JAMBI — Di tengah rutinitas birokrasi pemerintahan modern yang sering kali terhalang oleh sekat-sekat formalitas, Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi memilih pendekatan yang lebih membumi. Pada Senin malam (2/3/2026), suasana di Masjid Kurnia, RT 04, Kelurahan Beliung, Kecamatan Alam Barajo, tidak sekadar diwarnai oleh khusyuknya ibadah malam bulan suci. Kehadiran Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, bersama jajaran eksekutifnya telah mengubah ruang ibadah tersebut menjadi semacam balai kota mini—sebuah arena demokrasi langsung untuk menyerap denyut nadi keluhan dan aspirasi di tingkat akar rumput.
Bagi administrasi kota saat ini, program Safari Ramadan telah diredefinisi. Acara ini bukan lagi sekadar tur keagamaan seremonial atau agenda tahunan yang bersifat menggugurkan kewajiban. Sebaliknya, Safari Ramadan dimanfaatkan sebagai instrumen taktis untuk menjembatani jarak antara para pembuat kebijakan dan warga yang terdampak oleh kebijakan tersebut.

Menembus Sekat Birokrasi Melalui ‘Ukhuwah Islamiyah’
Dalam lanskap sosiologi politik Indonesia, masjid selalu memiliki peran ganda: sebagai pusat spiritual dan pusat konsolidasi sosial. Memahami dinamika ini, Wakil Wali Kota Diza Hazra Aljosha memaparkan bahwa esensi dari Safari Ramadan adalah membangun ruang dialog dua arah tanpa harus melewati lapisan birokrasi yang panjang.
“Safari Ramadan menjadi momentum mempererat ukhuwah Islamiyah, memperkuat silaturahmi, sekaligus mendengar langsung aspirasi dan harapan masyarakat,” tegas Diza di hadapan para jemaah.
Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Bukti keseriusan Pemkot Jambi terlihat dari komposisi rombongan yang mendampingi sang Wakil Wali Kota. Mulai dari level Kepala Dinas, Staf Ahli, Asisten, Camat, hingga Lurah dan Ketua RT setempat, semuanya diinstruksikan untuk hadir. Strategi ini dirancang agar setiap keluhan warga—baik terkait infrastruktur, layanan kesehatan, hingga pendidikan—dapat langsung ditanggapi dan dikoordinasikan pada malam itu juga oleh dinas yang bersangkutan.
Pembangunan kota, menurut Diza, mustahil berjalan secara sepihak. Konsep Kota Jambi Bahagia yang berorientasi pada pemberdayaan ekonomi umat dan perbaikan fasilitas publik mensyaratkan adanya partisipasi aktif dari warga itu sendiri.
Filantropi Terstruktur dan Rekonstruksi Moral
Selain membuka keran aspirasi, kegiatan malam itu juga ditandai dengan intervensi fiskal untuk memperkuat kemandirian fasilitas sosial. Melalui kolaborasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Jambi, pemerintah menyalurkan dana operasional sebesar Rp5 juta untuk Masjid Kurnia. Bantuan yang merupakan bagian dari “Program Kota Taqwa” ini juga dilengkapi dengan penyerahan karpet dan perlengkapan sarana masjid lainnya.
Pendekatan ini menggarisbawahi komitmen pemerintah bahwa rumah ibadah harus didukung secara finansial agar fungsinya sebagai pusat edukasi dan pemberdayaan komunitas lokal dapat berjalan secara berkesinambungan.
Namun, pembangunan fisik dan administratif belumlah lengkap tanpa adanya rekonstruksi moral. Nuansa edukasi spiritual ini ditekankan melalui tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Anwar. Dalam ceramahnya, ia memberikan peringatan keras mengenai degradasi sosial dengan menjabarkan empat golongan yang terhalang dari ampunan (maghfirah) Tuhan di bulan suci: mereka yang memutus tali silaturahmi, durhaka kepada orang tua maupun pendidik, menyimpan dendam, serta yang terjerumus dalam candu narkoba, minuman keras, dan perjudian.
Pesan moral tersebut beresonansi kuat dengan visi Pemkot Jambi. Penyakit-penyakit sosial inilah yang sering kali menjadi akar dari tingginya angka kriminalitas dan kemiskinan di kawasan urban.
Integrasi Visi Kota Jambi Bahagia
Pada akhirnya, Safari Ramadan 2026 di Kota Jambi memberikan sebuah preseden penting tentang bagaimana tata kelola pemerintahan daerah seharusnya dijalankan. Dengan menggabungkan ibadah komunal (salat Tarawih dan Witir), dukungan filantropi (BAZNAS), pembinaan moral, dan penyerapan aspirasi publik dalam satu waktu, Pemkot Jambi tengah merajut sebuah ekosistem sosial yang solid.
Langkah ini membuktikan bahwa mewujudkan visi Kota Jambi Bahagia—sebuah kota yang religius, harmonis, dan sejahtera—tidak hanya membutuhkan perencanaan anggaran di atas kertas, tetapi juga keberanian pemimpinnya untuk duduk bersila, mendengarkan, dan memberikan solusi langsung di tengah-tengah warganya.








