Empat Kategori, Satu Gerakan: Ketika PKK Kota Jambi Mengubah Inovasi Menjadi Kerja Nyata
Masuknya TP PKK Kota Jambi ke enam besar Lomba 10 Program Pokok PKK Tingkat Provinsi Jambi 2026 pada empat kategori menunjukkan bahwa gerakan pemberdayaan keluarga di tingkat kota mulai bergerak melampaui kegiatan administratif. Pemerintah Kota Jambi menilai capaian tersebut sebagai hasil kolaborasi antara kader PKK, pemerintah daerah, perangkat daerah, dan masyarakat dalam menghadirkan program yang berangkat dari kebutuhan warga.
Apresiasi itu disampaikan Wali Kota Jambi Maulana saat mendampingi Ketua TP PKK Kota Jambi Nadiyah dalam verifikasi lapangan tim penilai TP PKK Provinsi Jambi di Aula PKK Kota Jambi, Rabu, 12 Agustus 2026. Empat kategori yang mengantarkan Kota Jambi masuk enam besar adalah digitalisasi, Ketapang Emas, PAAREDI, dan screening Tuberkulosis (TBC).

Capaian tersebut menarik bukan semata karena posisi dalam sebuah perlombaan. Lebih penting, empat kategori itu memperlihatkan bagaimana organisasi pemberdayaan keluarga mencoba merespons persoalan yang berbeda: data dan administrasi, ketahanan pangan, pola asuh anak di era digital, serta akses pemeriksaan kesehatan.
Verifikasi Lapangan Menguji Apa yang Terjadi di Masyarakat
Verifikasi lapangan menjadi tahapan penting karena tim penilai tidak hanya melihat laporan kegiatan. Pelaksanaan program diperiksa secara langsung, termasuk tertib administrasi, kerja kelompok kerja atau Pokja, inovasi, serta keaktifan kader hingga tingkat kelurahan dan kecamatan.
Pendekatan tersebut memberikan ukuran yang lebih substantif terhadap keberhasilan program.
Sebuah inovasi dapat terlihat menarik dalam dokumen, tetapi nilainya baru benar-benar terlihat ketika masyarakat menggunakannya, kader mampu menjalankannya, dan manfaatnya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, keberhasilan TP PKK Kota Jambi masuk enam besar pada empat kategori sekaligus menjadi indikator bahwa sejumlah program telah memiliki implementasi yang cukup kuat untuk diperiksa pada tingkat lapangan.
Empat Kategori yang Menunjukkan Arah Baru
Wali Kota Maulana mengaitkan capaian tersebut dengan kerja bersama antara TP PKK, kader, pemerintah daerah, dan masyarakat. Ia juga melihat adanya keterkaitan antara inovasi PKK dengan program Kampung Bahagia yang menjadi salah satu prioritas Pemerintah Kota Jambi.
“Program yang digerakkan PKK Kota Jambi sangat selaras dengan program Kampung Bahagia yang sedang dijalankan Pemerintah Kota Jambi.”
Kampung Bahagia sendiri tidak hanya diarahkan pada pembangunan fisik. Menurut Maulana, program tersebut mencakup penguatan ekonomi masyarakat, kebersihan lingkungan, dan kegiatan sosial kemasyarakatan.
Dengan pendekatan itu, PKK memiliki ruang untuk berkontribusi langsung di tingkat komunitas.
Digitalisasi Mengubah Cara Kader Mengelola Data
Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah Aplikasi PKK Bahagia. Aplikasi tersebut digunakan untuk mendukung tertib administrasi dan pendataan kader pada tingkat Dasawisma.
Ketua TP PKK Kota Jambi Nadiyah menjelaskan bahwa sistem tersebut telah terhubung secara internal dengan data kependudukan sehingga pendataan dapat dilakukan lebih rinci hingga tingkat individu berdasarkan NIK.
Digitalisasi semacam ini memiliki konsekuensi penting bagi pemberdayaan masyarakat.
Data yang lebih terstruktur dapat membantu kader memahami kondisi keluarga secara lebih detail. Pada saat yang sama, proses pendataan yang lebih baik berpotensi membuat perencanaan program menjadi lebih tepat sasaran.
Dengan demikian, digitalisasi bukan hanya persoalan memindahkan pencatatan dari kertas ke aplikasi. Ia seharusnya menjadi cara untuk meningkatkan kualitas keputusan.
PAAREDI Menjawab Tantangan Pengasuhan di Era Digital
Kategori PAAREDI atau Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital menghadirkan persoalan yang berbeda.
Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi media sosial, gim daring, dan arus informasi tanpa batas. Dalam kondisi tersebut, orang tua menghadapi tantangan untuk tetap mendampingi anak tanpa mengabaikan perkembangan teknologi.
TP PKK Kota Jambi menghadirkan Garuda Mayang Bahagia, sebuah program yang menggabungkan pembinaan keagamaan, olahraga, seni, serta kampanye anti-perundungan, anti-narkoba, dan anti-judi daring.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pola asuh di era digital tidak cukup hanya berbicara tentang pembatasan penggunaan gawai.
Anak juga membutuhkan lingkungan sosial yang sehat, aktivitas positif, ruang untuk mengembangkan minat, serta orang dewasa yang dapat menjadi tempat bertanya ketika menghadapi persoalan.
Nadiyah mengatakan pendekatan digital juga dapat membantu masyarakat menyampaikan persoalan yang mungkin sulit dikemukakan secara langsung.
Ketahanan Pangan Dimulai dari Pekarangan
Pada kategori Ketapang Emas, perhatian diarahkan pada ketahanan pangan berbasis masyarakat.
Salah satu lokasi yang dikembangkan adalah Kelurahan Kasang Jaya. Pemanfaatan lahan dan pekarangan masyarakat menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan pangan sekaligus memanfaatkan potensi lingkungan yang tersedia.
Konsep tersebut menjadi relevan di tengah kebutuhan untuk membangun ketahanan pangan yang tidak hanya bertumpu pada sistem produksi berskala besar.
Pekarangan yang terbatas sekalipun dapat memiliki nilai apabila dikelola secara produktif.
“Lahan yang sedikit dapat kita manfaatkan untuk menjadi penunjang ketahanan pangan keluarga.”
Di sini, ketahanan pangan tidak semata-mata dihitung berdasarkan jumlah produksi. Ia juga menyangkut kemandirian dan kemampuan masyarakat membangun daya dukung terhadap kebutuhan keluarga.
Screening TBC Dibawa Lebih Dekat kepada Warga
Kategori keempat, screening Tuberkulosis, menunjukkan bagaimana kader dapat berperan dalam mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat.
TP PKK Kota Jambi menerapkan pendekatan jemput bola dengan mendatangi keluarga, terutama kontak serumah pasien TBC yang sedang menjalani pengobatan. Pemeriksaan juga dikembangkan melalui pelayanan terpadu dengan melibatkan dokter spesialis paru dan perangkat rontgen portabel.
Di Kecamatan Alam Barajo, dari 98 orang kontak serumah yang diperiksa, terdapat 12 orang yang dinyatakan positif TB secara radiologis dan kemudian memperoleh pengobatan. Sementara mereka yang hasil pemeriksaannya negatif mendapatkan Terapi Pencegahan Tuberkulosis atau TPT.
Data tersebut menunjukkan bagaimana program pemberdayaan dapat bersinggungan langsung dengan persoalan kesehatan masyarakat.
Pendekatan jemput bola juga penting karena akses layanan kesehatan tidak selalu hanya ditentukan oleh keberadaan fasilitas. Kemauan masyarakat untuk memeriksakan diri, pengetahuan, serta kemudahan memperoleh layanan turut menentukan keberhasilan pencegahan penyakit.
PKK dan Kampung Bahagia Bertemu di Tingkat Komunitas
Bagi Maulana, keterlibatan PKK dalam Kampung Bahagia merupakan bagian penting dari upaya memastikan program pemerintah tidak berhenti pada perencanaan.
“Kolaborasi seperti ini penting agar program pemerintah benar-benar hadir dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.”
Pernyataan tersebut menggambarkan posisi PKK sebagai mitra pemerintah yang bekerja dekat dengan masyarakat.
Kader yang berada di tingkat Dasawisma, kelurahan, dan kecamatan memiliki akses terhadap persoalan yang terkadang tidak mudah terlihat dari birokrasi pemerintahan.
Di titik itulah organisasi masyarakat dapat berfungsi sebagai penghubung antara kebijakan dan realitas.
Prestasi Bukan Tujuan Akhir
Ketua TP PKK Kota Jambi Nadiyah menegaskan bahwa keberhasilan PKK tidak seharusnya diukur hanya dari jumlah kegiatan maupun penghargaan yang diperoleh.
“Ukuran keberhasilan PKK bukan hanya banyaknya kegiatan atau prestasi yang diraih, tetapi seberapa besar perubahan yang dapat kita hadirkan dalam keluarga dan masyarakat.”
Pandangan tersebut menjadi penting karena kompetisi pemberdayaan masyarakat sering menghadirkan paradoks.
Di satu sisi, penghargaan dapat memotivasi organisasi untuk berinovasi. Di sisi lain, program berisiko menjadi terlalu berorientasi pada penilaian apabila keberhasilan hanya diukur dari hasil perlombaan.
Karena itu, tantangan setelah verifikasi justru lebih besar: memastikan inovasi yang telah dikembangkan tetap berjalan ketika kompetisi selesai.
Membangun Sistem, Bukan Sekadar Program
Nadiyah mengatakan pihaknya ingin berbagai inovasi tersebut berkembang menjadi sistem dan gerakan yang dapat diwariskan serta memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Gagasan mengenai keberlanjutan menjadi penting.
Aplikasi digital harus terus digunakan. Program ketahanan pangan harus tetap produktif. Pendampingan anak dan remaja perlu berlanjut. Screening TBC harus menjadi bagian dari kesadaran kesehatan masyarakat.
Jika program-program tersebut hanya aktif ketika ada penilaian, maka manfaatnya akan terbatas.
Sebaliknya, apabila berhasil menjadi kebiasaan dan sistem kerja masyarakat, lomba justru hanya menjadi salah satu momentum untuk mengukur perkembangan.
Empat Nominasi dan Pekerjaan yang Lebih Panjang
Ketua Tim Penilai TP PKK Provinsi Jambi Sukmabakti mengapresiasi capaian Kota Jambi yang berhasil masuk enam besar dalam empat kategori. Ia menegaskan bahwa program-program tersebut bukan sesuatu yang dibangun secara instan, melainkan telah dilaksanakan sejak sekitar dua tahun sebelumnya.
Hal itu menunjukkan bahwa capaian dalam kompetisi pemberdayaan masyarakat membutuhkan proses yang panjang.
Empat nominasi yang diperoleh Kota Jambi pada 2026 bukan sekadar hasil dari satu kegiatan. Di belakangnya terdapat kader, Dasawisma, kelurahan, kecamatan, perangkat daerah, keluarga, dan masyarakat yang menjalankan program dari waktu ke waktu.
Pada akhirnya, enam besar bukanlah garis akhir.
Ia lebih tepat dipandang sebagai titik evaluasi untuk melihat apa yang sudah berhasil dan apa yang masih perlu diperbaiki.
Dari Enam Besar Menuju Dampak yang Lebih Besar
Bagi Kota Jambi, capaian TP PKK pada empat kategori memberikan alasan untuk optimistis. Namun penghargaan yang sesungguhnya tetap berada di luar panggung perlombaan.
Ia terlihat ketika data keluarga menjadi lebih tertata, ketika anak-anak mendapatkan lingkungan yang lebih aman, ketika keluarga mampu memperkuat ketahanan pangannya, dan ketika warga yang berisiko TBC dapat ditemukan serta memperoleh pengobatan lebih cepat.
Dengan ukuran tersebut, prestasi TP PKK Kota Jambi bukan sekadar tentang berhasil masuk enam besar.
Nilai terbesarnya terletak pada kemampuan mengubah inovasi menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi sistem, dan sistem menjadi perubahan yang bertahan di tengah masyarakat.
Itulah yang pada akhirnya menentukan apakah sebuah program pemberdayaan benar-benar berhasil: bukan seberapa baik ia tampil saat dinilai, tetapi seberapa jauh manfaatnya tetap hidup ketika penilaian telah selesai.








