Program Kampung Bahagia yang dijalankan Pemerintah Kota Jambi kembali menuai apresiasi dari masyarakat. Program pembangunan berbasis Rukun Tetangga (RT) tersebut dinilai berhasil menghadirkan percepatan pembangunan yang lebih merata, sekaligus memperkuat budaya gotong royong sebagai fondasi utama pembangunan di tingkat lingkungan. Di tengah tuntutan efektivitas pembangunan daerah, keberhasilan program ini menjadi indikator bahwa pendekatan partisipatif mampu menghasilkan manfaat yang nyata bagi masyarakat.
Apresiasi itu mengemuka dalam kegiatan syukuran sekaligus serah terima hasil Program Kampung Bahagia di Kelurahan Murni, Kecamatan Danau Sipin, Sabtu (20/6/2026). Acara tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah Kota Jambi atas berbagai pembangunan yang telah direalisasikan melalui kolaborasi antara pemerintah dan warga.

Program Kampung Bahagia Menjadi Model Pembangunan Partisipatif
Program Kampung Bahagia merupakan salah satu program prioritas Pemerintah Kota Jambi di bawah kepemimpinan Wali Kota Maulana dan Wakil Wali Kota Diza Hazra Aljosha. Berbeda dengan pola pembangunan yang sepenuhnya bergantung pada pemerintah, konsep Kampung Bahagia menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam menentukan kebutuhan, melaksanakan pekerjaan, hingga menjaga keberlanjutan hasil pembangunan.
Pendekatan tersebut menjadikan pembangunan tidak hanya berorientasi pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga membangun rasa memiliki di tengah masyarakat. Gotong royong menjadi instrumen utama yang menghubungkan pemerintah dengan warga dalam menyelesaikan berbagai kebutuhan lingkungan secara lebih cepat dan tepat sasaran.
Infrastruktur Hingga Keamanan Lingkungan Menjadi Prioritas
Dalam pelaksanaannya di Kelurahan Murni, hasil Program Kampung Bahagia tidak hanya terlihat pada pembangunan fisik, tetapi juga penguatan fasilitas sosial dan keamanan lingkungan.
Berbagai sarana berhasil diwujudkan, mulai dari pembangunan infrastruktur dasar, pemasangan kamera pengawas (CCTV), pengadaan tenda dan kursi untuk kegiatan masyarakat, hingga pembangunan pendopo yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang aktivitas warga. Bersamaan dengan itu, Pemerintah Kota Jambi juga meluncurkan Operator Pengumpulan Sampah Berbasis Masyarakat (OPBM) sebagai bagian dari transformasi tata kelola persampahan berbasis lingkungan.
Wali Kota Maulana menyebut capaian tersebut bahkan melampaui target awal yang telah ditetapkan.
“Saya hadir bersama Wakil Wali Kota Jambi dan semua hasilnya luar biasa, ada pembangunan infrastruktur, pemasangan CCTV, pembelian tenda, kursi, dan pembuatan pendopo,” ujar Maulana.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus mendukung pengelolaan sampah melalui pemilahan sampah dari rumah tangga. Menurutnya, langkah tersebut berpotensi memberikan nilai ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan di masa mendatang.
Warga Menilai Program Menjawab Kesenjangan Pembangunan
Respon positif datang dari berbagai ketua RT yang merasakan langsung manfaat pelaksanaan Program Kampung Bahagia.
Ketua RT 17 Kelurahan Simpang IV Sipin, Suryo Widodo, menilai program tersebut menjadi solusi atas kebutuhan percepatan pembangunan di tingkat lingkungan yang selama ini belum sepenuhnya terakomodasi.
“Kampung Bahagia adalah jawaban untuk mengakselerasi pembangunan di tingkat RT, yang selama ini mungkin masih terdapat kesenjangan,” ungkap Suryo Widodo.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat tidak sekadar melihat program sebagai bantuan pemerintah, melainkan sebagai mekanisme pembangunan yang memberi ruang lebih besar bagi warga untuk menentukan prioritas lingkungannya sendiri.
Manfaat Langsung Dirasakan Masyarakat
Hal senada disampaikan Ketua RT 01, Jusmiati, yang mewakili para ketua RT di Kelurahan Murni. Ia mengatakan manfaat program telah dirasakan secara nyata oleh masyarakat, terutama pada peningkatan kualitas infrastruktur dasar.
Menurutnya, drainase yang sebelumnya menjadi persoalan kini telah berfungsi lebih baik, sementara akses jalan lingkungan juga mengalami peningkatan kualitas.
“Drainase kami jadi lancar, jalan kami menjadi bagus dan besar. Mudah-mudahan program ini terus berkelanjutan dan semua warga kota bahagia,” kata Jusmiati.
Testimoni tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan Program Kampung Bahagia tidak hanya diukur melalui angka realisasi pembangunan, tetapi juga melalui perubahan kualitas hidup masyarakat sehari-hari.
Pembangunan Berbasis RT Menjadi Arah Baru Tata Kelola Kota
Pada tahap pertama pelaksanaan di Kelurahan Simpang IV Sipin, sebanyak 17 RT menjalankan Program Kampung Bahagia dengan fokus utama pada aspek kebersihan dan keamanan lingkungan. Pemerintah Kota Jambi mencatat seluruh pelaksanaan fisik telah mencapai 100 persen dan memasuki tahap penyelesaian administrasi pertanggungjawaban.
Keberhasilan tersebut memperkuat optimisme bahwa pembangunan berbasis komunitas dapat menjadi model tata kelola perkotaan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat. Melalui sinergi pemerintah, RT, serta warga, berbagai persoalan lingkungan dapat diselesaikan lebih cepat tanpa menghilangkan prinsip akuntabilitas dan partisipasi publik.
Lebih jauh, Program Kampung Bahagia menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari proyek-proyek berskala besar. Perubahan yang berangkat dari lingkungan terkecil justru mampu menciptakan dampak sosial yang lebih luas, memperkuat solidaritas warga, meningkatkan kualitas pelayanan lingkungan, sekaligus mempercepat pemerataan pembangunan di seluruh Kota Jambi.
Dengan terus mengedepankan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, Program Kampung Bahagia kini tidak hanya menjadi program unggulan Pemerintah Kota Jambi, tetapi juga mulai dipandang sebagai salah satu model inovasi pembangunan berbasis komunitas yang mampu menjawab tantangan pembangunan perkotaan secara lebih inklusif dan berkelanjutan.








