152 Tim, Satu Lapangan dan Masa Depan Futsal Kota Jambi
Sebanyak 152 tim dari jenjang SD, SMP, hingga SMA memenuhi arena AFKOT Championship V Tahun 2026 di GOR Kota Baru, Kota Jambi. Jumlah peserta itu bukan sekadar menunjukkan tingginya minat terhadap futsal, tetapi juga memperlihatkan besarnya ruang yang tersedia untuk menemukan dan membina talenta olahraga muda di Kota Jambi.
Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha membuka secara resmi turnamen tersebut pada Sabtu sore, 15 Agustus 2026. Dalam kesempatan itu, Diza menekankan bahwa kompetisi olahraga harus ditempatkan lebih jauh dari sekadar perebutan gelar juara. Sportivitas, kedisiplinan, kerja sama, dan pembentukan karakter menjadi nilai yang menurutnya tidak kalah penting dari hasil pertandingan.

Pesan tersebut datang di tengah perubahan pola kehidupan anak dan remaja yang semakin dipengaruhi teknologi digital. Pemerintah Kota Jambi melihat olahraga sebagai salah satu ruang alternatif agar generasi muda tetap memiliki aktivitas yang sehat, produktif, dan membangun interaksi sosial.
Futsal sebagai Ruang Pembentukan Karakter
Bagi Diza, perkembangan teknologi membawa manfaat besar, tetapi penggunaannya tetap membutuhkan keseimbangan. Anak-anak dan remaja membutuhkan ruang untuk bergerak, berinteraksi, dan belajar menghadapi situasi nyata bersama orang lain.
Turnamen futsal menyediakan ruang tersebut.
Di lapangan, seorang pemain tidak dapat bekerja sendirian. Ia harus memahami posisi rekan satu tim, mengikuti strategi, mematuhi keputusan wasit, dan menerima konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil.
Kemenangan pun tidak selalu datang. Kekalahan menjadi bagian dari kompetisi yang harus diterima dengan kepala tegak.
Diza menilai pengalaman tersebut dapat membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, serta sikap menghargai lawan. Ia meminta peserta AFKOT Championship V tidak menjadikan kemenangan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
“Junjung tinggi sportifitas dalam setiap pertandingan,” pesan Diza kepada para peserta.
Dengan demikian, olahraga diposisikan sebagai bagian dari pendidikan karakter yang berlangsung di luar ruang kelas.
Di Tengah Teknologi, Anak Muda Membutuhkan Ruang Nyata
Perhatian terhadap aktivitas olahraga juga berkaitan dengan perubahan cara generasi muda menghabiskan waktu.
Ponsel, media sosial, gim, dan berbagai platform digital telah menjadi bagian dari keseharian anak-anak. Teknologi memberikan akses terhadap informasi dan hiburan yang luas, tetapi penggunaan yang berlebihan juga dapat mengurangi aktivitas fisik dan interaksi langsung.
Karena itu, keberadaan kompetisi seperti AFKOT Championship menjadi penting bukan karena olahraga harus berhadapan dengan teknologi, melainkan karena keduanya perlu ditempatkan secara seimbang.
Diza menilai sinergi antara pemerintah, orang tua, tenaga pendidik, serta organisasi dan asosiasi olahraga dibutuhkan untuk menciptakan ruang kegiatan yang sehat dan edukatif bagi anak-anak serta remaja.
Di titik inilah turnamen olahraga dapat berfungsi lebih luas: bukan hanya sebagai arena kompetisi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem pembinaan generasi muda.
152 Tim Menunjukkan Besarnya Minat Futsal
Ketua AFKOT Jambi M. Ananda Parnas menyebut jumlah peserta AFKOT Championship V mencapai 152 tim yang berasal dari tingkat SD, SMP, hingga SMA se-Kota Jambi. Angka tersebut menjadi indikator kuat mengenai tingginya antusiasme pelajar terhadap olahraga futsal.
Turnamen ini juga memiliki fungsi yang lebih strategis. Kompetisi tersebut menjadi bagian dari proses pembinaan sekaligus pencarian tim terbaik yang nantinya akan membawa nama Kota Jambi ke tingkat Provinsi Jambi.
“Siapapun pemenangnya nanti, akan mewakili Kota Jambi di tingkat provinsi,” kata Ananda.
Dengan mekanisme tersebut, kompetisi tingkat kota menjadi salah satu pintu masuk menuju jenjang prestasi yang lebih tinggi.
Bagi para pemain muda, kesempatan seperti itu penting. Mereka tidak hanya memperoleh pengalaman bertanding, tetapi juga dapat mengetahui sejauh mana kemampuan mereka ketika berhadapan dengan tim lain.
Dari Kompetisi Menuju Sistem Pembinaan
Persoalan yang lebih besar bagi olahraga daerah sebenarnya bukan hanya bagaimana menemukan atlet berbakat, melainkan bagaimana memastikan bakat tersebut terus berkembang.
Seorang pemain muda mungkin memiliki kemampuan teknis yang baik. Namun tanpa latihan berkelanjutan, pelatih yang kompeten, kompetisi yang rutin, serta dukungan lingkungan, potensi tersebut dapat berhenti di tingkat sekolah.
Karena itu, keberlanjutan AFKOT Championship hingga memasuki edisi kelima menjadi hal yang penting. Konsistensi kompetisi memberikan kesempatan kepada atlet muda untuk mendapatkan pengalaman secara berkala.
Di sisi lain, pemerintah dan organisasi olahraga perlu memastikan kompetisi tersebut terhubung dengan sistem pembinaan yang lebih panjang.
Dengan begitu, turnamen tidak hanya menghasilkan juara setiap tahun, tetapi juga menghasilkan pemain-pemain yang berkembang dari satu kelompok usia ke kelompok usia berikutnya.
Pemerintah, Sekolah, dan Orang Tua Memiliki Peran
Pembinaan atlet muda tidak dapat dilakukan oleh asosiasi olahraga sendirian.
Sekolah berperan menyediakan lingkungan pendidikan yang mendukung. Orang tua menjadi fondasi dukungan dan pengawasan. Pelatih membentuk kemampuan teknis sekaligus mental. Sementara pemerintah dapat menyediakan fasilitas, kebijakan, dan dukungan terhadap kompetisi.
Diza menekankan pentingnya sinergi antara berbagai pihak tersebut. Pemerintah Kota Jambi, menurutnya, akan terus memberikan dukungan terhadap pengembangan olahraga dan kegiatan kepemudaan.
Pendekatan kolaboratif menjadi penting karena seorang atlet muda pada dasarnya tumbuh dalam lingkungan, bukan sendirian.
Sportivitas Lebih Panjang Umurnya daripada Trofi
Ada alasan mengapa sportivitas menjadi salah satu pesan utama dalam kompetisi ini.
Trofi hanya dimiliki oleh pemenang. Tetapi kemampuan menghargai lawan, menerima kekalahan, mengendalikan emosi, dan bermain sesuai aturan merupakan nilai yang dapat dibawa seorang anak sepanjang hidupnya.
Di lapangan futsal, nilai tersebut diuji secara langsung.
Seorang pemain belajar bahwa keputusan wasit tidak selalu sesuai harapannya. Strategi tidak selalu berjalan. Lawan mungkin lebih kuat. Dan kemenangan tidak selalu menjadi miliknya.
Cara seorang anak merespons keadaan tersebut sering kali lebih penting daripada skor akhir.
Mencari Juara, Menyiapkan Generasi
AFKOT Championship V pada akhirnya memang tetap merupakan kompetisi. Akan ada tim yang menang, ada yang tersingkir, dan akan ada satu tim yang memperoleh kesempatan membawa nama Kota Jambi ke tingkat provinsi.
Tetapi nilai terbesar dari 152 tim yang bertanding mungkin tidak tercatat di papan skor.
Nilai itu berada pada anak-anak yang memilih datang ke lapangan, berlatih, bekerja sama, menerima kekalahan, dan kembali mencoba. Di sana pula pembinaan atlet muda menemukan maknanya.
Bagi Kota Jambi, tantangannya kini bukan hanya mempertahankan antusiasme terhadap futsal, tetapi mengubah antusiasme tersebut menjadi jalur pembinaan atlet yang berkelanjutan.
Sebab, seorang juara mungkin lahir dari satu pertandingan. Namun atlet yang matang lahir dari proses yang panjang.
Dan dari 152 tim yang turun ke lapangan pada AFKOT Championship V, barangkali sebagian dari mereka sedang memulai proses itu.








