Menu

Mode Gelap
Ekspor ke Malaysia Masih Terbuka Lebar, Rumah BUMN Jambi Bekali 100 UMKM Strategi Go Global Pengurus GP Ansor Provinsi Jambi 2024-2028 Resmi Dilantik

BERITA

Ketika Koperasi Kembali ke Akar Ekonomi Rakyat: Jambi Menghubungkan Gotong Royong dengan Kesejahteraan

badge-check


					Ketika Koperasi Kembali ke Akar Ekonomi Rakyat: Jambi Menghubungkan Gotong Royong dengan Kesejahteraan Perbesar

JAMBI — Di tengah ekonomi yang semakin bergerak melalui pasar digital, korporasi besar, dan transaksi yang serba cepat, koperasi membawa gagasan yang lebih tua sekaligus tetap relevan: ekonomi yang dibangun melalui kebersamaan. Di Kota Jambi, gagasan tersebut kembali ditegaskan dalam peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 Tahun 2026, yang tidak hanya diisi dengan seremoni, tetapi juga bantuan sosial dan upaya memperkuat kapasitas koperasi.

Pemerintah Kota Jambi menyalurkan 643 paket sembako kepada anak yatim, piatu, penyandang disabilitas, dan masyarakat kurang mampu. Pada saat yang sama, Gerakan Pasar Murah digelar bersama pelaku usaha dan UMKM sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas harga serta daya beli masyarakat.

Rangkaian kegiatan tersebut berlangsung di Lapangan Utama Kantor Wali Kota Jambi pada Kamis, 30 Juli 2026, dan dihadiri Wali Kota Jambi Maulana, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Tedy Arief Budiman, Kapolresta Jambi Kombes Pol. Ananto Herlambang, unsur Forkopimda, serta jajaran terkait.

Koperasi Tidak Hanya Berbicara tentang Anggota

Peringatan Hari Koperasi tahun ini mengusung tema “Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya.”

Tema tersebut memperoleh makna praktis di Kota Jambi. Pemerintah daerah mencoba menempatkan koperasi bukan hanya sebagai organisasi ekonomi yang mengelola kepentingan anggotanya, tetapi sebagai instrumen yang dapat memberi dampak lebih luas terhadap masyarakat.

“Koperasi tidak hanya memperkuat ekonomi anggotanya, tetapi juga menjadi wadah kebersamaan, gotong royong, dan pemberdayaan masyarakat,” kata Maulana.

Pernyataan itu menyentuh kembali gagasan dasar koperasi Indonesia: ekonomi yang tidak semata-mata berorientasi pada akumulasi keuntungan, tetapi juga pada kebersamaan dan kesejahteraan anggota serta masyarakat.

Dalam konteks Kota Jambi, gagasan tersebut dihadapkan pada persoalan yang jauh lebih konkret—kemiskinan, kesenjangan sosial, daya beli, penciptaan lapangan usaha, dan ketahanan ekonomi rumah tangga.

643 Paket Sembako sebagai Bentuk Kehadiran Ekonomi Kerakyatan

Penyaluran ratusan paket sembako menjadi bagian paling langsung dari peringatan Hari Koperasi 2026.

Sebanyak 643 paket diberikan kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan. Bagi penerima, bantuan tersebut memiliki arti praktis: mengurangi beban pengeluaran rumah tangga pada saat harga kebutuhan pokok dan kondisi ekonomi menjadi perhatian pemerintah.

Namun, bagi pemerintah daerah, agenda tersebut juga membawa pesan yang lebih luas.

Koperasi diharapkan tidak hanya berbicara mengenai aktivitas ekonomi internal, tetapi dapat menjadi bagian dari ekosistem kepedulian sosial.

Maulana menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendorong koperasi sebagai instrumen pembangunan daerah, termasuk untuk menekan kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pasar Murah dan Daya Beli Masyarakat

Dimensi lain dari peringatan Hari Koperasi adalah Gerakan Pasar Murah.

Kegiatan tersebut melibatkan pelaku usaha dan UMKM serta didukung melalui kolaborasi Pemkot Jambi dengan Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Jambi. Tujuannya bukan hanya memberikan akses terhadap kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau, tetapi juga membantu menjaga daya beli masyarakat.

Kebijakan seperti ini memiliki relevansi yang lebih besar ketika ditempatkan dalam konteks inflasi.

Ketika harga kebutuhan dasar meningkat, kelompok berpendapatan rendah biasanya menjadi pihak yang paling cepat merasakan tekanan. Sebagian besar pendapatan mereka digunakan untuk kebutuhan sehari-hari sehingga kenaikan harga pangan dapat langsung mengurangi ruang untuk memenuhi kebutuhan lainnya.

Karena itu, menjaga stabilitas harga bukan semata persoalan statistik ekonomi.

Ia menyentuh kehidupan rumah tangga secara langsung.

Dari Bantuan Sosial Menuju Pemberdayaan

Bantuan sembako dapat meringankan kebutuhan hari ini.

Tetapi kesejahteraan yang berkelanjutan membutuhkan sesuatu yang lebih permanen: pendapatan, pekerjaan, produktivitas, dan kesempatan usaha.

Di sinilah koperasi memiliki ruang untuk berperan.

Koperasi dapat menjadi wadah bagi pelaku usaha untuk memperoleh akses pembiayaan, memperluas jaringan pemasaran, meningkatkan kapasitas produksi, hingga memperkuat posisi tawar.

Karena itu, agenda pemerintah untuk menghubungkan program pemberdayaan UMKM, bantuan sosial, dan penguatan ekonomi masyarakat dengan gerakan koperasi menjadi penting.

Maulana mengatakan berbagai program tersebut akan terus disinergikan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Dengan pendekatan itu, bantuan sosial dapat menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar—bukan sekadar intervensi sesaat.

240 Koperasi Terdaftar, Baru 40 yang Aktif

Di balik optimisme tersebut terdapat pekerjaan rumah yang cukup besar.

Maulana menyebut sekitar 240 koperasi terdaftar di Kota Jambi, tetapi baru 40 koperasi yang aktif. Pemerintah daerah ingin meningkatkan jumlah koperasi yang aktif, sehat, dan mampu memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.

Angka tersebut menunjukkan bahwa tantangan koperasi bukan sekadar menambah jumlah organisasi.

Yang lebih penting adalah memastikan koperasi benar-benar hidup.

Sebuah koperasi dapat memiliki badan hukum dan struktur kepengurusan, tetapi belum tentu menjalankan kegiatan ekonomi secara produktif.

Karena itu, ukuran keberhasilan koperasi seharusnya tidak berhenti pada berapa banyak koperasi yang terdaftar.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa yang aktif, sehat, memiliki usaha, mampu bertahan, dan memberi manfaat kepada anggotanya?

Koperasi Harus Naik Kelas

Pemerintah Kota Jambi menyatakan dukungannya terhadap pengembangan Koperasi Merah Putih, yang diposisikan sebagai program prioritas nasional.

Menurut Maulana, keberadaan Koperasi Merah Putih diharapkan memperkuat ketahanan pangan sekaligus memperluas kontribusi koperasi terhadap pembangunan daerah.

Ia menekankan perlunya koperasi tumbuh secara lebih sehat, modern, dan profesional.

Tiga kata tersebut penting.

Sehat berarti koperasi memiliki tata kelola dan keuangan yang baik.

Modern berarti mampu menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi dan pola konsumsi.

Profesional berarti pengelolaan koperasi tidak sekadar mengandalkan semangat kebersamaan, tetapi juga membutuhkan kemampuan manajemen yang memadai.

Koperasi masa kini tidak dapat mengabaikan digitalisasi, pemasaran daring, pencatatan keuangan, analisis pasar, dan kebutuhan konsumen yang berubah cepat.

176 Pengurus dan Pengelola Ikut Memperkuat Kapasitas

Peringatan Hari Koperasi 2026 di Kota Jambi juga diisi dengan sarasehan yang diikuti 176 peserta, terdiri atas pengurus, pengawas, dan pengelola koperasi se-Kota Jambi.

Kegiatan tersebut menghadirkan Wakil Wali Kota Jambi, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi, serta sejumlah pemateri lainnya.

Agenda semacam ini menunjukkan bahwa penguatan koperasi tidak hanya membutuhkan modal.

Ia juga membutuhkan pengetahuan.

Pengurus perlu memahami tata kelola.

Pengawas perlu mampu menjalankan fungsi kontrol.

Pengelola perlu memahami manajemen dan perkembangan pasar.

Tanpa peningkatan kapasitas manusia, koperasi akan sulit bersaing dalam lingkungan ekonomi yang semakin kompleks.

Kolaborasi Menjadi Modal yang Tidak Kalah Penting

Ada hal lain yang menarik dari pelaksanaan Hari Koperasi 2026 di Kota Jambi.

Menurut Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Jambi Liana Andriani, seluruh rangkaian kegiatan tahun ini tidak menggunakan anggaran pemerintah. Kegiatan terlaksana melalui partisipasi dan kolaborasi gerakan koperasi dengan dunia usaha.

Fakta tersebut memperlihatkan bahwa koperasi tidak selalu harus menunggu intervensi pemerintah.

Ketika anggota, dunia usaha, dan pemerintah dapat bekerja dalam satu ekosistem, agenda penguatan ekonomi rakyat dapat berjalan dengan sumber daya yang lebih beragam.

Model semacam itu juga sesuai dengan karakter dasar koperasi: kebersamaan.

Menjaga Warisan Mohammad Hatta di Era Digital

Maulana juga mengingatkan bahwa nilai kekeluargaan, kebersamaan, dan gotong royong merupakan jati diri koperasi sebagaimana cita-cita Mohammad Hatta, yang dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Tetapi menjaga warisan tersebut bukan berarti mempertahankan koperasi dalam bentuk lama.

Justru tantangannya adalah bagaimana prinsip lama diterjemahkan ke dalam kebutuhan baru.

Gotong royong dapat hadir melalui platform digital.

Pemasaran bersama dapat memanfaatkan perdagangan elektronik.

Data anggota dapat dikelola secara digital.

Transaksi dapat dibuat lebih transparan.

Produk koperasi dapat menjangkau konsumen di luar wilayah Jambi.

Dengan demikian, modernisasi tidak perlu menghapus identitas koperasi.

Sebaliknya, teknologi dapat menjadi alat untuk membuat prinsip koperasi bekerja lebih efektif.

Koperasi dan Ketahanan Ekonomi Lokal

Koperasi juga memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan ekonomi daerah.

Ketika rantai pasok terganggu atau harga mengalami tekanan, masyarakat yang memiliki jaringan ekonomi lokal yang kuat memiliki lebih banyak pilihan.

Koperasi dapat menjadi penghubung antara produsen dan konsumen.

Dalam sektor pangan, misalnya, koperasi dapat memperkuat distribusi hasil produksi anggota sekaligus memperpendek rantai pasok.

Dalam sektor UMKM, koperasi dapat membantu pelaku usaha memperoleh bahan baku, pembiayaan, dan pasar.

Dengan demikian, koperasi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga ekonomi.

Ia dapat menjadi infrastruktur sosial-ekonomi.

Dari Seremoni Menuju Kinerja

Peringatan Hari Koperasi selalu memiliki sisi simbolik.

Namun, tantangan sebenarnya muncul setelah spanduk diturunkan dan acara berakhir.

Apakah jumlah koperasi aktif meningkat?

Apakah anggota memperoleh manfaat yang lebih besar?

Apakah omzet usaha koperasi tumbuh?

Apakah koperasi mampu menciptakan lapangan kerja?

Apakah UMKM mendapatkan akses pasar yang lebih luas?

Dan apakah masyarakat yang berada di lapisan ekonomi paling rentan benar-benar merasakan dampaknya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi ukuran yang lebih objektif daripada sekadar kemeriahan peringatan.

Koperasi Harus Menjadi Bagian dari Ekonomi Masa Depan

Koperasi sering diasosiasikan dengan masa lalu.

Padahal, prinsip dasarnya justru dapat menjadi relevan di masa depan.

Ketika ketimpangan ekonomi menjadi perhatian, koperasi menawarkan model kepemilikan bersama.

Ketika UMKM menghadapi keterbatasan modal dan pasar, koperasi menawarkan ruang konsolidasi.

Ketika masyarakat menghadapi tekanan harga, koperasi dapat berperan dalam distribusi.

Dan ketika ekonomi semakin digital, koperasi memiliki peluang membangun model usaha berbasis teknologi tanpa kehilangan prinsip kekeluargaan.

Tantangannya adalah memastikan koperasi tidak sekadar bertahan, tetapi naik kelas.

Jambi Ingin Mengembalikan Koperasi ke Tengah Kehidupan Ekonomi

Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 di Kota Jambi memperlihatkan upaya pemerintah menempatkan koperasi kembali sebagai bagian dari agenda pembangunan ekonomi masyarakat.

Penyaluran 643 paket sembako memberikan dimensi sosial.

Gerakan Pasar Murah menyentuh persoalan daya beli.

Sarasehan 176 peserta memperkuat kapasitas pengurus dan pengelola.

Sementara keberadaan sekitar 240 koperasi dengan baru 40 yang aktif menunjukkan besarnya ruang pembenahan yang masih terbuka.

Semua itu mengarah pada satu pertanyaan yang lebih besar: bagaimana membuat koperasi kembali relevan bagi generasi yang tumbuh dalam ekonomi digital?

Jawabannya mungkin tidak terletak pada romantisme masa lalu.

Jawabannya ada pada kemampuan koperasi untuk berubah tanpa kehilangan prinsip dasarnya.

Kesejahteraan sebagai Ukuran Terakhir

Pada akhirnya, koperasi tidak seharusnya dinilai dari seberapa sering namanya disebut dalam seremoni.

Koperasi dinilai dari manfaat yang diterima anggotanya.

Apakah pendapatan meningkat?

Apakah usaha menjadi lebih kuat?

Apakah lapangan kerja bertambah?

Apakah akses terhadap kebutuhan dasar menjadi lebih mudah?

Dan apakah masyarakat yang paling rentan memperoleh kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya?

Itulah sebabnya peringatan Hari Koperasi 2026 di Kota Jambi memiliki makna yang lebih besar daripada agenda tahunan.

643 paket sembako mungkin menyelesaikan sebagian kebutuhan hari ini. Tetapi koperasi yang sehat dan produktif dapat membantu menciptakan kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri pada hari-hari berikutnya.

Di situlah esensi ekonomi kerakyatan menemukan bentuk paling konkretnya: bukan sekadar membagi manfaat, tetapi membangun kemampuan masyarakat untuk ikut menciptakan manfaat tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lanjut Baco

NGOFILM Hadirkan Ruang Santai dan Inspirasi, 23 Peserta Ngopi Sambil Nonton Film di Co-Working Space Rumah BUMN Jambi

28 Agustus 2026 - 07:53 WIB

Lindungi Merek, Perkuat Usaha: Rumah BUMN Jambi Edukasi UMK tentang Pentingnya HKI

28 Agustus 2026 - 02:12 WIB

Festival Batanghari 2026 Jadi Panggung Produk Lokal, 20 UMK Ramaikan Kampung Ekraf

28 Agustus 2026 - 02:01 WIB

Kanwil Kementerian Hukum RI Jambi dan Rumah BUMN Jambi Perkuat Sinergi Perlindungan Kekayaan Intelektual UMKM

24 Agustus 2026 - 08:25 WIB

Rumah BUMN Jambi dan GoFood Latih Pedagang Pasar Tradisional Go Digital

20 Agustus 2026 - 01:37 WIB

#JambiBergerak BERITA