Menu

Mode Gelap
Ekspor ke Malaysia Masih Terbuka Lebar, Rumah BUMN Jambi Bekali 100 UMKM Strategi Go Global Pengurus GP Ansor Provinsi Jambi 2024-2028 Resmi Dilantik

BERITA

Pimpin Upacara HUT ke-81 RI, Wali Kota Maulana Tekankan Kolaborasi dan Pembangunan Berkelanjutan

badge-check


					Pimpin Upacara HUT ke-81 RI, Wali Kota Maulana Tekankan Kolaborasi dan Pembangunan Berkelanjutan Perbesar

Kemerdekaan dan Pekerjaan Rumah Sebuah Kota

Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Jambi berlangsung dalam suasana khidmat, tetapi pesan yang disampaikan Wali Kota Jambi Maulana jauh melampaui seremoni. Di hadapan jajaran pemerintah daerah dan masyarakat, ia menghubungkan makna kemerdekaan dengan pekerjaan yang lebih konkret: menjaga kebersihan, keamanan, mengendalikan banjir, dan memastikan pembangunan kota berjalan secara berkelanjutan.

Maulana memimpin langsung upacara pengibaran Bendera Merah Putih di lapangan utama Kantor Wali Kota Jambi, Senin (17/8/2026). Upacara diikuti Wakil Wali Kota Diza Hazra Aljosha, jajaran Forkopimda, Sekretaris Daerah Kota Jambi A. Ridwan, serta ASN di lingkungan Pemkot Jambi.

Bagi Maulana, kemerdekaan tidak cukup dimaknai melalui perayaan. Ia harus diterjemahkan menjadi kerja bersama yang menghasilkan perubahan nyata bagi masyarakat.

Kolaborasi Menjadi Cara Mengisi Kemerdekaan

Usai upacara, Maulana menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan rangkaian peringatan HUT ke-81 RI, termasuk Paskibraka Kota Jambi yang menjalankan tugas pengibaran bendera.

Namun, inti pesannya berada pada ajakan kepada seluruh elemen masyarakat untuk mengisi kemerdekaan melalui kebersamaan dan pembangunan.

“Pembangunan Kota Jambi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh masyarakat.”

Pernyataan tersebut menempatkan masyarakat bukan sekadar penerima manfaat pembangunan, melainkan bagian dari proses pembangunan itu sendiri.

Dalam konteks kota yang terus berkembang, pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian. Kebersihan lingkungan, keamanan, pengelolaan sampah, pengendalian banjir, hingga pertumbuhan ekonomi membutuhkan partisipasi warga dan koordinasi lintas sektor.

Kebersihan dan Keamanan sebagai Fondasi Ekonomi

Maulana mengaitkan dua hal yang sering dianggap sebagai persoalan pelayanan dasar—kebersihan dan keamanan—dengan agenda pertumbuhan ekonomi Kota Jambi.

Ia menyebut lingkungan yang bersih dan kondisi keamanan yang baik sebagai bagian dari prasyarat agar aktivitas ekonomi dapat tumbuh sesuai target 6 persen.

“Dengan kebersihan dan keamanan yang baik, insyaallah pertumbuhan ekonomi kita dapat sesuai target, yaitu mencapai 6 persen.”

Logikanya cukup sederhana. Kota yang bersih dan aman menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi masyarakat, pelaku usaha, wisatawan, serta berbagai aktivitas ekonomi.

Tetapi menjaga kondisi tersebut bukan hanya persoalan pemerintah. Kebersihan, misalnya, sangat bergantung pada perilaku masyarakat dalam mengelola sampah dan menjaga lingkungan tempat tinggal.

Karena itu, kolaborasi menjadi kata kunci.

Pengendalian Banjir Menjadi Agenda Strategis

Di antara berbagai pekerjaan pembangunan yang disampaikan Maulana, persoalan banjir menjadi salah satu perhatian utama.

Pemkot Jambi tengah membangun kolam retensi sebagai bagian dari upaya menangani persoalan banjir pada Sistem Sungai Asam. Infrastruktur tersebut diproyeksikan dapat mengurangi dampak banjir hingga sekitar 60 persen pada sistem tersebut.

Namun, pemerintah kota menyadari bahwa persoalan banjir tidak selesai hanya dengan satu proyek.

Masih terdapat dua sistem lainnya, yakni Sistem Kenali dan Sistem Kambang. Lahan untuk pembangunan infrastruktur pengendalian banjir pada kedua sistem tersebut telah dipersiapkan.

Maulana berharap penyelesaian ketiga sistem tersebut dapat dilakukan secara bertahap.

“Kalau tiga sistem ini bisa kita selesaikan, insyaallah persoalan banjir dapat kita tanggulangi secara bertahap.”

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian banjir dipandang sebagai pekerjaan jangka panjang, bukan respons sesaat ketika musim hujan tiba.

Infrastruktur Tidak Berdiri Sendiri

Pembangunan kolam retensi juga memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap infrastruktur perkotaan. Beberapa hari setelah upacara kemerdekaan, Maulana bersama Diza menanam pohon di kawasan Kolam Retensi Telaga Kajang Lako yang dirancang tidak hanya sebagai infrastruktur pengendali banjir, tetapi juga ruang publik dan ruang terbuka hijau.

Kawasan tersebut direncanakan memiliki jogging track sekitar 1,4 kilometer serta ruang yang dapat mendukung aktivitas masyarakat dan ekonomi kreatif.

Dengan demikian, pengendalian banjir dan kualitas ruang hidup kota mulai ditempatkan dalam satu kerangka pembangunan.

Infrastruktur harus menyelesaikan persoalan teknis, tetapi pada saat yang sama tetap memberikan nilai tambah bagi kehidupan masyarakat.

Sampah dan Lingkungan Masuk dalam Agenda Pembangunan

Selain banjir, pengelolaan sampah menjadi bagian lain dari agenda lingkungan yang disoroti pemerintah kota.

Maulana menyebut masih ada sejumlah RT yang akan memasuki tahap kedua pelaksanaan Optimalisasi Pengelolaan Bank Sampah Masyarakat (OPBM), termasuk rencana pengadaan bentor. Program tersebut ditargetkan dapat diselesaikan secara keseluruhan.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan berkelanjutan di tingkat kota tidak selalu berbentuk proyek besar. Pengelolaan sampah di tingkat lingkungan, partisipasi warga, dan sistem pengangkutan yang lebih efektif juga merupakan bagian dari infrastruktur kehidupan perkotaan.

Jika persoalan lingkungan ditangani dari tingkat komunitas, pemerintah memiliki peluang lebih besar untuk membangun sistem yang tidak hanya bergantung pada intervensi pemerintah, tetapi juga pada kesadaran masyarakat.

Kemerdekaan sebagai Tanggung Jawab Bersama

Peringatan HUT ke-81 RI pada akhirnya membawa kembali pertanyaan klasik: bagaimana kemerdekaan diisi setelah perjuangan generasi terdahulu berakhir?

Bagi Kota Jambi, jawaban Maulana berangkat dari persoalan yang sangat konkret. Menjaga lingkungan, meningkatkan keamanan, menyelesaikan persoalan banjir, memperbaiki pengelolaan sampah, dan mendorong pertumbuhan ekonomi merupakan bagian dari upaya membangun kota yang lebih layak dihuni.

Di sana terdapat pergeseran penting dalam cara memaknai kemerdekaan. Nasionalisme tidak hanya ditunjukkan melalui upacara atau simbol kebangsaan, tetapi juga melalui kesediaan setiap warga mengambil bagian dalam persoalan bersama.

Dari Upacara Menuju Kerja Panjang

Upacara HUT ke-81 RI mungkin berlangsung hanya dalam beberapa jam. Namun pekerjaan yang dibicarakan di dalamnya membutuhkan waktu jauh lebih panjang.

Kolam retensi harus dibangun dan dirawat. Sistem pengendalian banjir perlu diperluas. Kebersihan harus dijaga setiap hari. Keamanan membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat. Dan pertumbuhan ekonomi memerlukan lingkungan yang mendukung aktivitas usaha.

Karena itu, pesan Maulana pada peringatan kemerdekaan tahun ini pada dasarnya bukan sekadar tentang bagaimana Kota Jambi merayakan masa lalu, tetapi bagaimana kota tersebut menyiapkan masa depannya.

Kemerdekaan memberi ruang bagi bangsa untuk menentukan arah sendiri. Di tingkat kota, ruang itu diterjemahkan melalui pilihan-pilihan pembangunan—dan keberhasilannya akan sangat bergantung pada seberapa kuat pemerintah dan masyarakat mampu berjalan bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lanjut Baco

NGOFILM Hadirkan Ruang Santai dan Inspirasi, 23 Peserta Ngopi Sambil Nonton Film di Co-Working Space Rumah BUMN Jambi

28 Agustus 2026 - 07:53 WIB

Lindungi Merek, Perkuat Usaha: Rumah BUMN Jambi Edukasi UMK tentang Pentingnya HKI

28 Agustus 2026 - 02:12 WIB

Festival Batanghari 2026 Jadi Panggung Produk Lokal, 20 UMK Ramaikan Kampung Ekraf

28 Agustus 2026 - 02:01 WIB

Kanwil Kementerian Hukum RI Jambi dan Rumah BUMN Jambi Perkuat Sinergi Perlindungan Kekayaan Intelektual UMKM

24 Agustus 2026 - 08:25 WIB

Rumah BUMN Jambi dan GoFood Latih Pedagang Pasar Tradisional Go Digital

20 Agustus 2026 - 01:37 WIB

#JambiBergerak BERITA