Menu

Mode Gelap
Ekspor ke Malaysia Masih Terbuka Lebar, Rumah BUMN Jambi Bekali 100 UMKM Strategi Go Global Pengurus GP Ansor Provinsi Jambi 2024-2028 Resmi Dilantik

BERITA

Sampah Menjadi Agenda Global: Apa yang Dibawa Jambi ke Forum UCLG ASPAC?

badge-check


					Sampah Menjadi Agenda Global: Apa yang Dibawa Jambi ke Forum UCLG ASPAC? Perbesar

Dari Persoalan Sampah ke Agenda Kota Berkelanjutan: Jambi Membawa Inovasi Lokal ke Forum Asia Pasifik

Persoalan sampah yang biasanya terlihat di jalan, lingkungan permukiman, atau tempat pembuangan, kini dibawa Pemerintah Kota Jambi ke ruang diskusi pembangunan perkotaan tingkat Asia-Pasifik. Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha memaparkan inovasi pengelolaan sampah Kota Jambi dalam forum United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC), sekaligus menawarkan pengalaman lokal sebagai bagian dari upaya membangun kota yang lebih bersih, berkelanjutan, dan kolaboratif.

Forum tersebut menjadi ruang bagi Kota Jambi untuk tidak hanya berbicara mengenai persoalan lingkungan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pemerintah daerah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan dapat bekerja bersama menangani persoalan yang terus berkembang seiring pertumbuhan kota.

Bagi Jambi, pengelolaan sampah bukan lagi semata urusan mengangkut sampah dari satu titik ke titik lain. Ia mulai ditempatkan sebagai bagian dari tata kelola kota, pemberdayaan masyarakat, dan agenda pembangunan berkelanjutan.

Ketika Sampah Menjadi Persoalan Tata Kelola Kota

Pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi membuat persoalan sampah menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi kota-kota di kawasan Asia-Pasifik.

Sampah rumah tangga terus dihasilkan setiap hari. Pada saat yang sama, kapasitas pengangkutan, kesadaran masyarakat, pemilahan, hingga pengelolaan di tingkat lingkungan menentukan apakah sampah tersebut dapat ditangani secara efektif.

Karena itu, pendekatan yang hanya mengandalkan pemerintah sebagai pengangkut sampah memiliki keterbatasan.

Kota membutuhkan sistem yang membuat masyarakat ikut menjadi bagian dari solusi.

Dalam konteks itulah inovasi pengelolaan sampah Kota Jambi memperoleh relevansi ketika dipresentasikan dalam forum UCLG ASPAC. Pemerintah kota ingin menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan lingkungan dapat dimulai dari tingkat paling dekat dengan masyarakat.

Dari Pemerintah ke Masyarakat

Salah satu arah kebijakan yang berkembang di Kota Jambi adalah pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Pendekatan tersebut menempatkan lingkungan RT sebagai salah satu titik penting dalam sistem pengelolaan. Masyarakat tidak hanya diminta membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga didorong untuk terlibat dalam proses pengumpulan dan pengelolaan.

Model semacam ini penting karena persoalan sampah pada dasarnya bermula dari rumah.

Jika sampah sudah dipilah dan dikelola sejak sumbernya, beban pada sistem pengangkutan dan tempat pemrosesan akhir dapat ditekan.

Sebaliknya, jika seluruh sampah bercampur sejak awal, proses berikutnya menjadi jauh lebih sulit dan mahal.

Di Kota Jambi, penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat juga terhubung dengan Program Kampung Bahagia. Program tersebut tidak hanya menyentuh pembangunan infrastruktur RT, tetapi juga kebersihan lingkungan, keamanan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Bentor Sampah dan Perubahan Sistem Pengangkutan

Salah satu bentuk dukungan konkret yang telah diterapkan adalah penyediaan kendaraan roda tiga atau bentor untuk mendukung pengangkutan sampah berbasis masyarakat.

Dalam pelaksanaan Program Kampung Bahagia di Kecamatan Danau Sipin, misalnya, pemerintah kota menyerahkan bentor kepada kelompok kerja RT untuk mendukung sistem pengambilan sampah dari rumah ke rumah.

Konsep tersebut berupaya mengubah pola lama ketika warga membawa sampah ke titik pembuangan sementara.

Dengan sistem pengambilan dari rumah, pemerintah berharap keberadaan tempat pembuangan sampah liar maupun tumpukan sampah di pinggir jalan dapat dikurangi.

Namun, kendaraan hanyalah salah satu bagian dari sistem.

Keberhasilan pengelolaan sampah tetap bergantung pada jadwal pengangkutan, kedisiplinan warga, pemilahan, pengawasan, serta kemampuan kelompok masyarakat untuk mengelola operasional secara berkelanjutan.

Sampah, Lingkungan, dan Ekonomi Masyarakat

Persoalan sampah juga memiliki dimensi ekonomi.

Sampah yang dipilah dapat memiliki nilai. Plastik, kertas, logam, dan material tertentu dapat dikumpulkan dan dikelola kembali melalui bank sampah maupun kegiatan ekonomi berbasis lingkungan.

Karena itu, pengelolaan sampah tidak harus selalu dipandang sebagai beban anggaran.

Dengan sistem yang tepat, ia dapat menciptakan aktivitas ekonomi baru sekaligus membuka ruang pemberdayaan masyarakat.

Gagasan tersebut sejalan dengan arah Program Kampung Bahagia yang juga memberikan dukungan terhadap UMKM. Pemerintah Kota Jambi sebelumnya menyebut program tersebut sebagai bagian dari upaya mendorong masyarakat agar lebih produktif dan meningkatkan kapasitas ekonomi lokal.

Dengan demikian, persoalan lingkungan dan ekonomi sebenarnya dapat berjalan beriringan.

Lingkungan yang lebih bersih menciptakan ruang hidup yang lebih sehat, sementara pengelolaan sampah yang produktif dapat memberikan nilai ekonomi kepada masyarakat.

Mengapa Forum UCLG ASPAC Penting bagi Jambi?

Keikutsertaan dalam forum UCLG ASPAC memberi Kota Jambi kesempatan untuk menempatkan pengalaman lokal dalam percakapan yang lebih luas.

UCLG ASPAC merupakan wadah kerja sama pemerintah daerah di kawasan Asia-Pasifik. Forum tersebut memungkinkan kota-kota bertukar pengalaman mengenai berbagai persoalan perkotaan, termasuk pembangunan berkelanjutan, lingkungan, ekonomi, dan tata kelola.

Sebelumnya, delegasi Kota Jambi juga mengikuti rangkaian UCLG ASPAC Executive Bureau Meeting and Asia Pacific Forum 2026 di Kendari pada Mei 2026. Dalam forum tersebut, Kota Jambi memperkenalkan sejumlah praktik pembangunan berkelanjutan, termasuk pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan Program Kampung Bahagia.

Artinya, kehadiran Diza dalam forum terkait pengelolaan sampah bukan sekadar agenda diplomasi daerah.

Ada upaya untuk memperkenalkan praktik yang telah dijalankan sekaligus membuka peluang memperoleh perspektif dan pengalaman dari kota lain.

Kolaborasi sebagai Kunci Kota Berkelanjutan

Persoalan lingkungan tidak mengenal batas administratif.

Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat mencemari saluran air, memperburuk kualitas lingkungan, dan pada akhirnya meningkatkan risiko persoalan kesehatan maupun banjir.

Karena itu, penyelesaiannya membutuhkan kolaborasi.

Pemerintah memiliki kewenangan dan sumber daya. Masyarakat memiliki peran dalam perubahan perilaku. Dunia usaha dapat mendukung teknologi dan pembiayaan. Sementara perguruan tinggi dan komunitas dapat memberikan pengetahuan serta inovasi.

Model kolaborasi tersebut menjadi semakin penting ketika kota ingin bergerak menuju pembangunan yang berkelanjutan.

Bukan hanya pemerintah yang harus berubah.

Cara masyarakat memperlakukan sampah juga harus berubah.

Tantangan Tidak Berhenti pada Inovasi

Membawa inovasi pengelolaan sampah ke forum internasional tentu memberikan nilai positif bagi citra Kota Jambi. Tetapi tantangan terbesar justru berada setelah forum selesai.

Sebuah inovasi akan memiliki arti apabila dapat diukur dampaknya.

Berapa banyak sampah yang berhasil dikurangi? Berapa banyak rumah tangga yang telah memilah sampah? Seberapa efektif pengangkutan dari rumah ke rumah? Berapa banyak sampah yang masuk ke bank sampah? Dan apakah masyarakat memperoleh manfaat ekonomi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk memastikan bahwa istilah kota berkelanjutan tidak berhenti sebagai slogan.

Program yang berhasil perlu memiliki indikator yang jelas dan dapat dievaluasi.

Dari Praktik Lokal ke Pembelajaran Global

Pengalaman Kota Jambi menunjukkan bahwa inovasi perkotaan tidak selalu harus berasal dari teknologi mahal.

Sebuah kendaraan sederhana yang digunakan untuk mengangkut sampah dari rumah ke rumah dapat menjadi bagian dari perubahan sistem apabila didukung oleh kelembagaan masyarakat yang kuat.

Demikian pula bank sampah tidak hanya menjadi tempat menukar sampah dengan nilai ekonomi. Jika dikelola secara konsisten, ia dapat menjadi sarana pendidikan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa inovasi bisa lahir dari kebutuhan sehari-hari.

Yang membuatnya penting untuk dibagikan dalam forum internasional bukan semata-mata teknologinya, tetapi cara sebuah kota mengorganisasi masyarakat untuk menghadapi persoalan bersama.

Kota Berkelanjutan Dimulai dari Kebiasaan Kecil

Pada akhirnya, agenda pengelolaan sampah Kota Jambi membawa persoalan besar kembali kepada tindakan yang sangat sederhana.

Memilah sampah.

Tidak membuang sampah sembarangan.

Mengurangi penggunaan barang sekali pakai.

Mengikuti sistem pengangkutan yang tersedia.

Dan menjaga lingkungan setelah pemerintah menyediakan fasilitas.

Pemerintah dapat membuat kebijakan dan menyediakan sarana. Namun, keberlanjutan hanya akan tercapai ketika kebijakan tersebut berubah menjadi kebiasaan masyarakat.

Itulah sebabnya paparan Diza di forum UCLG ASPAC memiliki makna lebih luas daripada sekadar presentasi mengenai sampah.

Ia memperlihatkan bagaimana persoalan lokal dapat menjadi bagian dari percakapan global mengenai masa depan kota.

Jambi dan Jalan Panjang Menuju Kota Berkelanjutan

Kota Jambi masih memiliki pekerjaan panjang dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang modern dan berkelanjutan. Tetapi arah kebijakan yang menempatkan masyarakat sebagai bagian dari solusi menunjukkan adanya perubahan cara pandang.

Pengelolaan sampah tidak lagi hanya diposisikan sebagai pekerjaan teknis pemerintah.

Ia menjadi persoalan tata kelola, perilaku, ekonomi, dan kualitas hidup.

Dengan membawa pengalaman tersebut ke forum UCLG ASPAC, Jambi membuka peluang untuk belajar dari kota lain sekaligus memperkenalkan pendekatan yang sedang dikembangkan di tingkat lokal. Forum internasional seperti ini pada akhirnya akan memiliki arti ketika pertukaran gagasan berubah menjadi kerja sama nyata dan menghasilkan perbaikan yang dapat dirasakan warga.

Kota berkelanjutan tidak dibangun hanya dengan proyek besar. Ia dibangun dari sistem yang bekerja, pemerintah yang mau berkolaborasi, dan masyarakat yang bersedia mengubah kebiasaan.

Bagi Jambi, perjalanan menuju kota yang lebih bersih mungkin berm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lanjut Baco

NGOFILM Hadirkan Ruang Santai dan Inspirasi, 23 Peserta Ngopi Sambil Nonton Film di Co-Working Space Rumah BUMN Jambi

28 Agustus 2026 - 07:53 WIB

Lindungi Merek, Perkuat Usaha: Rumah BUMN Jambi Edukasi UMK tentang Pentingnya HKI

28 Agustus 2026 - 02:12 WIB

Festival Batanghari 2026 Jadi Panggung Produk Lokal, 20 UMK Ramaikan Kampung Ekraf

28 Agustus 2026 - 02:01 WIB

Kanwil Kementerian Hukum RI Jambi dan Rumah BUMN Jambi Perkuat Sinergi Perlindungan Kekayaan Intelektual UMKM

24 Agustus 2026 - 08:25 WIB

Rumah BUMN Jambi dan GoFood Latih Pedagang Pasar Tradisional Go Digital

20 Agustus 2026 - 01:37 WIB

#JambiBergerak BERITA