Menu

Mode Gelap
Ekspor ke Malaysia Masih Terbuka Lebar, Rumah BUMN Jambi Bekali 100 UMKM Strategi Go Global Pengurus GP Ansor Provinsi Jambi 2024-2028 Resmi Dilantik

BERITA

Dari Infrastruktur Banjir Menjadi Ruang Kreatif: Jambi Menyiapkan Wajah Baru Kolam Retensi

badge-check


					Dari Infrastruktur Banjir Menjadi Ruang Kreatif: Jambi Menyiapkan Wajah Baru Kolam Retensi Perbesar

Danau Kajang Lako Diproyeksikan Menjadi Destinasi Wisata dan Penggerak Ekonomi Kreatif

JAMBI — Sebuah infrastruktur yang dibangun untuk mengendalikan banjir kini diproyeksikan memiliki kehidupan kedua: menjadi ruang publik, destinasi wisata, sekaligus titik baru pertumbuhan ekonomi kreatif Kota Jambi.

Gagasan tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha saat melakukan audiensi dengan Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia pada Selasa, 14 Juli 2026. Dalam pertemuan dengan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar Li, Diza membawa konsep pengembangan kawasan kolam retensi yang tengah dibangun Pemerintah Kota Jambi di Kelurahan Paal V, Kecamatan Kota Baru.

Kolam retensi tersebut diberi nama Danau Kajang Lako dan pada dasarnya dirancang sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir di sepanjang aliran Sungai Asam. Namun, Pemkot Jambi melihat kawasan itu memiliki potensi yang jauh lebih luas apabila dirancang sejak awal sebagai ruang multifungsi.

“Kolam Retensi yang saat ini dalam pembangunan adalah sebagai potensi yang dapat dijadikan industri ekonomi kreatif baru di Kota Jambi,” ujar Diza.

Ketika Infrastruktur Pengendali Banjir Memiliki Fungsi Kedua

Gagasan mengembangkan Danau Kajang Lako menjadi kawasan ekonomi kreatif memperlihatkan perubahan cara pemerintah memandang infrastruktur perkotaan.

Kolam retensi tidak lagi hanya dilihat sebagai cekungan yang menampung air ketika debit sungai meningkat. Jika ditata secara tepat, kawasan tersebut dapat menjadi ruang publik yang memiliki fungsi sosial, ekonomi, ekologis, sekaligus rekreatif.

Pemkot Jambi merencanakan kawasan itu sebagai ruang terbuka yang dapat digunakan masyarakat. Konsepnya mencakup ruang terbuka hijau, area rekreasi keluarga, jogging track, sentra kuliner, serta panggung pertunjukan seni dan budaya lokal.

Pendekatan tersebut menempatkan fungsi pengendalian banjir dan pengembangan kota dalam satu kerangka. Infrastruktur yang dibutuhkan untuk menghadapi persoalan lingkungan juga dapat dirancang agar memberikan nilai tambah bagi kehidupan sosial dan ekonomi warga.

Bagi kota yang terus berkembang, konsep semacam itu menjadi relevan. Keterbatasan ruang perkotaan menuntut pemerintah untuk menemukan cara agar satu kawasan dapat memberikan lebih dari satu manfaat tanpa menghilangkan fungsi utamanya.

Danau Kajang Lako Diproyeksikan Menjadi Ikon Baru

Diza melihat kawasan kolam retensi memiliki peluang untuk menjadi salah satu ikon wisata baru Kota Jambi.

Namun, ambisi tersebut tidak hanya berorientasi pada kehadiran wisatawan. Pemerintah ingin memastikan aktivitas di kawasan tersebut menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Kami melihat kolam retensi ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi ikon wisata baru Kota Jambi. Selain memberikan manfaat dalam pengendalian banjir, kawasan ini juga dapat menghadirkan peluang ekonomi bagi masyarakat melalui sektor UMKM, ekonomi kreatif, hingga penyelenggaraan berbagai event,” kata Diza.

Jika konsep itu terealisasi, kawasan Danau Kajang Lako berpotensi menjadi ruang pertemuan berbagai aktivitas ekonomi kreatif. Pelaku kuliner dapat memperoleh ruang usaha, komunitas seni dapat memiliki tempat pertunjukan, sementara kegiatan kreatif dan acara publik dapat menciptakan arus pengunjung.

Dengan demikian, manfaat ekonomi kawasan tidak hanya berasal dari sektor pariwisata dalam pengertian konvensional, tetapi dari ekosistem aktivitas yang tumbuh di sekitarnya.

UMKM dan Pelaku Kreatif Menjadi Bagian Penting

Pembangunan destinasi baru sering kali menghadapi satu persoalan: bagaimana memastikan manfaat ekonomi tidak hanya berhenti pada pengelola kawasan atau investor.

Pemkot Jambi tampaknya ingin mengantisipasi persoalan tersebut dengan menempatkan UMKM dan pelaku ekonomi kreatif sebagai bagian dari konsep pengembangan Danau Kajang Lako.

Sentra kuliner, ruang pertunjukan seni dan budaya, hingga berbagai kegiatan atau event dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk menawarkan produk dan jasanya.

Diza mengatakan pemerintah ingin menghadirkan kawasan yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.

“Kami ingin menghadirkan sebuah kawasan yang tidak hanya indah dan nyaman, tetapi juga mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat dan menjadi ruang ekspresi bagi para pelaku ekonomi kreatif di Kota Jambi,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa konsep kawasan diarahkan bukan sekadar sebagai proyek estetika kota. Ada tujuan ekonomi yang ingin dibangun di dalamnya.

Dukungan Kementerian Ekraf Dibutuhkan

Untuk mewujudkan gagasan tersebut, Pemerintah Kota Jambi membuka peluang kolaborasi dengan Kementerian Ekonomi Kreatif.

Audiensi Diza dengan Wamenekraf menjadi bagian dari upaya mendapatkan dukungan dan pendampingan pemerintah pusat dalam mengembangkan potensi kawasan tersebut.

Kolaborasi ini penting karena membangun sebuah destinasi tidak berhenti pada pembangunan fisik. Setelah infrastruktur tersedia, pemerintah harus memikirkan konsep pengelolaan, kurasi kegiatan, promosi, pemberdayaan pelaku usaha, hingga keberlanjutan lingkungan.

Kementerian Ekonomi Kreatif dapat memberikan perspektif mengenai bagaimana potensi lokal diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi kreatif yang memiliki nilai tambah.

Bagi Kota Jambi, dukungan tersebut juga dapat membantu memastikan agar Danau Kajang Lako tidak berhenti sebagai kawasan rekreasi baru, tetapi berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang memiliki daya tarik berkelanjutan.

Konsep Berbasis Lingkungan

Salah satu aspek yang menonjol dari gagasan pengembangan Danau Kajang Lako adalah pendekatan keberlanjutan.

Kawasan tersebut dirancang dengan memadukan fungsi ekologis dan aktivitas masyarakat. Ruang terbuka hijau menjadi bagian dari konsep, sementara area rekreasi dan jalur jogging memberikan ruang bagi warga untuk beraktivitas.

Konsep ini penting karena fungsi utama kolam retensi tetap berkaitan dengan pengendalian banjir. Pengembangan kawasan wisata tidak boleh mengganggu kemampuan infrastruktur tersebut dalam menjalankan fungsi hidrologisnya.

Karena itu, tantangan terbesar bukan sekadar membuat kawasan menjadi menarik, melainkan menemukan keseimbangan antara fungsi pengendalian air, ruang publik, aktivitas ekonomi, dan perlindungan lingkungan.

Jika keseimbangan itu dapat dijaga, Danau Kajang Lako dapat menjadi contoh bagaimana infrastruktur perkotaan dirancang dengan manfaat berlapis.

Pasar Sitimang dan Sijimat Juga Masuk Radar

Dalam audiensi dengan Kementerian Ekraf, Diza tidak hanya membahas kolam retensi.

Ia juga menyampaikan sejumlah aset milik Pemerintah Kota Jambi yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata dan ruang ekonomi kreatif. Salah satunya adalah kawasan Pasar Sitimang dan Sijimat.

Menurut Diza, kawasan tersebut memiliki nilai sejarah karena berkaitan dengan perjalanan peradaban Kota Jambi dan pernah menjadi pusat aktivitas ekonomi.

Pemkot Jambi mendorong kerja sama dengan Kementerian Ekraf untuk melihat kembali potensi kawasan tersebut.

Gagasan ini memperlihatkan bahwa strategi pengembangan ekonomi kreatif Kota Jambi tidak hanya berorientasi pada penciptaan kawasan baru. Aset lama yang memiliki nilai sejarah juga dapat dihidupkan kembali melalui pendekatan kreatif.

Dengan demikian, terdapat dua jalur yang sedang dijajaki pemerintah: menciptakan destinasi baru melalui pengembangan kawasan kolam retensi dan merevitalisasi aset lama yang memiliki nilai sejarah.

Dari Infrastruktur ke Ekosistem Ekonomi

Jika Danau Kajang Lako benar-benar dikembangkan sebagai destinasi wisata, keberhasilannya kelak tidak hanya ditentukan oleh kualitas fisik kawasan.

Yang lebih penting adalah apakah kawasan tersebut mampu menciptakan aktivitas yang berlangsung secara konsisten.

Sebuah ruang publik membutuhkan pengunjung. Pengunjung membutuhkan aktivitas. Aktivitas membutuhkan pelaku usaha, komunitas, seniman, penyelenggara kegiatan, dan ekosistem pendukung.

Karena itu, konsep ekonomi kreatif menjadi penting. Ia dapat mengisi ruang dengan aktivitas yang membuat kawasan hidup, bukan hanya indah.

UMKM dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi tersebut. Komunitas seni dapat menciptakan agenda budaya. Pelaku kreatif dapat memproduksi konten dan pengalaman. Sementara pemerintah berperan memastikan infrastruktur, regulasi, serta tata kelola kawasan berjalan dengan baik.

Tantangan Ada pada Implementasi

Gagasan mengubah kolam retensi menjadi destinasi wisata tentu membawa peluang, tetapi juga sejumlah tantangan.

Pertama, fungsi utama sebagai pengendali banjir harus tetap menjadi prioritas. Kedua, aktivitas ekonomi perlu diatur agar tidak menimbulkan persoalan baru seperti sampah, kemacetan, atau tekanan terhadap lingkungan.

Ketiga, diperlukan model pengelolaan yang jelas agar kawasan dapat dirawat dan terus menghasilkan manfaat setelah pembangunan selesai.

Keempat, pelaku UMKM dan ekonomi kreatif lokal perlu mendapatkan ruang yang proporsional sehingga manfaat ekonomi benar-benar menyebar kepada masyarakat.

Dengan kata lain, membangun kawasan hanyalah tahap awal. Tantangan sebenarnya adalah menciptakan ekosistem yang dapat bertahan dalam jangka panjang.

Jambi Mencari Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru

Audiensi Pemerintah Kota Jambi dengan Kementerian Ekonomi Kreatif juga memperlihatkan arah yang lebih luas dari kebijakan daerah: menjadikan ekonomi kreatif sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru.

Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah untuk memanfaatkan potensi lokal yang sebelumnya mungkin belum dipandang sebagai aset ekonomi.

Danau Kajang Lako merupakan contoh menarik. Pada awalnya, ia dibangun untuk menjawab persoalan banjir. Kini, pemerintah melihat kemungkinan bahwa kawasan tersebut juga dapat menjadi ruang wisata, ruang publik, pusat aktivitas masyarakat, dan penggerak ekonomi.

Begitu pula dengan Pasar Sitimang dan Sijimat. Kawasan yang memiliki sejarah ekonomi Kota Jambi dapat memperoleh fungsi baru melalui pendekatan kreatif.

Keduanya menunjukkan satu gagasan yang sama: pembangunan kota tidak selalu berarti membangun sesuatu yang sepenuhnya baru. Kadang, tantangannya adalah menemukan nilai baru dari sesuatu yang sudah ada.

Menunggu Kolam Retensi Menjadi Ruang Kehidupan Kota

Danau Kajang Lako masih berada dalam proses pembangunan. Karena itu, gagasan menjadikannya ikon wisata dan pusat ekonomi kreatif masih harus melewati sejumlah tahap sebelum dapat dirasakan masyarakat.

Namun, arah yang dibawa Pemerintah Kota Jambi sudah cukup jelas. Kolam retensi tidak diproyeksikan hanya sebagai infrastruktur teknis, tetapi sebagai bagian dari wajah baru kota.

Jika kelak ruang terbuka hijau, rekreasi keluarga, olahraga, kuliner, seni, budaya, dan aktivitas ekonomi dapat berjalan berdampingan tanpa mengganggu fungsi pengendalian banjir, kawasan tersebut dapat memberikan manfaat yang jauh lebih luas daripada tujuan awal pembangunannya.

Bagi Kota Jambi, ambisinya bukan sekadar memiliki kolam retensi yang mampu menahan air. Pemerintah ingin membangun sebuah ruang yang juga mampu menghidupkan ekonomi, mempertemukan masyarakat, memberi panggung bagi kreativitas, dan memperkaya pilihan wisata kota.

Di situlah nilai strategis Danau Kajang Lako akan diuji: apakah sebuah infrastruktur pengendali banjir dapat berkembang menjadi ruang kehidupan kota yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lanjut Baco

NGOFILM Hadirkan Ruang Santai dan Inspirasi, 23 Peserta Ngopi Sambil Nonton Film di Co-Working Space Rumah BUMN Jambi

28 Agustus 2026 - 07:53 WIB

Lindungi Merek, Perkuat Usaha: Rumah BUMN Jambi Edukasi UMK tentang Pentingnya HKI

28 Agustus 2026 - 02:12 WIB

Festival Batanghari 2026 Jadi Panggung Produk Lokal, 20 UMK Ramaikan Kampung Ekraf

28 Agustus 2026 - 02:01 WIB

Kanwil Kementerian Hukum RI Jambi dan Rumah BUMN Jambi Perkuat Sinergi Perlindungan Kekayaan Intelektual UMKM

24 Agustus 2026 - 08:25 WIB

Rumah BUMN Jambi dan GoFood Latih Pedagang Pasar Tradisional Go Digital

20 Agustus 2026 - 01:37 WIB

#JambiBergerak BERITA