Menu

Mode Gelap
Ekspor ke Malaysia Masih Terbuka Lebar, Rumah BUMN Jambi Bekali 100 UMKM Strategi Go Global Pengurus GP Ansor Provinsi Jambi 2024-2028 Resmi Dilantik

BERITA

Ketika Hafalan Menjadi Fondasi Karakter, Jambi Menanam Investasi Generasi Qurani

badge-check


					Ketika Hafalan Menjadi Fondasi Karakter, Jambi Menanam Investasi Generasi Qurani Perbesar

JAMBI — Di tengah perubahan sosial yang bergerak semakin cepat dan penetrasi teknologi digital yang kian dalam ke kehidupan anak-anak, pendidikan karakter menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Bagi Pemerintah Kota Jambi, salah satu jawabannya bukan hanya melalui ruang kelas formal, tetapi juga dengan memperkuat pendidikan keagamaan yang menanamkan nilai, disiplin, dan keteladanan sejak usia dini.

Pesan itu mengemuka dalam Wisuda Santri Tahfizh Al-Qur’an Angkatan VII Rumah Mahir Qur’an Rayhana Maulidia, yang dihadiri Wali Kota Jambi Maulana bersama Bunda PAUD Kota Jambi Nadiyah di Maulidia Convention Center, Rabu, 29 Juli 2026. Kegiatan tersebut sekaligus menandai satu dekade pengabdian Rumah Mahir Qur’an Rayhana Maulidia dalam membina generasi yang mencintai Al-Qur’an.

Bagi Maulana, wisuda tahfizh tidak berhenti pada seremoni kelulusan. Ia melihat kemampuan menghafal Al-Qur’an sebagai salah satu bagian dari proses membangun karakter generasi muda yang menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan.

Sepuluh Tahun Menanam Pendidikan Al-Qur’an

Rumah Mahir Qur’an Rayhana Maulidia didirikan Maulana bersama keluarga sebagai bentuk kepedulian untuk memperluas akses pendidikan agama, terutama bagi keluarga kurang mampu. Lembaga tersebut tidak hanya berfokus pada pembinaan penghafal Al-Qur’an, tetapi juga berupaya memberantas buta aksara Al-Qur’an dan menanamkan nilai keislaman sejak usia dini.

Wisuda tahun ini mengusung tema “Satu Dekade Berkhidmat Melahirkan Generasi Qur’ani, Menuai Keberkahan di Bumi Pertiwi.”

Tema tersebut memberikan konteks yang lebih luas terhadap kegiatan tersebut. Sepuluh tahun bukan sekadar penanda usia sebuah lembaga, melainkan periode yang cukup panjang untuk melihat bagaimana pendidikan berbasis Al-Qur’an ditempatkan sebagai bagian dari investasi sosial.

Di tengah tuntutan pembangunan kota yang sering diukur melalui jalan, gedung, fasilitas publik, dan indikator ekonomi, pendidikan karakter menawarkan ukuran keberhasilan yang lebih panjang dan tidak selalu segera terlihat.

Anak-anak yang dibina hari ini adalah sumber daya manusia yang kelak akan memasuki ruang keluarga, dunia kerja, masyarakat, bahkan pemerintahan.

54 Santri Diwisuda, Hafalan Tertinggi Mencapai 11 Juz

Wisuda Tahfizh Rayhana Maulidia Angkatan VII Tahun 2026 diikuti 54 santri, terdiri atas 15 santri putra dan 39 santri putri. Seluruh peserta telah menyelesaikan setoran dan ujian hafalan minimal satu juz. Sementara capaian hafalan tertinggi pada tahun ini mencapai 11 juz.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tahfizh memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar kemampuan mengingat teks.

Proses menghafal membutuhkan konsistensi, pengulangan atau murajaah, kedisiplinan, serta dukungan lingkungan. Karena itu, capaian seorang santri juga dapat menjadi gambaran tentang keterlibatan keluarga dan para pengajar dalam menjaga proses pendidikan tersebut.

Direktur Rumah Mahir Qur’an Rayhana Maulidia, Aripli Kobri, menyebut peningkatan kualitas dan jumlah hafalan dari tahun ke tahun sebagai salah satu indikator keberhasilan pembinaan yang dilakukan lembaga tersebut.

Maulana: Generasi Penghafal Al-Qur’an adalah Aset Daerah

Dalam sambutannya, Maulana menempatkan para penghafal Al-Qur’an sebagai bagian dari aset sosial Kota Jambi.

“Anak-anak yang menghafal Al-Qur’an adalah aset berharga bagi keluarga, masyarakat, dan daerah.”

Menurutnya, pembangunan Kota Jambi tidak cukup hanya diarahkan pada pembangunan fisik dan infrastruktur. Pembangunan sumber daya manusia yang memiliki keimanan, akhlak, ilmu, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an juga merupakan bagian penting dari pembangunan daerah.

Perspektif tersebut menarik karena memperluas makna pembangunan.

Sebuah kota pada akhirnya tidak hanya dibentuk oleh kualitas infrastrukturnya, tetapi juga oleh kualitas manusia yang tinggal di dalamnya.

Jalan dan gedung dapat dibangun dalam hitungan tahun. Namun, membentuk manusia yang berkarakter membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.

Tantangan Generasi Muda di Tengah Arus Digital

Maulana secara khusus mengajak para orang tua untuk terus mendampingi anak-anak mereka agar mampu menjaga hafalan dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga menyinggung tantangan perkembangan teknologi dan arus digitalisasi yang semakin deras.

“Kita patut bersyukur memiliki anak-anak yang memilih jalan Al-Qur’an di tengah derasnya perkembangan teknologi dan arus digitalisasi.”

Pernyataan tersebut tidak harus dibaca sebagai pertentangan antara agama dan teknologi.

Justru tantangan utamanya adalah bagaimana generasi muda dapat menggunakan teknologi tanpa kehilangan fondasi moral.

Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang memungkinkan mereka memperoleh informasi hampir tanpa batas. Dalam situasi semacam itu, kemampuan memilih, menyaring, dan mempertanggungjawabkan informasi menjadi semakin penting.

Pendidikan agama dapat menjadi salah satu fondasi nilai dalam proses tersebut.

Orang Tua Menjadi Bagian Penting dari Pendidikan

Sekolah atau lembaga pendidikan tidak dapat bekerja sendirian.

Maulana menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi santri menjaga hafalan sekaligus mengamalkan nilai Al-Qur’an.

Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan Qurani tidak seharusnya berhenti ketika seorang anak meninggalkan ruang belajar.

Hafalan membutuhkan pengulangan di rumah. Nilai membutuhkan keteladanan. Akhlak membutuhkan praktik dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, keluarga menjadi ruang pendidikan kedua yang menentukan apakah pengetahuan agama benar-benar berubah menjadi kebiasaan dan karakter.

Pendidikan Spiritual dan Pembangunan Sumber Daya Manusia

Maulana juga menyampaikan komitmennya bersama Bunda PAUD Kota Jambi untuk terus berkontribusi dalam bidang pendidikan dan kesehatan sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang berkualitas, baik secara intelektual maupun spiritual.

Pernyataan itu memperlihatkan pendekatan pembangunan manusia yang mencoba menghubungkan beberapa dimensi sekaligus.

Kecerdasan akademik diperlukan.

Kesehatan diperlukan.

Namun, keduanya membutuhkan fondasi karakter agar pengetahuan dan kemampuan tersebut digunakan secara bertanggung jawab.

Dalam kerangka itulah pendidikan Al-Qur’an dapat ditempatkan sebagai bagian dari investasi sumber daya manusia.

Guru Mengisi Bagian yang Tidak Bisa Digantikan Teknologi

Di balik capaian 54 santri tersebut terdapat para ustaz dan ustazah yang mendampingi proses pembelajaran.

Maulana menyampaikan apresiasi kepada para pengajar Rumah Mahir Qur’an Rayhana Maulidia yang telah mendedikasikan waktu dan ilmu untuk membimbing santri menjadi generasi yang berakhlak mulia dan memiliki wawasan keislaman.

Peran mereka menjadi semakin penting ketika pendidikan berlangsung di tengah perubahan teknologi.

Teknologi dapat menyediakan akses terhadap teks, audio, video, bahkan berbagai metode belajar Al-Qur’an.

Tetapi pembentukan karakter membutuhkan hubungan manusia dengan manusia: seorang guru yang memberi contoh, mengoreksi, memotivasi, dan memahami perkembangan peserta didik.

Dari Menghafal Menuju Mengamalkan

Salah satu pesan penting dalam wisuda tersebut adalah bahwa capaian hafalan seharusnya tidak menjadi tujuan akhir.

Aripli berharap para santri terus meningkatkan hafalan, memperbanyak murajaah, serta mengamalkan kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kata lain, keberhasilan pendidikan tahfizh tidak hanya dapat diukur dari jumlah juz yang berhasil dihafal.

Ada pertanyaan yang lebih substantif: bagaimana hafalan tersebut membentuk perilaku?

Apakah ia membuat anak lebih disiplin?

Lebih menghormati orang tua?

Lebih bertanggung jawab?

Lebih peduli kepada sesama?

Dan mampu menggunakan ilmu yang dimilikinya untuk memberi manfaat?

Di situlah pendidikan Qurani menemukan makna sosialnya.

Investasi Jangka Panjang untuk Kota Jambi

Aripli menyebut dukungan terhadap pendidikan Al-Qur’an sebagai investasi jangka panjang untuk membangun generasi muda Kota Jambi yang religius, berkarakter, dan berdaya saing.

Konsep investasi jangka panjang menjadi relevan karena manfaat pendidikan karakter jarang dapat dihitung secara instan.

Seorang anak yang hari ini belajar menghafal satu juz mungkin baru menunjukkan dampak pendidikannya bertahun-tahun kemudian.

Ia dapat tumbuh menjadi guru, dokter, pengusaha, birokrat, akademisi, atau profesi lainnya.

Apa pun bidangnya, nilai yang dibentuk sejak dini akan ikut memengaruhi cara ia mengambil keputusan.

Generasi Qurani di Tengah Kota yang Terus Berubah

Kota Jambi terus berkembang. Pemerintah daerah menjalankan agenda pembangunan di bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, lingkungan, hingga transformasi digital.

Di tengah perubahan tersebut, pembangunan manusia menjadi faktor yang menentukan arah perkembangan kota.

Pendidikan Qurani memberikan salah satu dimensi dalam proses tersebut.

Bukan untuk menggantikan pendidikan formal, tetapi melengkapinya dengan nilai-nilai yang diharapkan dapat membentuk manusia berpengetahuan sekaligus berakhlak.

Wisuda Tahfizh Rayhana Maulidia kemudian menjadi lebih dari sebuah acara penghargaan bagi para santri.

Ia menjadi pengingat bahwa pembangunan kota pada akhirnya selalu kembali kepada manusia.

Mengukur Keberhasilan dari Karakter

Capaian 54 santri dengan hafalan minimal satu juz dan capaian tertinggi 11 juz merupakan hasil yang patut dicatat. Namun, tantangan sesungguhnya berada setelah prosesi wisuda berakhir.

Para santri harus menjaga hafalan.

Keluarga harus terus mendampingi.

Para guru harus terus membimbing.

Dan masyarakat perlu menyediakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya generasi berkarakter.

Di titik itulah komitmen membangun generasi Qurani diuji.

Sebab, hafalan dapat dicatat dalam angka. Tetapi akhlak hanya dapat dilihat melalui perilaku.

Menanam Nilai untuk Masa Depan

Satu dekade Rumah Mahir Qur’an Rayhana Maulidia memperlihatkan bahwa pendidikan berbasis Al-Qur’an membutuhkan ketekunan dan kesinambungan. Wisuda Angkatan VII menjadi salah satu penanda perjalanan tersebut, sekaligus membuka babak baru bagi para santri untuk membawa hafalan mereka keluar dari ruang pendidikan menuju kehidupan sehari-hari.

Bagi Pemerintah Kota Jambi, pesan yang disampaikan Maulana menegaskan bahwa pembangunan manusia tidak dapat dipisahkan dari pembangunan karakter.

Di tengah derasnya digitalisasi, tantangan bukan lagi sekadar memastikan anak-anak memperoleh informasi sebanyak mungkin. Tantangannya adalah memastikan mereka memiliki kemampuan untuk menggunakan pengetahuan tersebut dengan bijak.

Dan mungkin, di situlah makna paling dalam dari sebuah wisuda tahfizh: bukan tentang berapa banyak ayat yang berhasil diingat, melainkan tentang seberapa jauh ayat-ayat yang dihafalkan mampu membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan memberi manfaat bagi lingkungannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lanjut Baco

NGOFILM Hadirkan Ruang Santai dan Inspirasi, 23 Peserta Ngopi Sambil Nonton Film di Co-Working Space Rumah BUMN Jambi

28 Agustus 2026 - 07:53 WIB

Lindungi Merek, Perkuat Usaha: Rumah BUMN Jambi Edukasi UMK tentang Pentingnya HKI

28 Agustus 2026 - 02:12 WIB

Festival Batanghari 2026 Jadi Panggung Produk Lokal, 20 UMK Ramaikan Kampung Ekraf

28 Agustus 2026 - 02:01 WIB

Kanwil Kementerian Hukum RI Jambi dan Rumah BUMN Jambi Perkuat Sinergi Perlindungan Kekayaan Intelektual UMKM

24 Agustus 2026 - 08:25 WIB

Rumah BUMN Jambi dan GoFood Latih Pedagang Pasar Tradisional Go Digital

20 Agustus 2026 - 01:37 WIB

#JambiBergerak BERITA