam program ini: pemerintah tidak bekerja sendirian.

23 Titik dari APBD Kota Jambi

Menurut Diza, pada 2026 Pemerintah Kota Jambi menargetkan pembenahan kualitas hunian di 23 titik melalui program yang bersumber dari APBD Kota Jambi.

Jumlah tersebut berada di luar bantuan yang diberikan melalui Baznas dan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dari pemerintah pusat. Jika berbagai sumber bantuan tersebut diperhitungkan, Diza menyebut terdapat sekitar 300 titik pembenahan kualitas tempat tinggal masyarakat Kota Jambi pada tahun ini.

Angka tersebut memberikan gambaran bahwa persoalan rumah tidak layak huni membutuhkan pendekatan lintas program dan lintas lembaga.

APBD menjadi salah satu instrumen pemerintah kota. Pada saat yang sama, Baznas dan pemerintah pusat melalui BSPS turut mengambil peran dalam memperluas cakupan penerima manfaat.

Dengan model seperti ini, keterbatasan anggaran satu institusi dapat diimbangi dengan kolaborasi berbagai pihak.

Rumah Layak sebagai Bagian dari Kesejahteraan

Persoalan hunian sering kali ditempatkan di bawah isu pembangunan fisik. Padahal, kualitas rumah memiliki hubungan erat dengan kesejahteraan keluarga.

Rumah yang tidak layak dapat menghadirkan berbagai persoalan: keamanan yang rendah, kondisi sanitasi yang buruk, kerentanan terhadap cuaca, hingga ketidaknyamanan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Karena itu, perbaikan rumah bagi keluarga kurang mampu memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar perubahan bentuk bangunan.

Rumah yang lebih aman memberikan ruang bagi keluarga untuk menjalani kehidupan dengan lebih tenang. Hunian yang lebih sehat juga dapat mendukung kualitas kehidupan anggota keluarga.

Dalam kerangka pembangunan sosial, intervensi semacam ini menjadi salah satu bentuk perlindungan bagi kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan sumber daya untuk memperbaiki kondisi tempat tinggalnya sendiri.

Gotong Royong Menjadi Bagian dari Solusi

Salah satu aspek yang menonjol dalam pembangunan rumah Sukirman adalah keterlibatan masyarakat sekitar.

Selama proses pembangunan berlangsung, warga RT 03 turut membantu. Bahkan, menurut Diza, masyarakat setempat memberikan tempat tinggal sementara kepada Sukirman selama rumahnya diperbaiki.

Dukungan tersebut menunjukkan bahwa program pemerintah dapat menjadi lebih kuat ketika bertemu dengan solidaritas masyarakat.

“Kami mewakili Pemerintah Kota berterima kasih juga kepada seluruh masyarakat di RT 03, khususnya yang telah memberikan tempat tinggal kepada Pak Sukirman selama proses pembangunan rumahnya,” kata Diza.

Dalam konteks perkotaan yang semakin kompleks, praktik gotong royong semacam ini memiliki arti tersendiri.

Pemerintah menyediakan intervensi dan sumber daya, sementara masyarakat menghadirkan dukungan sosial di tingkat lingkungan. Keduanya menciptakan mekanisme bantuan yang lebih dekat dengan penerima manfaat.

Tidak Hanya Membangun Rumah, tetapi Memulihkan Rasa Aman

Program bedah rumah sering kali diukur dari perubahan fisik: rumah yang sebelumnya rusak menjadi lebih baik.

Namun, ada dimensi lain yang tidak kalah penting, yakni rasa aman dan martabat keluarga.

Hunian yang layak memungkinkan seseorang menjalani kehidupan tanpa terus-menerus dibayangi kekhawatiran terhadap kondisi rumahnya. Bagi keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas, perubahan tersebut dapat menjadi bentuk pemulihan yang signifikan.

Karena itu, program peningkatan kualitas RTLH dapat dipandang sebagai investasi sosial.

Pemerintah bukan sekadar memperbaiki dinding atau atap, melainkan membantu menciptakan kondisi dasar agar keluarga penerima manfaat dapat menjalani kehidupan yang lebih layak.

Diza: Program Diharapkan Berkelanjutan

Diza berharap program peningkatan kualitas hunian semacam ini dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang.

Ia menilai manfaat program sangat dirasakan masyarakat, khususnya kelompok yang memiliki keterbatasan ekonomi.

“Mudah-mudahan program-program seperti ini terus berkelanjutan, karena banyak sekali manfaatnya untuk masyarakat Kota Jambi, terkhusus dalam peningkatan kualitas hidup di tahun-tahun ke depan,” ujarnya.

Harapan keberlanjutan menjadi penting karena persoalan RTLH tidak dapat diselesaikan hanya dalam satu tahun anggaran.

Kondisi rumah masyarakat terus berubah. Rumah yang hari ini masih layak dapat mengalami kerusakan dalam beberapa tahun. Sementara keluarga dengan kondisi ekonomi yang rentan mungkin tidak memiliki kemampuan untuk melakukan renovasi secara mandiri.

Karena itu, kesinambungan pendataan dan penentuan penerima manfaat menjadi bagian penting dari kebijakan hunian layak.

Kolaborasi Menentukan Jangkauan Program

Kasus Sukirman juga menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada besaran bantuan.

Ada pemerintah kota dengan anggaran APBD. Ada masyarakat yang membantu proses pembangunan. Ada pula lembaga lain yang menjalankan program serupa bagi kelompok penerima manfaat yang berbeda.

Model kolaboratif semacam ini dapat memperbesar jangkauan intervensi pemerintah.

Dalam persoalan perumahan masyarakat berpenghasilan rendah, kebutuhan biasanya jauh lebih besar daripada kapasitas satu sumber pembiayaan. Karena itu, sinkronisasi program pemerintah daerah, pemerintah pusat, lembaga filantropi, dan masyarakat menjadi penting.

Tujuannya bukan sekadar memperbanyak jumlah rumah yang direnovasi, tetapi memastikan bantuan sampai kepada keluarga yang paling membutuhkan dan memberikan hasil yang benar-benar berkelanjutan.

Menghubungkan Hunian Layak dengan Visi Kota Jambi Bahagia

Pemerintah Kota Jambi menempatkan program peningkatan kualitas RTLH sebagai salah satu bagian dari upaya mewujudkan Kota Jambi Bahagia.

Konsep tersebut memiliki dimensi yang cukup konkret.

Kebahagiaan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi atau pembangunan infrastruktur berskala besar. Ia juga berkaitan dengan kondisi sehari-hari yang lebih sederhana: memiliki rumah yang aman, lingkungan yang mendukung, akses terhadap pelayanan dasar, dan kehidupan keluarga yang lebih stabil.

Karena itu, pembangunan hunian layak dapat menjadi salah satu indikator penting kualitas pembangunan yang langsung dirasakan warga.

Di sisi lain, program ini juga mengingatkan bahwa pembangunan kota tidak hanya berlangsung di jalan utama, pusat pemerintahan, atau kawasan komersial.

Pembangunan juga terjadi di rumah-rumah warga yang selama bertahun-tahun mungkin luput dari perhatian.

Pekerjaan Berikutnya: Memastikan Tidak Ada yang Tertinggal

Penyerahan bantuan kepada Sukirman menyelesaikan satu persoalan bagi satu keluarga. Namun, pada skala kota, pekerjaan tersebut masih panjang.

Pemerintah perlu memastikan pendataan RTLH dilakukan secara akurat, penerima bantuan ditetapkan berdasarkan kebutuhan, dan pembangunan benar-benar memenuhi standar hunian yang layak.

Di saat yang sama, partisipasi masyarakat perlu terus dijaga. Pengalaman di RT 03 menunjukkan bahwa gotong royong dapat menjadi kekuatan tambahan dalam program pemerintah.

Ketika bantuan pemerintah bertemu dengan kepedulian warga, proses pembangunan tidak hanya menghasilkan rumah yang lebih baik, tetapi juga memperkuat hubungan sosial di lingkungan tempat tinggal.

Dari Rumah yang Diperbaiki ke Kehidupan yang Lebih Baik

Bantuan Rp20 juta kepada Sukirman mungkin terlihat sederhana jika dibandingkan dengan besarnya anggaran pembangunan kota. Namun, bagi sebuah keluarga yang tinggal di rumah tidak layak, nilai tersebut dapat menjadi titik perubahan yang nyata.

Program peningkatan kualitas RTLH memperlihatkan bagaimana kebijakan publik dapat bekerja pada skala yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.

Pemerintah menyediakan bantuan. Masyarakat bergotong royong. Keluarga penerima manfaat memperoleh hunian yang lebih aman dan layak.

Di situlah makna program ini melampaui istilah bedah rumah.

Rumah bukan sekadar tempat berlindung. Ia adalah ruang bagi keluarga untuk membangun kehidupan, menjaga kesehatan, membesarkan anak, dan mempertahankan martabat.

Bagi Pemerintah Kota Jambi, pekerjaan berikutnya adalah memastikan semakin banyak keluarga memperoleh kesempatan yang sama.

Sebab, ukuran sebuah kota yang sejahtera tidak hanya terlihat dari gedung-gedung yang dibangun, tetapi juga dari bagaimana kota tersebut memperlakukan warganya yang paling membutuhkan.

Dalam konteks itulah, program hunian layak menjadi bagian penting dari perjalanan menuju Kota Jambi Bahagia: memastikan bahwa pembangunan tidak hanya tumbuh ke atas, tetapi juga menyentuh kehidupan warga dari rumah ke rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lanjut Baco

NGOFILM Hadirkan Ruang Santai dan Inspirasi, 23 Peserta Ngopi Sambil Nonton Film di Co-Working Space Rumah BUMN Jambi

28 Agustus 2026 - 07:53 WIB

Lindungi Merek, Perkuat Usaha: Rumah BUMN Jambi Edukasi UMK tentang Pentingnya HKI

28 Agustus 2026 - 02:12 WIB

Festival Batanghari 2026 Jadi Panggung Produk Lokal, 20 UMK Ramaikan Kampung Ekraf

28 Agustus 2026 - 02:01 WIB

Kanwil Kementerian Hukum RI Jambi dan Rumah BUMN Jambi Perkuat Sinergi Perlindungan Kekayaan Intelektual UMKM

24 Agustus 2026 - 08:25 WIB

Rumah BUMN Jambi dan GoFood Latih Pedagang Pasar Tradisional Go Digital

20 Agustus 2026 - 01:37 WIB

#JambiBergerak BERITA