Batanghari, Sejarah yang Dihidupkan Kembali untuk Masa Depan Pariwisata Jambi
Festival Batanghari 2026 kembali menjadikan sungai yang menjadi bagian penting dari sejarah Jambi sebagai panggung kebudayaan, pariwisata, dan ekonomi masyarakat. Pemerintah Kota Jambi memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan festival yang mengangkat tema “Jejak Jalur Perdagangan Rempah di Sungai Batanghari”, dengan harapan kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai perayaan budaya, tetapi mampu memperluas peluang bagi UMKM dan ekonomi kreatif.

Festival yang resmi dibuka pada Jumat malam, 14 Agustus 2026, itu berlangsung hingga 22 Agustus 2026. Pembukaannya dihadiri Asisten Deputi Strategi Event Kementerian Pariwisata RI Raden Wisnu Sindhutrisno, Gubernur Jambi Al Haris, Wali Kota Jambi Maulana, jajaran pemerintah daerah, pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif, komunitas budaya, serta masyarakat.
Bagi Kota Jambi, keterlibatan dalam festival tersebut memiliki arti yang lebih luas. Sebagian besar pelaku UMKM yang berpartisipasi merupakan warga Kota Jambi. Dengan demikian, keramaian festival sekaligus membuka ruang bagi perputaran ekonomi lokal.
Dari Jalur Rempah Menuju Ekonomi Kreatif
Wali Kota Jambi Maulana menilai Festival Batanghari 2026 memiliki potensi untuk menghubungkan kekayaan sejarah dengan kepentingan ekonomi masa kini.
Menurutnya, festival bukan sekadar pertunjukan budaya. Kegiatan berskala besar seperti ini harus mampu menciptakan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya pelaku UMKM.
“Sebagian besar UMKM yang aktif merupakan UMKM warga Kota Jambi. Artinya, perputaran ekonominya juga terjadi di Kota Jambi.”
Pernyataan tersebut memperlihatkan alasan mengapa event budaya semakin dipandang sebagai bagian dari strategi pengembangan ekonomi daerah.
Ketika wisatawan datang untuk menikmati pertunjukan, mereka pada saat yang sama membutuhkan makanan, produk kerajinan, cendera mata, akomodasi, transportasi, dan berbagai layanan lainnya. Rantai aktivitas tersebut menciptakan peluang bagi pelaku usaha lokal.
Karena itu, keberhasilan sebuah festival tidak semestinya hanya diukur dari jumlah penonton atau kemeriahan acara. Dampak terhadap pelaku usaha dan masyarakat juga menjadi ukuran penting.
Batanghari Bukan Sekadar Sungai
Pemilihan Sungai Batanghari sebagai pusat narasi festival bukan tanpa alasan. Sungai tersebut telah lama menjadi bagian dari sejarah perdagangan, pergerakan manusia, dan perkembangan kebudayaan Jambi.
Raden Wisnu Sindhutrisno menyebut Batanghari memiliki identitas yang kuat karena berhubungan dengan sejarah, budaya, perdagangan, serta kehidupan masyarakat Jambi.
“Batanghari bukan sekadar sungai. Batanghari adalah nadi kehidupan, jalur perdagangan, pusat lahirnya peradaban Melayu Jambi sekaligus ruang tumbuhnya tradisi, seni dan budaya.”
Di tengah perkembangan pariwisata modern, narasi semacam itu menjadi penting. Destinasi tidak hanya membutuhkan pemandangan, tetapi juga cerita.
Sungai Batanghari menyediakan cerita tersebut: tentang jalur perdagangan rempah, interaksi antarkebudayaan, masyarakat Melayu Jambi, dan hubungan manusia dengan sungai yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Festival sebagai Penghubung Masa Lalu dan Masa Depan
Festival Batanghari 2026 untuk kelima kalinya kembali masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata. Status tersebut menunjukkan bahwa festival memiliki posisi dalam kalender event pariwisata nasional.
Namun, masuknya sebuah festival ke dalam kalender nasional bukanlah tujuan akhir.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana momentum tersebut diterjemahkan menjadi kunjungan wisata yang berkelanjutan dan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Kementerian Pariwisata juga mendorong pendekatan pariwisata yang tidak semata-mata mengejar jumlah kunjungan, tetapi menciptakan pengalaman wisata berkualitas, memperpanjang lama tinggal wisatawan, serta meningkatkan manfaat bagi masyarakat lokal. Konsep pariwisata regeneratif juga menjadi bagian dari perspektif tersebut.
Dengan pendekatan itu, festival tidak hanya menjadi tujuan satu hari. Ia dapat menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk mengenal destinasi lain di Jambi.
UMKM Mendapat Panggung yang Lebih Besar
Salah satu dimensi yang paling konkret dari festival adalah keterlibatan pelaku UMKM.
Pameran ekonomi kreatif, produk batik khas Jambi, kuliner, dan berbagai aktivitas perdagangan memberikan ruang kepada pelaku usaha lokal untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat dan wisatawan.
Bagi UMKM, kesempatan tersebut dapat menjadi sarana promosi sekaligus pengujian pasar.
Produk yang biasanya hanya dikenal di lingkungan lokal dapat diperkenalkan kepada pengunjung dari luar daerah. Jika dikembangkan secara konsisten, festival dapat menjadi bagian dari strategi branding produk lokal.
Dalam konteks ini, budaya tidak berdiri berseberangan dengan ekonomi. Keduanya justru dapat saling menguatkan.
Kain tradisional, kuliner khas, kerajinan, pertunjukan seni, hingga cerita sejarah dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata yang memiliki nilai ekonomi.
Dari Pesta Budaya Menjadi Daya Tarik Wisata
Maulana berharap event-event budaya di Jambi dapat berkembang lebih jauh sehingga tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan.
Ia juga mendorong agar Festival Angso Duo dan berbagai kegiatan budaya lainnya terus dikembangkan sehingga mampu menjadi daya tarik wisata berskala lebih besar.
Gagasan tersebut mengandung pekerjaan rumah yang cukup besar.
Sebuah event membutuhkan konsistensi penyelenggaraan, kualitas program, promosi, akses transportasi, fasilitas publik, kebersihan, keamanan, serta keterlibatan masyarakat. Tanpa ekosistem tersebut, sebuah festival berisiko hanya menghasilkan keramaian sesaat.
Sebaliknya, jika dikelola secara berkelanjutan, event dapat menjadi alasan bagi wisatawan untuk datang kembali.
Menjaga Sungai di Tengah Perayaan
Ada ironi yang tidak bisa diabaikan ketika Sungai Batanghari menjadi pusat perayaan budaya sekaligus menghadapi persoalan lingkungan.
Gubernur Jambi Al Haris mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan sungai karena Batanghari memiliki fungsi vital bagi kehidupan masyarakat, termasuk sebagai sumber kebutuhan air. Ia mengimbau masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai.
Pesan tersebut memberi dimensi lain pada Festival Batanghari.
Jika sungai ingin dijadikan aset pariwisata, maka keberlanjutan lingkungannya harus menjadi bagian dari agenda pariwisata itu sendiri. Tidak cukup menjadikan Batanghari sebagai latar festival; masyarakat juga perlu memastikan sungai tersebut tetap sehat dan terawat.
Dengan demikian, pelestarian budaya dan pelestarian lingkungan seharusnya berjalan dalam jalur yang sama.
Menghidupkan Sejarah, Membangun Masa Depan
Berbagai agenda Festival Batanghari 2026 dirancang untuk mempertemukan unsur sejarah, budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Di antaranya pameran ekonomi kreatif, Fun Run, parade kapal dagang hias di sepanjang Sungai Batanghari, Pesta Rakyat, pertunjukan seni budaya, pameran batik khas Jambi, hingga reka ulang aktivitas perdagangan masa lalu.
Rangkaian tersebut membuat sejarah tidak hanya disampaikan melalui buku atau museum. Ia dihadirkan kembali melalui pengalaman yang dapat dilihat, dirasakan, dan diikuti masyarakat.
Bagi generasi muda, pendekatan semacam itu dapat menjadi cara untuk memahami bahwa Sungai Batanghari bukan sekadar bentang alam yang mereka lihat setiap hari. Ia merupakan bagian dari perjalanan panjang Jambi.
Tantangan Setelah Festival Berakhir
Festival pada akhirnya hanya berlangsung dalam rentang waktu tertentu. Tantangan yang lebih penting muncul setelah panggung dibongkar dan keramaian berakhir.
Apakah wisatawan akan kembali? Apakah UMKM memperoleh pelanggan baru? Apakah produk budaya semakin dikenal? Apakah masyarakat semakin peduli terhadap Sungai Batanghari?
Pertanyaan-pertanyaan itu akan menentukan apakah Festival Batanghari benar-benar berhasil menjadi instrumen pembangunan pariwisata.
Karena itu, dukungan Pemkot Jambi terhadap festival perlu dilihat sebagai bagian dari agenda yang lebih panjang: membangun ekosistem pariwisata yang menghubungkan budaya, ekonomi kreatif, UMKM, lingkungan, dan masyarakat.
Festival Batanghari 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang mengingat masa lalu. Ia adalah upaya menjadikan sejarah sebagai modal untuk membangun masa depan.
Jika sungai pernah menjadi jalur yang membawa rempah dan perdagangan ke berbagai penjuru, maka hari ini Batanghari dapat memainkan peran lain: membawa identitas budaya Jambi menuju panggung pariwisata, sekaligus membawa manfaat ekonomi kembali kepada masyarakat yang hidup di sekitarnya.








