Menu

Mode Gelap
Ekspor ke Malaysia Masih Terbuka Lebar, Rumah BUMN Jambi Bekali 100 UMKM Strategi Go Global Pengurus GP Ansor Provinsi Jambi 2024-2028 Resmi Dilantik

BERITA

Menjaga Jalanan, Menjaga Masa Depan: Jambi Memperkuat Perlawanan terhadap Geng Motor dan Kriminalitas Remaja

badge-check


					Menjaga Jalanan, Menjaga Masa Depan: Jambi Memperkuat Perlawanan terhadap Geng Motor dan Kriminalitas Remaja Perbesar

JAMBI — Persoalan geng motor dan kriminalitas remaja tidak semata-mata berkaitan dengan keamanan jalanan. Di balik aksi konvoi, balap liar, atau tindak kekerasan yang melibatkan anak muda, terdapat persoalan yang lebih panjang: bagaimana sebuah kota menjaga ruang tumbuh generasinya agar tidak berubah menjadi ruang yang mendorong kekerasan dan pelanggaran hukum.

Karena itu, Pemerintah Kota Jambi bersama Polresta Jambi memilih memperkuat kerja sama. Pada 29 Juli 2026, kedua institusi menyepakati komitmen bersama untuk menekan geng motor dan kriminalitas remaja di Kota Jambi.

Langkah tersebut menempatkan persoalan keamanan remaja sebagai agenda lintas sektor. Penanganannya tidak cukup mengandalkan tindakan kepolisian setelah pelanggaran terjadi, tetapi juga membutuhkan pencegahan, pengawasan, keterlibatan keluarga, pendidikan, serta penciptaan ruang positif bagi anak muda.

Geng Motor Bukan Sekadar Persoalan Ketertiban

Bagi sebuah kota, jalan raya merupakan ruang publik yang seharusnya dapat digunakan semua orang secara aman. Ketika sekelompok remaja menggunakan ruang tersebut untuk aktivitas yang membahayakan pengguna jalan atau berujung pada kekerasan, persoalannya segera berkembang menjadi persoalan keamanan publik.

Namun, melihat fenomena tersebut hanya sebagai masalah ketertiban juga berisiko membuat penanganannya terlalu sempit.

Di balik seorang remaja yang terlibat dalam kelompok kriminal atau geng motor, terdapat lingkungan sosial, keluarga, pergaulan, pendidikan, dan penggunaan waktu luang yang ikut membentuk perilakunya.

Karena itu, komitmen Pemkot Jambi dan Polresta Jambi menjadi penting karena membawa persoalan tersebut keluar dari pendekatan sektoral.

Dari Penindakan Menuju Pencegahan

Penegakan hukum tetap diperlukan ketika terjadi tindak pidana. Namun, pendekatan yang lebih berkelanjutan adalah mencegah anak-anak dan remaja memasuki lingkungan yang dapat menyeret mereka ke dalam tindakan kriminal.

Di sinilah pemerintah daerah memiliki ruang intervensi yang besar.

Program kepemudaan, olahraga, pendidikan karakter, kegiatan komunitas, pembinaan sosial, hingga ruang kreativitas dapat menjadi alternatif bagi anak muda untuk menyalurkan energi dan membangun identitas secara positif.

Dalam beberapa agenda pembangunan Kota Jambi, pemerintah juga telah mendorong penguatan karakter generasi muda dan memperluas aktivitas olahraga serta kreativitas. Pendekatan semacam itu menjadi relevan dalam konteks pencegahan kriminalitas remaja.

Sebab, ruang kosong dalam kehidupan anak muda hampir selalu akan diisi oleh sesuatu.

Pertanyaannya adalah: siapa yang mengisinya?

Polisi Tidak Bisa Bekerja Sendirian

Komitmen bersama antara pemerintah kota dan kepolisian menunjukkan bahwa persoalan keamanan membutuhkan kerja lintas institusi.

Polisi memiliki kewenangan dalam penegakan hukum dan menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat. Pemerintah daerah memiliki perangkat kebijakan dan program sosial yang dapat menyentuh akar persoalan.

Sekolah memiliki peran dalam pendidikan.

Keluarga memiliki posisi paling dekat dengan anak.

Sementara masyarakat dapat menjadi mata dan telinga lingkungan.

Jika setiap unsur bekerja sendiri, respons terhadap persoalan geng motor cenderung terputus-putus. Tetapi jika mereka membentuk satu sistem pencegahan, peluang untuk mengidentifikasi persoalan sejak awal menjadi lebih besar.

Keluarga Menjadi Garis Pertahanan Pertama

Kriminalitas remaja pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai anak yang melakukan pelanggaran.

Ia juga berbicara mengenai lingkungan yang membentuk anak tersebut.

Orang tua perlu mengetahui dengan siapa anak bergaul, bagaimana mereka menggunakan media sosial, kapan mereka berada di luar rumah, serta aktivitas apa yang mereka lakukan pada malam hari.

Pengawasan keluarga tidak berarti membatasi anak secara berlebihan. Yang lebih penting adalah membangun komunikasi sehingga anak memiliki tempat yang aman untuk bercerita ketika menghadapi persoalan.

Dalam konteks pencegahan geng motor, hubungan semacam itu dapat menjadi sistem peringatan dini.

Perubahan perilaku, pergaulan baru, atau keterlibatan dalam kelompok tertentu dapat diketahui lebih awal sebelum berkembang menjadi masalah hukum.

Media Sosial Mengubah Cara Kelompok Remaja Berkembang

Persoalan geng motor juga tidak dapat dipisahkan dari ekosistem digital.

Media sosial memungkinkan kelompok anak muda berkomunikasi, mengorganisasi pertemuan, dan menyebarkan rekaman aktivitas mereka dengan sangat cepat.

Di satu sisi, teknologi dapat menjadi sarana kreativitas.

Di sisi lain, ia dapat mempercepat penyebaran perilaku berisiko dan menciptakan tekanan sosial untuk mendapatkan pengakuan.

Karena itu, literasi digital menjadi bagian dari pencegahan kriminalitas remaja.

Anak muda perlu memahami bahwa tindakan yang direkam dan disebarkan di internet tidak berhenti ketika kegiatan berakhir. Jejak digital dapat bertahan lama dan memiliki konsekuensi sosial maupun hukum.

Ruang Positif untuk Anak Muda

Salah satu pertanyaan paling penting dalam menghadapi geng motor adalah apa yang dapat ditawarkan kota kepada generasi mudanya.

Larangan saja tidak cukup.

Penindakan saja juga tidak cukup.

Anak muda membutuhkan ruang untuk berkompetisi, berkreasi, berolahraga, berorganisasi, dan memperoleh penghargaan sosial melalui kegiatan yang konstruktif.

Kota Jambi memiliki modal tersebut.

Olahraga, seni, ekonomi kreatif, komunitas, kegiatan keagamaan, dan berbagai organisasi kepemudaan dapat menjadi kanal untuk mengarahkan energi anak muda.

Semakin banyak ruang positif tersedia, semakin besar pula kesempatan pemerintah dan masyarakat menjangkau kelompok remaja sebelum mereka masuk ke lingkungan berisiko.

Menjaga Keamanan Sekaligus Menjaga Masa Depan

Penanganan kriminalitas remaja memiliki dilema tersendiri.

Pemerintah harus tegas terhadap tindakan yang membahayakan masyarakat. Tetapi pada saat yang sama, anak-anak dan remaja yang melakukan pelanggaran masih berada dalam fase perkembangan.

Pendekatan yang hanya berorientasi pada hukuman berisiko mengabaikan kebutuhan rehabilitasi dan pembinaan.

Karena itu, sinergi antara aparat penegak hukum, pemerintah, keluarga, dan lembaga pendidikan menjadi penting.

Tujuannya bukan sekadar membuat seorang remaja berhenti melakukan pelanggaran, tetapi memastikan ia memiliki kesempatan untuk kembali ke jalur pendidikan dan kehidupan sosial yang sehat.

Keamanan Kota Dimulai dari Lingkungan

Geng motor dan kriminalitas remaja sering kali menjadi isu yang mencuat ketika terjadi kejadian besar.

Padahal, pencegahan seharusnya dimulai dari lingkungan paling kecil: keluarga, RT, sekolah, komunitas, hingga kelurahan.

Masyarakat perlu memiliki mekanisme untuk melaporkan aktivitas yang berpotensi mengganggu keamanan tanpa menunggu persoalan berkembang menjadi tindak kriminal.

Di sisi lain, aparat harus mampu merespons laporan masyarakat secara proporsional dan terukur.

Kepercayaan publik menjadi faktor penting dalam sistem tersebut.

Jika masyarakat percaya bahwa laporan mereka akan ditindaklanjuti, kecenderungan untuk berpartisipasi dalam menjaga lingkungan akan meningkat.

Jangan Sampai Ruang Publik Dikuasai Rasa Takut

Jalan kota, taman, fasilitas olahraga, dan ruang publik lainnya seharusnya menjadi tempat masyarakat beraktivitas tanpa rasa takut.

Ketika warga mulai menghindari ruang tertentu karena khawatir terhadap konvoi, kekerasan, atau kelompok kriminal, fungsi sosial ruang publik ikut terganggu.

Karena itu, menjaga keamanan jalan bukan sekadar persoalan lalu lintas.

Ia berkaitan dengan hak warga untuk menggunakan kotanya.

Seorang anak harus dapat bersepeda tanpa takut.

Orang tua harus dapat mengantar anak pulang tanpa rasa cemas.

Pedagang harus dapat menjalankan usaha tanpa terganggu aksi kekerasan.

Dan masyarakat harus dapat menikmati malam di kotanya dengan aman.

Tantangan Implementasi Ada Setelah Komitmen

Penandatanganan atau deklarasi komitmen merupakan titik awal, bukan garis akhir.

Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan komitmen tersebut menjadi tindakan yang terukur.

Berapa banyak patroli yang dilakukan?

Di wilayah mana aktivitas berisiko paling sering terjadi?

Berapa banyak laporan masyarakat yang ditindaklanjuti?

Berapa banyak remaja yang berhasil dialihkan ke kegiatan pembinaan?

Dan yang paling penting, apakah angka kriminalitas yang melibatkan anak muda benar-benar menurun?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar kebijakan tidak berhenti pada seremoni.

Komitmen publik harus menghasilkan indikator yang dapat dievaluasi.

Pendekatan Berbasis Data Dapat Memperkuat Kebijakan

Pemerintah dan kepolisian memiliki peluang untuk membangun sistem pemetaan risiko berdasarkan data.

Waktu kejadian, lokasi, jenis pelanggaran, kelompok usia, serta pola kejadian dapat dianalisis untuk menentukan wilayah yang membutuhkan perhatian lebih besar.

Dengan demikian, patroli dan program pencegahan tidak dilakukan secara acak.

Sumber daya dapat diarahkan ke titik yang paling membutuhkan.

Pendekatan berbasis data juga memungkinkan pemerintah mengevaluasi program secara objektif.

Jika suatu kebijakan tidak menghasilkan perubahan, pendekatannya dapat diperbaiki.

Menyatukan Penegakan Hukum dan Pembinaan

Komitmen Pemkot Jambi dan Polresta Jambi pada akhirnya menunjukkan kebutuhan untuk menjalankan dua pendekatan secara bersamaan.

Tegas ketika hukum dilanggar.

Mencegah sebelum pelanggaran terjadi.

Keduanya bukan pilihan yang saling bertentangan.

Penegakan hukum menjaga batas.

Pendidikan dan pembinaan membantu anak muda tetap berada di dalam batas tersebut.

Sementara keluarga dan masyarakat menyediakan lingkungan yang membuat batas itu dapat dipahami dan dihormati.

Generasi Muda Tidak Boleh Hanya Dilihat sebagai Risiko

Ada satu perubahan cara pandang yang penting.

Remaja tidak seharusnya hanya dilihat sebagai kelompok yang berpotensi membuat masalah.

Mereka juga merupakan kelompok yang memiliki energi, kreativitas, keberanian, dan kemampuan untuk menjadi kekuatan pembangunan kota.

Jika energi itu diarahkan ke olahraga, seni, teknologi, kewirausahaan, pendidikan, kegiatan sosial, dan komunitas, hasilnya dapat sangat berbeda.

Karena itu, agenda pemberantasan geng motor harus berjalan berdampingan dengan agenda pemberdayaan pemuda.

Kota tidak cukup hanya mengatakan kepada anak muda apa yang tidak boleh mereka lakukan.

Kota juga harus menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan.

Komitmen Bersama untuk Kota yang Lebih Aman

Kesepakatan Pemkot dan Polresta Jambi untuk menekan geng motor dan kriminalitas remaja merupakan respons terhadap kebutuhan menjaga keamanan sekaligus melindungi masa depan generasi muda. Pemerintah Kota Jambi dan kepolisian memiliki ruang untuk mengembangkan pendekatan yang menggabungkan pencegahan, penegakan hukum, pembinaan, dan pemberdayaan.

Pada akhirnya, keberhasilan kebijakan tersebut tidak akan diukur dari seberapa sering aparat melakukan penertiban.

Ukuran yang lebih penting adalah apakah semakin sedikit anak muda yang masuk ke dalam lingkaran kriminalitas.

Apakah keluarga merasa lebih aman.

Apakah ruang publik kembali menjadi ruang bersama.

Dan apakah anak-anak muda Kota Jambi menemukan cukup banyak alasan untuk memilih masa depan yang lebih baik.

Sebab, memerangi geng motor bukan hanya tentang menertibkan jalanan pada malam hari.

Ini adalah tentang memastikan bahwa jalan yang sama dapat dilalui generasi muda menuju masa depan mereka—tanpa kekerasan, tanpa kriminalitas, dan tanpa kehilangan kesempatan untuk tumbuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lanjut Baco

NGOFILM Hadirkan Ruang Santai dan Inspirasi, 23 Peserta Ngopi Sambil Nonton Film di Co-Working Space Rumah BUMN Jambi

28 Agustus 2026 - 07:53 WIB

Lindungi Merek, Perkuat Usaha: Rumah BUMN Jambi Edukasi UMK tentang Pentingnya HKI

28 Agustus 2026 - 02:12 WIB

Festival Batanghari 2026 Jadi Panggung Produk Lokal, 20 UMK Ramaikan Kampung Ekraf

28 Agustus 2026 - 02:01 WIB

Kanwil Kementerian Hukum RI Jambi dan Rumah BUMN Jambi Perkuat Sinergi Perlindungan Kekayaan Intelektual UMKM

24 Agustus 2026 - 08:25 WIB

Rumah BUMN Jambi dan GoFood Latih Pedagang Pasar Tradisional Go Digital

20 Agustus 2026 - 01:37 WIB

#JambiBergerak BERITA