JAMBI — Sepak bola akan membawa ribuan orang berkumpul di satu tempat pada dini hari. Namun, bagi Pemerintah Kota Jambi, kerumunan itu bukan semata-mata tentang pertandingan final Piala Dunia 2026. Momentum tersebut dimanfaatkan untuk mempertemukan tiga hal sekaligus: hiburan publik, aktivitas ekonomi UMKM, dan akses layanan pemerintahan.
Pemerintah Kota Jambi menyiapkan Nonton Bareng (Nobar) Final Piala Dunia FIFA 2026 di kawasan Tugu Keris Siginjai, dengan laga Spanyol melawan Argentina sebagai pertandingan puncak. Acara dijadwalkan berlangsung Senin, 20 Juli 2026, pukul 02.00 WIB dan terbuka gratis bagi masyarakat.

Yang membuat agenda ini berbeda adalah desain acaranya. Di sekitar lokasi, pelaku UMKM disiapkan ruang untuk menjual kuliner dan produk lokal. Pemerintah juga menyediakan hiburan, doorprize, voucher belanja, serta gerai layanan administrasi kependudukan dan perlindungan sosial.
Dengan demikian, pertandingan sepak bola menjadi semacam magnet yang menarik masyarakat ke sebuah ruang publik. Di ruang yang sama, pemerintah berusaha menciptakan transaksi ekonomi sekaligus mempertemukan warga dengan layanan yang mereka perlukan.
Dari Layar Besar ke Perputaran Ekonomi
Kebijakan tersebut berangkat dari satu kenyataan sederhana: kegiatan dengan jumlah pengunjung besar memiliki potensi ekonomi yang besar pula.
Ketika ribuan orang datang untuk menonton pertandingan, mereka membutuhkan makanan, minuman, produk lokal, transportasi, dan berbagai kebutuhan lain. Jika aktivitas tersebut diarahkan kepada pelaku usaha lokal, antusiasme olahraga dapat berubah menjadi peluang ekonomi.
Pemerintah Kota Jambi secara khusus menyiapkan voucher belanja gratis yang dapat digunakan masyarakat di stan UMKM yang berpartisipasi. Skema tersebut tidak hanya menjadi hadiah bagi penonton, tetapi juga mendorong uang berputar langsung di antara konsumen dan pelaku usaha lokal.
Juru Bicara Pemkot Jambi, Saleh Ridho, mengatakan kegiatan tersebut memang dirancang agar memiliki dampak lebih luas daripada sekadar hiburan.
“Kegiatan ini juga menjadi ruang bagi para pelaku UMKM untuk meningkatkan penjualan dan memperluas pasar.”
Pernyataan tersebut menunjukkan arah kebijakan yang cukup jelas. Pemerintah mencoba menggunakan sebuah acara yang sudah memiliki daya tarik alami untuk menciptakan traffic bagi usaha kecil.
UMKM Mendapatkan Panggung di Tengah Euforia Sepak Bola
Bagi pelaku UMKM, persoalan terbesar sering kali bukan hanya kemampuan memproduksi barang, melainkan mendapatkan konsumen.
Nobar menyediakan salah satu jawaban terhadap persoalan itu.
Ribuan orang yang berkumpul menciptakan pasar sementara. Pedagang kuliner dan produk lokal memperoleh akses langsung kepada konsumen tanpa harus mengeluarkan biaya promosi dalam skala besar.
Pendekatan ini menjadi semakin menarik karena pemerintah tidak hanya menyediakan tempat berjualan. Voucher belanja gratis ikut diarahkan kepada stan UMKM yang berpartisipasi sehingga terdapat insentif tambahan bagi masyarakat untuk bertransaksi.
Dalam konteks pengembangan ekonomi lokal, strategi semacam ini dapat memberikan manfaat ganda. Masyarakat mendapatkan hiburan gratis, sementara pelaku usaha mendapatkan kesempatan memperkenalkan produknya.
Jika pola tersebut dilakukan secara konsisten dalam berbagai kegiatan publik, acara pemerintah dapat berfungsi sebagai salah satu kanal pemasaran bagi UMKM.
Layanan Pemerintah Masuk ke Ruang Keramaian
Namun, dimensi ekonomi bukan satu-satunya hal yang menarik dari agenda tersebut.
Pemkot Jambi juga menyiapkan gerai aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD) serta sosialisasi dan pendaftaran Perlindungan Sosial (Perlinsos) digital.
Keputusan membawa layanan tersebut ke lokasi acara memperlihatkan pendekatan berbeda terhadap pelayanan publik.
Alih-alih menunggu masyarakat datang ke kantor pemerintahan, pemerintah membawa sebagian layanan mendekati masyarakat—bahkan ke tempat yang sejak awal mereka datangi untuk tujuan rekreasi.
Aktivasi IKD berkaitan dengan digitalisasi identitas kependudukan. Sementara layanan Perlinsos diarahkan untuk mendukung pendataan perlindungan sosial yang lebih akurat dan transparan.
Dengan menempatkan layanan tersebut di lokasi nobar, pemerintah mendapatkan akses kepada kelompok masyarakat yang mungkin tidak secara khusus datang ke kantor pelayanan untuk mengurus administrasi.
Hiburan dan Pelayanan Berjalan Bersamaan
Saleh Ridho mengatakan Pemkot Jambi ingin agar masyarakat tidak hanya mendapatkan hiburan dari agenda tersebut, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dan sosial.
Konsep itu terlihat dari rangkaian kegiatan yang disiapkan.
Sebelum pertandingan, masyarakat akan disuguhi penampilan grup band, permainan interaktif, doorprize, dan berbagai kegiatan lain. Pertandingan ditayangkan melalui layar LED berukuran besar untuk mengakomodasi antusiasme masyarakat yang diperkirakan memenuhi kawasan Tugu Keris Siginjai.
Artinya, pemerintah tidak sekadar menempatkan layar dan mengundang warga. Acara tersebut dirancang sebagai sebuah pengalaman publik.
Ada hiburan, ada transaksi ekonomi, ada layanan pemerintahan, dan ada ruang interaksi sosial.
Final Piala Dunia Menjadi Titik Temu Warga
Piala Dunia memiliki karakter yang berbeda dari banyak agenda olahraga lainnya. Ia mampu menarik perhatian lintas kelompok usia dan latar belakang.
Hal tersebut terlihat dari rangkaian nobar yang telah digelar Pemkot Jambi sejak babak perempat final dan semifinal. Untuk pertandingan final, pemerintah memperkirakan antusiasme masyarakat akan semakin besar.
Momentum tersebut kemudian digunakan untuk menciptakan ruang perjumpaan.
Dalam kehidupan kota yang semakin padat, ruang publik semacam ini memiliki fungsi sosial yang tidak kecil. Warga datang dengan identitas sebagai pendukung tim yang berbeda, tetapi berada dalam ruang yang sama dan menikmati acara bersama.
Pada titik itu, sepak bola menjadi lebih dari pertandingan. Ia menjadi bahasa bersama yang memungkinkan masyarakat berinteraksi.
Tidak Berhenti di Pertandingan Final
Pemkot Jambi juga menyiapkan agenda nonton bersama pertandingan perebutan posisi ketiga dan keempat antara Prancis dan Inggris.
Pertandingan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 19 Juli 2026 pukul 04.00 WIB, dengan rangkaian nobar dimulai pada Sabtu malam. Seluruh kegiatan disebut terbuka untuk umum dan gratis.
Strategi tersebut memperpanjang aktivitas di kawasan Tugu Keris Siginjai dan sekaligus memberi kesempatan lebih banyak kepada pelaku UMKM untuk berjualan.
Semakin panjang durasi kegiatan dan semakin banyak pengunjung yang datang, semakin besar pula peluang transaksi ekonomi yang tercipta.
Namun, manfaat tersebut tentu bergantung pada bagaimana kegiatan dikelola, mulai dari jumlah UMKM yang terlibat hingga kemampuan mereka mengantisipasi kebutuhan konsumen.
Pengalaman Nobar Menjadi Investasi Sosial
Ada dimensi lain yang lebih sulit diukur tetapi tidak kalah penting: pengalaman masyarakat terhadap ruang publik.
Ketika sebuah kawasan kota mampu menjadi tempat menonton pertandingan, menikmati kuliner lokal, memperoleh layanan pemerintah, dan berinteraksi dengan warga lain dalam suasana aman, kawasan tersebut memperoleh fungsi sosial yang lebih kuat.
Dalam konteks itu, Tugu Keris Siginjai tidak hanya berfungsi sebagai sebuah landmark. Ia menjadi ruang tempat berbagai aktivitas masyarakat bertemu.
Pemerintah Kota Jambi juga meminta masyarakat menjaga ketertiban, keamanan, kebersihan, dan kelancaran acara. Pengamanan dilakukan melalui koordinasi dengan kepolisian dan instansi terkait, sementara masyarakat diimbau memperhatikan rekayasa lalu lintas di sekitar kawasan.
Hal ini penting karena keberhasilan acara dengan massa besar bukan hanya ditentukan oleh meriahnya acara, tetapi juga kemampuan pemerintah menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung.
Dari Euforia ke Dampak Ekonomi
Agenda tersebut kemudian terbukti memiliki daya tarik besar ketika final Piala Dunia benar-benar digelar pada 20 Juli 2026.
Ribuan warga memenuhi kawasan Tugu Keris Siginjai dalam kegiatan yang kemudian diberi nama “Nobar Bahagia”. Pemerintah Kota Jambi melaporkan bahwa ratusan pelaku UMKM ikut berjualan, sementara masyarakat mengikuti berbagai hiburan dan permainan interaktif.
Voucher belanja kembali menjadi salah satu instrumen untuk menghubungkan penonton dengan tenant UMKM. Selain itu, terdapat kuis, lomba juggling, adu penalti mini, live music, hingga program tebak skor melalui pemindaian kode batang.
Wali Kota Jambi Maulana mengatakan antusiasme tersebut memberikan dampak ekonomi yang besar.
“Ini memberikan dampak ekonomi yang luar biasa.”
Menurut Maulana, pemerintah masih melakukan penghitungan terhadap nilai perputaran ekonomi yang tercipta melalui kegiatan tersebut. Namun, ia menilai pertumbuhan titik-titik UMKM selama rangkaian Piala Dunia telah menciptakan aktivitas ekonomi yang signifikan.
Ketika Olahraga Menjadi Instrumen Ekonomi Kota
Apa yang dilakukan Pemkot Jambi memperlihatkan pola yang semakin umum dalam pengelolaan kota: olahraga dan hiburan publik dapat digunakan sebagai instrumen penggerak ekonomi.
Sebuah pertandingan besar menghasilkan kerumunan. Kerumunan menghasilkan permintaan. Permintaan menciptakan peluang bagi pedagang dan pelaku usaha. Pemerintah kemudian berperan mengatur ruang agar rantai ekonomi tersebut dapat berlangsung dengan tertib.
Dalam model seperti ini, keberhasilan tidak hanya dilihat dari jumlah penonton.
Ukuran lainnya adalah berapa banyak UMKM yang terlibat, seberapa besar transaksi terjadi, apakah konsumen memperoleh pengalaman yang baik, dan apakah pelaku usaha mendapatkan pelanggan baru setelah acara berakhir.
Jika semua unsur tersebut terpenuhi, sebuah agenda olahraga dapat berubah menjadi bagian dari strategi pengembangan ekonomi lokal.
Layanan Publik di Tengah Pesta Warga
Yang membedakan Nobar Bahagia dari sekadar acara olahraga adalah keberadaan layanan publik di dalamnya.
Aktivasi IKD dan layanan Perlinsos menunjukkan bahwa pemerintah berusaha menyisipkan fungsi pelayanan ke dalam kegiatan yang memiliki tingkat kunjungan tinggi.
Pendekatan ini dapat menjadi contoh bagaimana pelayanan publik tidak selalu harus berlangsung dalam ruang formal.
Kantor pemerintahan memiliki fungsi penting, tetapi masyarakat juga beraktivitas di pasar, taman, pusat olahraga, ruang komunitas, dan berbagai tempat publik lainnya.
Mendekatkan layanan ke ruang-ruang tersebut dapat menjadi salah satu cara meningkatkan aksesibilitas, selama informasi, prosedur, dan keamanan data masyarakat tetap dijaga.
Lebih dari Sekadar Nonton Bola
Pada akhirnya, agenda Nobar Final Piala Dunia 2026 di Kota Jambi memperlihatkan bagaimana satu pertandingan dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan.
Ia menghadirkan hiburan bagi warga. Ia membuka pasar bagi UMKM. Ia menyediakan akses terhadap layanan kependudukan dan perlindungan sosial. Pada saat yang sama, ia menghidupkan ruang publik dan mempertemukan masyarakat dalam suasana yang relatif informal.
Pemerintah Kota Jambi tampaknya ingin menjadikan kegiatan semacam ini sebagai bagian dari gagasan Kota Jambi Bahagia—sebuah kota yang tidak hanya menyediakan layanan dan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, menikmati hiburan, dan menggerakkan ekonomi.
Namun, keberhasilan akhirnya tidak cukup diukur dari meriahnya satu malam.
Yang lebih penting adalah apakah pelaku UMKM memperoleh manfaat nyata, apakah masyarakat mendapatkan layanan yang lebih mudah, dan apakah ruang publik dapat terus digunakan untuk kegiatan produktif lainnya.
Sepak bola hanya menjadi pemicunya.
Di balik layar besar dan sorak penonton, ada eksperimen kecil mengenai bagaimana sebuah kota dapat mengubah kerumunan menjadi kesempatan—bagi warga untuk berkumpul, bagi usaha kecil untuk tumbuh, dan bagi pemerintah untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat.








