Menu

Mode Gelap
Ekspor ke Malaysia Masih Terbuka Lebar, Rumah BUMN Jambi Bekali 100 UMKM Strategi Go Global Pengurus GP Ansor Provinsi Jambi 2024-2028 Resmi Dilantik

BERITA

Menjaga Malam Kota Jambi: Ketika Keamanan Menjadi Fondasi Kehidupan Perkotaan

badge-check


					Menjaga Malam Kota Jambi: Ketika Keamanan Menjadi Fondasi Kehidupan Perkotaan Perbesar

Patroli Gabungan Forkopimda Menyasar Geng Motor, Balap Liar, Tawuran Remaja, hingga Kejahatan Jalanan

JAMBI — Kota yang hidup hingga malam membutuhkan lebih dari sekadar lampu jalan dan keramaian. Ia membutuhkan rasa aman. Warga harus dapat pulang tanpa kecemasan, pelaku usaha dapat membuka tokonya tanpa rasa takut, anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang terlindungi, dan ruang publik dapat digunakan tanpa dibayangi ancaman kekerasan.

Pesan itu ditegaskan Wali Kota Jambi Maulana ketika memimpin apel dan patroli malam gabungan bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Jambi, Sabtu malam, 25 Juli 2026. Kegiatan tersebut melibatkan unsur Polri, TNI, Kejaksaan, DPRD, Satpol PP, dan jajaran Pemerintah Kota Jambi sebagai langkah preventif menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

Patroli dimulai dari kawasan Tugu Keris Siginjai dan dilanjutkan ke sejumlah titik strategis, termasuk kawasan Kota Tua dan Pasar Jambi. Sasaran utamanya adalah mengantisipasi aksi geng motor, kenakalan remaja, serta tindak pidana 3C—pencurian dengan pemberatan, pencurian dengan kekerasan, dan pencurian kendaraan bermotor.

Bagi Maulana, pesan yang ingin disampaikan bukan sekadar penindakan. Pemerintah ingin memastikan bahwa Kota Jambi tetap menjadi ruang yang aman bagi seluruh warganya.

Ketika Kenakalan Remaja Berubah Menjadi Ancaman Publik

Persoalan geng motor, balap liar, tawuran, dan kekerasan jalanan kerap ditempatkan dalam kategori kenakalan remaja. Namun, batas antara kenakalan dan tindak kriminal dapat berubah ketika tindakan tersebut melibatkan kekerasan, senjata tajam, perusakan fasilitas umum, atau ancaman terhadap keselamatan orang lain.

Maulana menegaskan bahwa situasi seperti itu tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan remaja biasa.

“Ketika aksi tersebut telah disertai kekerasan, penggunaan senjata tajam, perusakan fasilitas umum, bahkan mengancam keselamatan jiwa masyarakat, maka itu adalah tindak kriminal yang harus ditangani secara tegas sekaligus bijaksana.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan dua sisi pendekatan pemerintah: ketegasan terhadap tindak kriminal sekaligus pencegahan sejak dini.

Pendekatan kedua menjadi penting karena persoalan keamanan yang melibatkan anak muda tidak selalu selesai melalui penindakan. Ada aspek keluarga, pendidikan, lingkungan sosial, aktivitas komunitas, hingga penggunaan ruang publik yang ikut memengaruhinya.

Patroli sebagai Pesan Kehadiran Negara

Dalam situasi keamanan perkotaan, kehadiran aparat memiliki fungsi yang lebih luas daripada menangkap pelaku kejahatan.

Patroli menunjukkan bahwa pemerintah mengetahui apa yang terjadi di ruang publik dan siap merespons ketika muncul gangguan.

Karena itu, patroli gabungan yang dilakukan Pemerintah Kota Jambi bersama Forkopimda dapat dibaca sebagai strategi preventif sekaligus simbol kehadiran pemerintah.

Maulana menegaskan bahwa menjaga keamanan bukan hanya tanggung jawab Polri dan TNI. Pemerintah kota, Satpol PP, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga warga memiliki peran masing-masing.

“Keamanan tidak hanya ditangani oleh Polri dan TNI, tetapi juga harus didukung seluruh jajaran Pemerintah Kota Jambi, Satpol PP, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga seluruh lapisan masyarakat.”

Pandangan tersebut penting karena keamanan kota pada dasarnya merupakan kerja kolektif.

Hampir 900 Personel Dikerahkan

Skala patroli malam itu menunjukkan keseriusan pemerintah dan aparat.

Kapolresta Jambi Kombes Pol. Ananto Herlambang menyebut sekitar 351 personel Polresta Jambi terlibat dalam patroli. Setelah digabung dengan unsur TNI dan Pemerintah Kota Jambi, total kekuatan yang diterjunkan mencapai hampir 900 personel.

Jumlah tersebut bukan semata persoalan kuantitas.

Yang lebih penting adalah bagaimana kekuatan tersebut digunakan secara tepat: mendeteksi potensi gangguan, mengawasi titik rawan, berinteraksi dengan masyarakat, dan mengambil tindakan apabila ditemukan pelanggaran.

Kapolresta juga menekankan bahwa patroli tidak hanya diarahkan untuk mencegah tindak kriminal, tetapi juga mengedepankan pendekatan kepada remaja yang masih berada di luar rumah pada malam hari.

Petugas mengimbau anak-anak yang masih berada di jalan untuk segera pulang dan menghindari aktivitas yang dapat membahayakan diri sendiri maupun mengganggu keamanan.

CCTV Tidak Menggantikan Kehadiran Petugas

Kota Jambi juga telah mulai memperluas pemasangan CCTV yang dipantau selama 24 jam sebagai bagian dari sistem pengawasan wilayah.

Teknologi tersebut dapat membantu pemerintah dan aparat mengetahui kondisi di ruang publik, mengidentifikasi kejadian, serta memberikan informasi awal ketika terjadi gangguan.

Namun, Maulana mengingatkan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan kehadiran manusia.

“Kehadiran petugas di lapangan tetap sangat penting untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat.”

Pernyataan itu menunjukkan pendekatan yang menggabungkan pengawasan digital dan patroli fisik.

CCTV dapat melihat. Petugas dapat merespons.

Keduanya memiliki fungsi yang berbeda, tetapi dapat saling melengkapi.

Keamanan Adalah Bagian dari Ekonomi Kota

Ada alasan mengapa persoalan keamanan memiliki dampak jauh melampaui urusan kriminalitas.

Kota yang aman menciptakan kondisi yang lebih baik bagi aktivitas ekonomi.

Pelaku usaha lebih percaya diri beroperasi hingga malam. Pengunjung lebih nyaman mendatangi pusat kuliner dan kawasan wisata. Masyarakat lebih leluasa menggunakan ruang publik.

Sebaliknya, kawasan yang dianggap rawan dapat kehilangan aktivitas ekonomi setelah matahari terbenam.

Maulana menghubungkan stabilitas Kamtibmas dengan pertumbuhan ekonomi dan keberlangsungan pembangunan daerah.

Dengan demikian, menjaga keamanan bukan hanya kewajiban hukum, tetapi juga bagian dari menciptakan iklim ekonomi yang sehat.

Makna “Aman” dalam Kota Jambi BAHAGIA

Bagi Pemerintah Kota Jambi, keamanan memiliki makna yang lebih luas dalam kerangka visi Kota Jambi BAHAGIA.

Maulana menjelaskan bahwa makna “aman” tidak hanya berarti bebas dari tindak kriminal.

Keamanan juga berarti memastikan warga dapat beraktivitas dengan tenang, anak-anak belajar dengan nyaman, pelaku usaha menjalankan bisnis tanpa kekhawatiran, wisatawan merasa terlindungi, dan masyarakat dapat menggunakan ruang publik secara tertib dan nyaman.

Definisi tersebut menggeser pembicaraan tentang keamanan dari sekadar angka kriminalitas menjadi kualitas kehidupan sehari-hari.

Sebuah kota dapat disebut aman bukan hanya ketika kejahatan rendah, tetapi ketika warganya merasa memiliki ruang untuk hidup, bekerja, belajar, dan bersosialisasi.

Ruang Publik Tidak Boleh Dikuasai Rasa Takut

Kawasan kota pada malam hari memiliki karakter yang berbeda dibandingkan siang hari.

Aktivitas masyarakat bergeser. Pusat perdagangan, kuliner, tempat hiburan, kawasan wisata, dan ruang publik mulai dipenuhi warga.

Karena itu, keamanan malam menjadi bagian penting dari pengelolaan kota.

Jika warga merasa takut keluar rumah, maka ruang publik kehilangan salah satu fungsi utamanya sebagai tempat interaksi sosial.

Sebaliknya, ruang publik yang aman dapat memperkuat kehidupan sosial dan ekonomi kota.

Dalam konteks inilah penegasan Maulana bahwa Kota Jambi bukan tempat bagi geng motor dan premanisme jalanan menjadi lebih dari sekadar pernyataan politik.

Ia merupakan pernyataan mengenai bagaimana pemerintah ingin ruang kota digunakan.

Ketegasan Harus Berjalan Bersama Pencegahan

Pemerintah memang dituntut tegas terhadap kekerasan dan kriminalitas. Namun, kebijakan keamanan yang berkelanjutan juga harus menyentuh akar persoalan.

Untuk kasus kenakalan remaja, misalnya, penindakan dapat menjadi salah satu instrumen, tetapi tidak cukup sebagai satu-satunya jawaban.

Keluarga, sekolah, komunitas, tokoh masyarakat, dan pemerintah perlu menciptakan lebih banyak ruang positif bagi anak muda.

Olahraga, kegiatan kreatif, pendidikan karakter, komunitas, dan kesempatan mengembangkan keterampilan dapat menjadi alternatif bagi remaja untuk membangun identitas tanpa harus mencari pengakuan melalui kelompok yang berpotensi melakukan kekerasan.

Dengan pendekatan seperti itu, patroli bukan hanya berfungsi sebagai alat penertiban, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pencegahan.

Masyarakat Diminta Tidak Menjadi Penonton

Maulana juga mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap keamanan di lingkungan masing-masing.

Warga diminta segera melaporkan apabila menemukan potensi gangguan Kamtibmas kepada aparat terkait.

Partisipasi masyarakat menjadi penting karena aparat tidak mungkin berada di setiap sudut kota sepanjang waktu.

Tetangga, pengelola usaha, komunitas, pengurus lingkungan, dan warga biasa sering kali menjadi pihak pertama yang mengetahui perubahan situasi di lingkungan mereka.

Dengan komunikasi yang cepat, potensi gangguan dapat ditangani sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Dari Patroli Malam Menuju Kota yang Lebih Teratur

Patroli gabungan pada malam akhir pekan merupakan salah satu langkah preventif.

Tetapi tantangan keamanan perkotaan membutuhkan konsistensi.

Patroli harus dilakukan secara berkala. Sistem CCTV perlu dipelihara. Informasi masyarakat harus ditindaklanjuti. Koordinasi antarinstansi perlu terus berjalan. Sementara program pencegahan bagi generasi muda harus diperkuat.

Keamanan tidak dibangun dalam satu malam.

Ia merupakan hasil dari kebijakan yang konsisten, aparat yang responsif, masyarakat yang peduli, dan pemerintah yang mampu bekerja lintas sektor.

Jambi Ingin Menjaga Wajah Kotanya

Pada akhirnya, pernyataan Maulana tentang geng motor dan premanisme jalanan menyentuh persoalan yang lebih mendasar: siapa yang berhak menggunakan ruang kota dan dengan cara seperti apa?

Jalan raya adalah ruang bersama. Taman adalah ruang bersama. Kawasan wisata adalah ruang bersama. Pusat perdagangan adalah ruang bersama.

Tidak boleh ada kelompok yang mengambil alih ruang tersebut melalui ancaman, kekerasan, atau rasa takut.

Karena itu, patroli yang melibatkan hampir 900 personel bukan hanya soal memburu pelaku kejahatan. Ia merupakan upaya mempertahankan karakter Kota Jambi sebagai ruang yang dapat digunakan bersama.

Kota yang Bahagia Membutuhkan Rasa Aman

Pemerintah Kota Jambi kini menghadapi tantangan untuk memastikan komitmen tersebut tidak berhenti pada patroli dan pernyataan.

Keamanan harus hadir dalam kebijakan sehari-hari: dari pencahayaan jalan, pengawasan ruang publik, sistem CCTV, penataan kawasan, pembinaan remaja, hingga kecepatan respons aparat.

Sebab, rasa aman memiliki pengaruh langsung terhadap kualitas kehidupan.

Warga yang merasa aman akan lebih bebas bergerak. Anak-anak dapat belajar tanpa kecemasan. Pelaku UMKM dapat memperpanjang jam usaha. Wisatawan dapat menikmati kota. Investasi pun memiliki lingkungan yang lebih kondusif.

Itulah sebabnya Kamtibmas bukan sekadar urusan kepolisian.

Ia adalah salah satu fondasi pembangunan kota.

Dan melalui patroli gabungan Forkopimda tersebut, Maulana ingin mengirimkan pesan yang cukup jelas: Kota Jambi terbuka bagi aktivitas masyarakat, perdagangan, wisata, dan kehidupan sosial—tetapi tidak bagi kekerasan jalanan, geng motor, dan premanisme.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lanjut Baco

NGOFILM Hadirkan Ruang Santai dan Inspirasi, 23 Peserta Ngopi Sambil Nonton Film di Co-Working Space Rumah BUMN Jambi

28 Agustus 2026 - 07:53 WIB

Lindungi Merek, Perkuat Usaha: Rumah BUMN Jambi Edukasi UMK tentang Pentingnya HKI

28 Agustus 2026 - 02:12 WIB

Festival Batanghari 2026 Jadi Panggung Produk Lokal, 20 UMK Ramaikan Kampung Ekraf

28 Agustus 2026 - 02:01 WIB

Kanwil Kementerian Hukum RI Jambi dan Rumah BUMN Jambi Perkuat Sinergi Perlindungan Kekayaan Intelektual UMKM

24 Agustus 2026 - 08:25 WIB

Rumah BUMN Jambi dan GoFood Latih Pedagang Pasar Tradisional Go Digital

20 Agustus 2026 - 01:37 WIB

#JambiBergerak BERITA