Menu

Mode Gelap
Ekspor ke Malaysia Masih Terbuka Lebar, Rumah BUMN Jambi Bekali 100 UMKM Strategi Go Global Pengurus GP Ansor Provinsi Jambi 2024-2028 Resmi Dilantik

BERITA

Gubernur Al Haris Dorong Penguatan UMKM sebagai Pilar Ketahanan Ekonomi di Jambi Business Matching Forum 2026

badge-check


					Gubernur Al Haris Dorong Penguatan UMKM sebagai Pilar Ketahanan Ekonomi di Jambi Business Matching Forum 2026 Perbesar

JAMBI — Di tengah hiruk-pikuk pemulihan ekonomi pasca-krisis yang mulai menemui titik jenuh, sebuah inisiatif ambisius diluncurkan di jantung Kota Jambi. Pada Kamis (9/4/2026), di bawah pendaran lampu gantung Swiss-Belhotel, Pemerintah Provinsi Jambi bersama Rumah BUMN meresmikan Jambi Business Matching Forum 2026. Ini bukanlah sekadar pameran dagang konvensional. Di bawah arahan Gubernur Jambi, Dr. H. Al Haris, forum ini dirancang sebagai intervensi terstruktur untuk menjahit kemitraan antara Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan raksasa Badan Usaha Milik Negara (BUMN), menempatkan pengusaha lokal sebagai garda terdepan ketahanan ekonomi daerah.

Kehadiran inisiatif ini menemukan urgensinya tepat pada saat indikator makroekonomi menunjukkan sinyal kewaspadaan. Meskipun Jambi masih mencatatkan pertumbuhan positif, dinamika fiskal nasional dan efisiensi anggaran mulai menekan daya beli masyarakat di tingkat akar rumput. Dalam lanskap di mana perputaran uang tak lagi sederas tahun-tahun sebelumnya, memperkuat sektor riil bukan lagi sebuah pilihan moral, melainkan keharusan strategis untuk mencegah stagnasi yang lebih dalam.

Mengkalibrasi Ulang Peran BUMN sebagai “Bapak Asuh”

Dalam pidato pembukaannya, Gubernur Al Haris menawarkan sebuah diagnosis yang jujur mengenai kondisi perekonomian provinsinya. Ia menyadari bahwa pertumbuhan organik bagi pelaku usaha kecil sering kali terbentur oleh tembok struktural: keterbatasan modal, inefisiensi manajemen, dan dinding tebal akses pasar.

“Kita bersyukur ekonomi Jambi masih tumbuh. Namun kita juga harus jujur bahwa ada perlambatan yang kita rasakan. Perputaran uang di daerah tidak sebesar sebelumnya. Karena itu, kita harus memperkuat sektor riil, dan UMKM menjadi salah satu penopang utama yang harus kita jaga,” tegas Gubernur Al Haris.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, pemerintah mengedepankan pendekatan paternalistik yang pragmatis. BUMN didorong untuk mengambil peran sebagai “bapak asuh”. Konsep ini menuntut perusahaan pelat merah untuk tidak hanya bertindak sebagai donatur Corporate Social Responsibility (CSR), tetapi sebagai pembeli aktif dan pendamping manajerial yang membuka rantai pasok mereka bagi produk-produk UMKM Jambi.

Melampaui Retorika: Menghindari Sindrom Kesepakatan di Atas Kertas

Salah satu penyakit kronis dari berbagai forum bisnis birokrasi adalah melimpahnya nota kesepahaman yang menguap sesaat setelah lampu kamera padam. Menyadari sejarah kelam ini, Al Haris memberikan peringatan keras kepada seluruh pemangku kepentingan yang hadir.

“Saya berharap MoU yang ditandatangani hari ini benar-benar ditindaklanjuti. Jangan hanya berhenti di atas kertas. Harus ada realisasi pembelian, ada distribusi produk, ada kesinambungan kerja sama,” ucapnya.

Peringatan ini menjadi jangkar realitas dalam Jambi Business Matching Forum 2026. CEO Rumah BUMN Provinsi Jambi, Deko Sanjaya, mengonfirmasi bahwa acara ini didesain untuk menghindari jebakan seremonial semata. Fokus utamanya dialihkan pada kurasi produk yang ketat, pemetaan kebutuhan pasar, dan penjajakan kerja sama langsung yang melibatkan sektor perhotelan dan restoran sebagai konsumen akhir (end-users).

Data dan Hasil Nyata: 10 Langkah Awal Menuju “Jambi Mantap”

Skala dari forum ini tercermin dari partisipasi 29 UMKM unggulan—yang merupakan hasil kurasi dari Rumah BUMN Jambi, Dinas Perindag, dan entitas binaan lainnya. Menurut CEO Rumah BUMN Jambi, Deko Sanjaya, tujuan akhir dari forum ini adalah membangun “ekosistem usaha yang kokoh.”

Hasil konkret dari pertemuan tersebut adalah lahirnya 10 Memorandum of Understanding (MoU) lintas sektor. Kesepakatan ini melibatkan korporasi besar seperti PT PLN (Persero), PT Bank Mandiri Tbk, PT Telkom Indonesia Tbk, hingga Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, yang kini mengikat komitmen dengan para perajin lokal mulai dari produsen madu, pembuat kue, hingga pengrajin batik tradisional Jambi.

Kesepuluh MoU ini adalah sebuah fondasi. Namun, sebagaimana layaknya sebuah fondasi, ujian sesungguhnya tidak terletak pada saat peletakan batu pertama, melainkan pada kemampuannya menopang struktur bangunan saat badai ekonomi benar-benar menerpa.

Jika Jambi Business Matching Forum 2026 berhasil mengubah tanda tangan menjadi transaksi yang konsisten, maka Provinsi Jambi mungkin baru saja menemukan cetak biru yang solid untuk membangun ketahanan ekonomi yang berkeadilan. Namun, jika ini gagal diimplementasikan, ia hanya akan menjadi catatan kaki dalam panjangnya sejarah janji manis pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lanjut Baco

Inklusif Berkarya, Rumah BUMN Jambi dan GERKATIN Latih 17 Teman Tuli Membuat Sabun Handmade

28 Juli 2026 - 08:04 WIB

GAPEMBI Provinsi Jambi Siap Sinergi Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis

26 Juli 2026 - 21:30 WIB

Bangun Kepercayaan Pelanggan, 17 UMKM Jambi Belajar Susun Company Profile Profesional

23 Juli 2026 - 09:18 WIB

Tingkatkan Kualitas Layanan, Kemenag Kota Jambi Gandeng BSI Gelar Capacity Building Petugas PTSP Menuju Service Excellence

17 Juli 2026 - 16:51 WIB

Pelaku Usaha Desa Mendalo Laut Belajar Legalitas dan AI Bersama Rumah BUMN Jambi

17 Juli 2026 - 03:00 WIB

#JambiBergerak BERITA