Menu

Mode Gelap
Ekspor ke Malaysia Masih Terbuka Lebar, Rumah BUMN Jambi Bekali 100 UMKM Strategi Go Global Pengurus GP Ansor Provinsi Jambi 2024-2028 Resmi Dilantik

BERITA

Mendidik Anak Dimulai dari Rumah: Jambi Menempatkan Keluarga di Jantung Pendidikan Usia Dini

badge-check


					Mendidik Anak Dimulai dari Rumah: Jambi Menempatkan Keluarga di Jantung Pendidikan Usia Dini Perbesar

Parenting PAUD Menjadi Ruang Belajar bagi Orang Tua untuk Memahami Kebutuhan Anak

JAMBI — Pendidikan anak usia dini kerap dipahami sebagai urusan sekolah: guru, ruang kelas, kurikulum, dan fasilitas belajar. Namun, sebelum seorang anak mengenal guru dan lingkungan sekolah, ia terlebih dahulu mengenal rumah. Dari sanalah ia belajar berbicara, merespons emosi, memahami kasih sayang, membangun kepercayaan diri, dan mengenali dunia di sekitarnya.

Kesadaran itulah yang menjadi dasar kegiatan Parenting bagi Orang Tua Peserta Didik PAUD yang dibuka Bunda PAUD Kota Jambi, Dr. dr. Hj. Nadiyah, Sp.OG, di Aula Drs. H. Hasip Kalimuddin Syam, M.M., TK dan SD Islam Al Falah Kota Jambi, Kamis (23/7/2026). Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kota Jambi tersebut diikuti 180 perwakilan wali murid dari sekolah-sekolah di 11 kecamatan.

Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya mempertemukan tiga unsur yang menentukan kualitas pendidikan anak usia dini: keluarga, satuan PAUD, dan pemerintah.

Menggeser Cara Pandang tentang Pengasuhan

Salah satu pesan utama yang disampaikan Nadiyah adalah bahwa menjadi orang tua tidak berhenti pada memenuhi kebutuhan dasar anak. Orang tua juga perlu memahami bagaimana anak berkembang dan bagaimana respons orang dewasa dapat membentuk karakter mereka.

Dalam kegiatan tersebut, Nadiyah membawakan materi “Mindful Parenting: Mengasuh Anak dengan Sabar dan Kesadaran.” Konsep ini menekankan kehadiran penuh orang tua ketika berinteraksi dengan anak, kemampuan mengelola emosi, mendengarkan tanpa menghakimi, serta merespons kebutuhan anak secara sadar, bukan secara impulsif.

“Pengasuhan yang berkesadaran berarti orang tua benar-benar hadir untuk anak, bukan sekadar menjalankan rutinitas.”

Pernyataan tersebut mengandung persoalan yang lebih luas daripada sekadar teknik pengasuhan. Di tengah kehidupan keluarga yang semakin sibuk, kualitas waktu bersama anak dapat menjadi sama pentingnya dengan jumlah waktu yang tersedia.

Anak tidak selalu membutuhkan orang tua yang terus-menerus berada di dekatnya. Mereka membutuhkan orang tua yang benar-benar hadir ketika interaksi itu berlangsung.

Ayah dan Ibu Sama-Sama Memiliki Peran

Salah satu aspek yang ditekankan dalam kegiatan parenting tersebut adalah pentingnya keterlibatan kedua orang tua.

Nadiyah menilai kehadiran ayah dan ibu diperlukan agar proses pengasuhan berlangsung konsisten. Ia mengapresiasi kehadiran para ayah dalam kegiatan tersebut sebagai tanda bahwa pendidikan anak tidak semestinya dibebankan kepada ibu seorang.

“Yang dibutuhkan bukan hanya ibu, tetapi juga ayah.”

Pesan ini penting karena keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama anak.

Sekolah memiliki peran besar dalam membentuk kemampuan akademik dan sosial, tetapi kebiasaan, pola komunikasi, dan cara anak memahami dirinya sendiri banyak terbentuk melalui interaksi sehari-hari di rumah.

Karena itu, keterlibatan ayah dan ibu bukan sekadar pelengkap. Ia merupakan bagian dari fondasi pengasuhan.

Enam Fondasi Kesiapan Sekolah

Salah satu hal penting yang disampaikan Nadiyah adalah perubahan cara melihat kesiapan anak memasuki sekolah dasar.

Menurutnya, tes membaca, menulis, dan berhitung (calistung) tidak lagi menjadi syarat utama masuk SD. Sebaliknya, perhatian diarahkan pada enam fondasi kesiapan sekolah anak usia dini.

Keenam fondasi tersebut meliputi:

  1. Nilai agama dan budi pekerti
  2. Keterampilan sosial dan bahasa
  3. Kematangan emosi
  4. Kematangan kognitif
  5. Keterampilan motorik dan perawatan diri
  6. Pemaknaan belajar yang positif

Pendekatan tersebut mengubah fokus pendidikan dari sekadar kemampuan akademik menuju perkembangan anak secara utuh.

Seorang anak yang mampu membaca sejak dini belum tentu siap menghadapi lingkungan sekolah apabila ia belum mampu berkomunikasi, mengelola emosi, merawat dirinya, atau berinteraksi dengan teman sebaya.

Dengan kata lain, kesiapan sekolah bukan hanya tentang apa yang diketahui anak, tetapi juga bagaimana anak mampu menjalani proses belajar.

Setiap Anak Memiliki Potensi Berbeda

Nadiyah juga mengingatkan orang tua agar tidak menjadikan anak lain sebagai ukuran tunggal keberhasilan.

Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan dan potensi yang berbeda. Karena itu, tugas orang tua bukan memaksakan satu standar kepada seluruh anak, melainkan menemukan, menggali, dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki masing-masing anak.

“Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Tugas kita adalah menemukan, menggali, dan mengembangkan potensi tersebut.”

Pandangan tersebut relevan dengan pendidikan usia dini yang menempatkan anak sebagai individu dengan karakteristik unik.

Tekanan berlebihan untuk mencapai kemampuan tertentu pada usia tertentu justru dapat membuat proses belajar menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan.

Sebaliknya, lingkungan yang memberikan rasa aman dan kesempatan bereksplorasi dapat membantu anak membangun hubungan positif dengan proses belajar.

Investasi Terbaik Dimulai dari Anak Usia Dini

Dalam kegiatan itu, Nadiyah juga menekankan pentingnya investasi pada anak usia dini karena perkembangan pada masa tersebut menjadi salah satu fondasi bagi masa depan mereka.

Investasi tersebut tidak selalu berbentuk fasilitas mahal.

Membacakan buku, mengajak berbicara, mendengarkan cerita anak, bermain bersama, memberikan pelukan, atau membantu anak mengenali emosinya merupakan bentuk investasi yang sederhana tetapi memiliki nilai perkembangan yang besar.

Karena itu, pendidikan usia dini pada akhirnya tidak hanya berlangsung di gedung PAUD.

Ia berlangsung di meja makan, ruang keluarga, halaman rumah, perjalanan menuju sekolah, bahkan dalam percakapan singkat antara orang tua dan anak.

Sentuhan Kasih Sayang sebagai Bahasa Anak

Nadiyah juga mengajak orang tua membangun kedekatan emosional melalui sentuhan kasih sayang, termasuk pelukan dan ciuman. Menurutnya, interaksi tersebut merupakan bagian penting dalam membangun kedekatan antara orang tua dan anak.

Ia juga menyoroti posisi ayah dalam perkembangan anak, baik sebagai pelindung bagi anak perempuan maupun teladan bagi anak laki-laki.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa pengasuhan bukan hanya persoalan disiplin dan pendidikan formal. Hubungan emosional juga menentukan bagaimana anak membangun rasa aman dan kepercayaan terhadap lingkungan terdekatnya.

Parenting sebagai Jembatan Sekolah dan Rumah

Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Nonformal Dinas Pendidikan Kota Jambi, Husna Marlina, menjelaskan bahwa kegiatan parenting bertujuan meningkatkan pemahaman orang tua mengenai pola asuh yang produktif sekaligus memperkuat sinergi keluarga dan satuan PAUD.

Materi juga mencakup kesehatan, gizi, tumbuh kembang, dan pendidikan anak.

Artinya, kegiatan parenting tidak ditempatkan sebagai seminar satu arah. Ia diharapkan menjadi jembatan komunikasi antara apa yang dilakukan sekolah dan apa yang berlangsung di rumah.

Ketika guru dan orang tua memiliki pemahaman yang sejalan, anak memperoleh lingkungan perkembangan yang lebih konsisten.

180 Orang Tua dan Pesan untuk Ribuan Keluarga

Sebanyak 180 peserta yang hadir merupakan perwakilan wali murid dari sekolah di seluruh 11 kecamatan Kota Jambi.

Angka tersebut memang tidak merepresentasikan seluruh orang tua peserta didik PAUD di Kota Jambi. Namun, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana penyebaran pengetahuan pengasuhan melalui satuan pendidikan dan komunitas keluarga.

Efeknya diharapkan tidak berhenti di ruang kegiatan.

Orang tua yang memperoleh pemahaman baru dapat menerapkannya di rumah, sementara sekolah dapat memperkuat komunikasi dengan keluarga berdasarkan kebutuhan perkembangan anak.

Dengan cara itu, parenting menjadi bagian dari ekosistem pendidikan, bukan sekadar agenda seremonial.

Pendidikan Anak Tidak Berdiri Sendiri

Kegiatan tersebut juga berlangsung dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Bahagia TK dan SD Islam Al Falah Tahun Ajaran 2026. Suasana kegiatan dibuat dekat dengan dunia anak melalui penampilan seni, kegiatan belajar, bermain, dan bernyanyi bersama.

Bunda PAUD Kota Jambi juga menyerahkan secara simbolis bantuan seragam sekolah bagi murid baru TK Pembina serta makanan tambahan untuk mendukung pemenuhan gizi dan tumbuh kembang anak.

Dua hal tersebut—pendidikan dan pemenuhan kebutuhan dasar—menunjukkan bahwa pembangunan anak tidak dapat dipisahkan dari persoalan kesehatan, gizi, lingkungan keluarga, dan kesejahteraan.

Dukungan Pemerintah Menjangkau Keluarga Kurang Mampu

Dalam laporan kegiatan, Dinas Pendidikan Kota Jambi juga menyampaikan sejumlah program pemerintah di bidang pendidikan, termasuk Program Wajib Belajar 12 Tahun, Program Indonesia Pintar (PIP), dan Program Kartu Bahagia.

Pada 2026, sekitar 490 anak dari keluarga kurang mampu disebut memperoleh bantuan berdasarkan data dan keterangan dari kelurahan.

Data tersebut memperlihatkan bahwa agenda pendidikan pemerintah tidak hanya berkaitan dengan pembangunan sekolah.

Ada pula persoalan akses, kemampuan ekonomi keluarga, kebutuhan gizi, serta dukungan sosial yang menentukan apakah seorang anak dapat menikmati pendidikan secara optimal.

Membangun Generasi Berkualitas Tidak Bisa Instan

Pemerintah dapat membangun sekolah. Guru dapat mengajar. Kurikulum dapat diperbarui.

Namun, kualitas generasi tidak lahir dari satu kebijakan atau satu institusi.

Ia terbentuk dari ribuan keputusan kecil yang dilakukan setiap hari: bagaimana orang tua berbicara kepada anak, bagaimana guru merespons pertanyaan mereka, bagaimana lingkungan memberi ruang untuk bermain dan belajar, serta bagaimana pemerintah memastikan layanan pendidikan dapat diakses secara adil.

Itulah sebabnya kegiatan parenting memiliki posisi penting dalam agenda PAUD Kota Jambi.

Ia mengingatkan bahwa keluarga bukan konsumen pendidikan, melainkan salah satu pelaku utama pendidikan itu sendiri.

Dari Keluarga Menuju Generasi Kota Jambi Bahagia

Kegiatan parenting yang dibuka Bunda PAUD Kota Jambi pada akhirnya membawa pesan sederhana: pendidikan anak tidak dimulai ketika bel sekolah berbunyi.

Ia dimulai jauh sebelumnya—di rumah, dalam hubungan antara anak dan orang tua.

Dengan memperkuat keterlibatan ayah dan ibu, memperkenalkan pola pengasuhan yang lebih sadar, serta memahami enam fondasi kesiapan sekolah, Pemerintah Kota Jambi berupaya membangun pendekatan pendidikan yang lebih utuh.

Target akhirnya bukan sekadar melahirkan anak yang mampu mengikuti pelajaran.

Lebih jauh, yang ingin dibangun adalah generasi yang sehat, cerdas, percaya diri, berkarakter, mampu berinteraksi, dan memiliki hubungan positif dengan proses belajar.

Sebab, jika masa depan sebuah kota ditentukan oleh kualitas manusianya, maka investasi paling awal—dan mungkin paling menentukan—memang harus dimulai dari tempat seorang anak pertama kali belajar mengenal dunia: keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lanjut Baco

NGOFILM Hadirkan Ruang Santai dan Inspirasi, 23 Peserta Ngopi Sambil Nonton Film di Co-Working Space Rumah BUMN Jambi

28 Agustus 2026 - 07:53 WIB

Lindungi Merek, Perkuat Usaha: Rumah BUMN Jambi Edukasi UMK tentang Pentingnya HKI

28 Agustus 2026 - 02:12 WIB

Festival Batanghari 2026 Jadi Panggung Produk Lokal, 20 UMK Ramaikan Kampung Ekraf

28 Agustus 2026 - 02:01 WIB

Kanwil Kementerian Hukum RI Jambi dan Rumah BUMN Jambi Perkuat Sinergi Perlindungan Kekayaan Intelektual UMKM

24 Agustus 2026 - 08:25 WIB

Rumah BUMN Jambi dan GoFood Latih Pedagang Pasar Tradisional Go Digital

20 Agustus 2026 - 01:37 WIB

#JambiBergerak BERITA