Menu

Mode Gelap
Ekspor ke Malaysia Masih Terbuka Lebar, Rumah BUMN Jambi Bekali 100 UMKM Strategi Go Global Pengurus GP Ansor Provinsi Jambi 2024-2028 Resmi Dilantik

BERITA

Sekolah Rakyat dan Janji Pendidikan yang Lebih Adil bagi Anak-Anak Jambi

badge-check


					Sekolah Rakyat dan Janji Pendidikan yang Lebih Adil bagi Anak-Anak Jambi Perbesar

Wali Kota Maulana Memastikan MPLS 370 Siswa Desil 1 Berjalan Aman dan Lancar

JAMBI — Bagi 370 anak dari keluarga yang berada dalam kelompok Desil 1, memasuki Sekolah Rakyat bukan sekadar pergantian lingkungan belajar. Ini adalah kesempatan untuk memperoleh pendidikan dalam sistem yang dirancang pemerintah secara khusus bagi keluarga yang berada pada kelompok kesejahteraan paling rendah.

Karena itu, kesiapan sekolah menjadi perkara yang tidak bisa ditunda. Pada Jumat pagi, 24 Juli 2026, Wali Kota Jambi Maulana meninjau langsung kesiapan pembangunan Sekolah Rakyat (SR) di kawasan Bagan Pete, Kecamatan Alam Barajo. Peninjauan dilakukan menjelang pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang dijadwalkan dimulai pada 30 Juli 2026.

Bukan hanya gedung yang diperiksa. Pemerintah Kota Jambi memastikan sarana-prasarana, proses pembelajaran, kebutuhan dasar, hingga kesiapan kepala sekolah, guru, pengasuh, dan pendamping tersedia sebelum para siswa mulai memasuki asrama.

Di balik pemeriksaan teknis tersebut terdapat pertanyaan yang lebih besar: bagaimana memastikan program pendidikan yang ditujukan kepada keluarga paling rentan benar-benar memberikan pengalaman belajar yang aman, bermartabat, dan berkualitas?

370 Siswa dari Kelompok Desil 1

Sekolah Rakyat di Jambi akan menerima 370 siswa baru dari jenjang SD, SMP, dan SMA. Mereka berasal dari keluarga yang masuk kategori Desil 1 dan menjadi sasaran prioritas program Sekolah Rakyat.

Karakteristik peserta didik tersebut membuat persiapan MPLS memiliki arti yang lebih luas dibandingkan sekadar kegiatan orientasi sekolah.

MPLS menjadi pintu pertama bagi anak untuk mengenal lingkungan baru, guru, pengasuh, teman, sekaligus pola kehidupan di asrama.

Karena itu, lingkungan yang aman dan tertata menjadi bagian dari kualitas pendidikan itu sendiri.

Bagi sebagian siswa, perubahan tersebut mungkin juga berarti meninggalkan pola kehidupan yang selama ini mereka kenal dan mulai beradaptasi dengan sistem pendidikan berasrama.

Pemerintah dituntut memastikan proses transisi itu berlangsung secara manusiawi.

Pemkot Jambi Kerahkan Lintas Organisasi Perangkat Daerah

Maulana mengatakan Pemerintah Kota Jambi telah menggerakkan berbagai organisasi perangkat daerah melalui tim transisi untuk mempersiapkan pelaksanaan Sekolah Rakyat.

Koordinasi dilakukan bersama unsur Kementerian Sosial, kepala sekolah Sekolah Rakyat, Kementerian Pekerjaan Umum hingga satuan kerja terkait.

“Kami sudah mengkoordinasikan dan kerahkan semua OPD terkait khususnya, untuk berkolaborasi bersama dengan teman-teman Kementerian Sosial dan Kepala Sekolah SR, Kementerian PU, hingga Satkernya,” ujar Maulana.

Model kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat tidak dapat dikelola sebagai program pendidikan yang berdiri sendiri.

Pendidikan memang menjadi inti, tetapi kebutuhan peserta didik juga mencakup tempat tinggal, makanan, kesehatan, keamanan, fasilitas belajar, serta pendampingan sosial.

Artinya, keberhasilan sekolah akan bergantung pada kemampuan berbagai lembaga bekerja dalam satu sistem.

MPLS Menjadi Ujian Pertama Kesiapan Sekolah

Tanggal 30 Juli menjadi salah satu titik penting bagi Sekolah Rakyat Jambi.

Pada hari tersebut, 370 siswa dari jenjang SD, SMP, dan SMA dijadwalkan mulai masuk asrama. Karena itu, Maulana memastikan fasilitas dasar telah siap sebelum siswa datang.

Kepala sekolah, majelis guru, pengasuh, dan pendamping juga harus sudah berada di lokasi sesuai jadwal.

“Peninjauan ini agar memastikan fasilitas dasarnya sudah harus siap,” kata Maulana.

Pernyataan tersebut menggambarkan pendekatan yang menempatkan kesiapan operasional sebagai prioritas.

Sebab, sekolah berasrama memiliki kebutuhan yang jauh lebih kompleks dibandingkan sekolah reguler. Aktivitas siswa tidak berhenti ketika jam pelajaran selesai. Lingkungan sekolah sekaligus menjadi tempat tinggal.

Karena itu, standar keamanan, kebersihan, kesehatan, konsumsi, dan pengawasan harus berjalan selama 24 jam.

Pendidikan Berkeadilan Bukan Sekadar Membuka Pintu Sekolah

Program Sekolah Rakyat dirancang untuk menghadirkan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Namun, akses hanyalah tahap pertama.

Pendidikan yang benar-benar berkeadilan harus menjawab persoalan yang lebih dalam: apakah anak mendapatkan fasilitas yang layak? Apakah mereka memiliki guru yang kompeten? Apakah kebutuhan dasar terpenuhi? Apakah mereka merasa aman? Dan apakah mereka memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi penting karena kemiskinan sering kali tidak hanya berdampak pada kemampuan keluarga membiayai pendidikan.

Ia dapat memengaruhi akses terhadap gizi, lingkungan belajar, fasilitas digital, kesehatan, hingga kesempatan mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri.

Sekolah Rakyat mencoba memotong sebagian hambatan tersebut melalui pendekatan pendidikan yang terintegrasi.

Dari Keluarga Kurang Mampu Menuju Kesempatan yang Lebih Besar

Label Desil 1 pada dasarnya menggambarkan kondisi sosial ekonomi keluarga yang menjadi prioritas penerima manfaat.

Tetapi di balik angka dan kategori tersebut terdapat anak-anak dengan kemampuan, cita-cita, dan potensi yang berbeda.

Karena itu, tantangan pendidikan bukan hanya memastikan mereka hadir di sekolah.

Tantangan berikutnya adalah memastikan mereka tidak kehilangan kesempatan untuk berkembang hanya karena kondisi ekonomi keluarga.

Di sinilah Sekolah Rakyat memiliki misi sosial yang lebih besar.

Jika dikelola dengan baik, sekolah tersebut dapat menjadi salah satu instrumen mobilitas sosial—tempat anak memperoleh pengetahuan, keterampilan, karakter, dan kepercayaan diri untuk memperluas pilihan hidupnya.

Asrama Mengubah Cara Sekolah Melayani Anak

Sistem pendidikan berasrama juga membawa konsekuensi tersendiri.

Guru dan pengasuh bukan hanya bertanggung jawab atas proses akademik. Mereka juga menjadi bagian dari lingkungan keseharian siswa.

Interaksi di luar ruang kelas dapat memengaruhi perkembangan karakter, kedisiplinan, kemampuan bersosialisasi, dan kemandirian anak.

Karena itu, pengasuh dan pendamping memiliki posisi penting.

Mereka harus mampu menciptakan keseimbangan antara disiplin dan rasa aman; antara aturan dan kebutuhan psikologis anak; serta antara target pendidikan dan kehidupan sosial siswa.

Kesiapan personel menjadi sama pentingnya dengan kesiapan bangunan.

Pemerintah Daerah sebagai Penghubung

Keterlibatan Pemkot Jambi dalam tahap transisi menunjukkan fungsi penting pemerintah daerah sebagai penghubung antara kebijakan nasional dan kebutuhan lokal.

Sekolah Rakyat merupakan bagian dari agenda pemerintah pusat, tetapi pelaksanaannya berlangsung di wilayah yang memiliki karakteristik masyarakat sendiri.

Pemkot memiliki pengetahuan mengenai kondisi daerah, jaringan pelayanan publik, serta perangkat yang dapat membantu memastikan program berjalan sesuai kebutuhan setempat.

Kolaborasi lintas pemerintahan karena itu menjadi elemen penting.

Program nasional membutuhkan dukungan daerah agar dapat diterjemahkan menjadi layanan yang benar-benar terasa di lapangan.

Mengukur Keberhasilan dari Kehidupan Siswa

Ukuran keberhasilan Sekolah Rakyat pada akhirnya tidak cukup dilihat dari berapa siswa yang diterima atau seberapa cepat fasilitas selesai.

Ukuran yang lebih penting adalah apa yang terjadi pada siswa setelah mereka menjalani pendidikan.

Apakah kemampuan akademik mereka meningkat?

Apakah mereka menjadi lebih mandiri?

Apakah kesehatan dan kesejahteraan mereka membaik?

Apakah mereka memiliki keterampilan sosial yang lebih baik?

Dan yang tidak kalah penting: apakah mereka memiliki peluang yang lebih besar untuk melanjutkan pendidikan atau memasuki dunia kerja kelak?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan apakah Sekolah Rakyat benar-benar berhasil mencapai tujuan sosialnya.

MPLS sebagai Awal, Bukan Akhir

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah pada 30 Juli hanyalah permulaan.

Setelah para siswa masuk asrama, tantangan yang sesungguhnya baru dimulai.

Sekolah harus membangun budaya belajar. Guru perlu mengenali karakter setiap siswa. Pengasuh perlu membangun hubungan kepercayaan. Pemerintah perlu memastikan kebutuhan operasional berjalan konsisten.

Dan keluarga tetap harus menjadi bagian dari proses tersebut.

Pendidikan yang baik tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran keluarga. Sebaliknya, sekolah dan keluarga perlu menjadi dua lingkungan yang saling mendukung.

Kesempatan yang Tidak Boleh Terbuang

Ada alasan mengapa perhatian terhadap 370 siswa tersebut menjadi penting.

Mereka merupakan kelompok yang secara ekonomi menghadapi hambatan lebih besar dibandingkan sebagian masyarakat lainnya. Ketika negara dan pemerintah daerah membuka jalur pendidikan khusus bagi mereka, setiap kegagalan dalam penyelenggaraan program akan memiliki konsekuensi sosial yang lebih besar.

Karena itu, kesiapan yang dilakukan sejak awal merupakan investasi.

Satu fasilitas yang berfungsi dengan baik dapat membuat anak belajar dengan nyaman. Satu guru yang mampu menjadi mentor dapat mengubah cara seorang siswa melihat masa depannya. Satu lingkungan yang aman dapat memberikan rasa percaya diri yang sebelumnya sulit mereka dapatkan.

Pendidikan sering kali bekerja melalui perubahan kecil semacam itu.

Membangun Sekolah, Membuka Jalan Mobilitas Sosial

Peninjauan Wali Kota Maulana di Sekolah Rakyat Bagan Pete memperlihatkan bahwa pemerintah menempatkan tahap awal program ini sebagai sesuatu yang harus dipersiapkan secara serius.

370 siswa Desil 1 akan menjadi bagian dari sebuah eksperimen kebijakan yang lebih besar: menghadirkan pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga yang paling membutuhkan dukungan.

Keberhasilannya kelak tidak hanya menjadi prestasi sebuah sekolah.

Ia akan menjadi ukuran apakah intervensi pendidikan dapat benar-benar membantu memutus sebagian rantai ketimpangan sosial.

Sebab, pendidikan yang berkeadilan bukan hanya tentang siapa yang boleh masuk sekolah.

Lebih jauh, ia adalah tentang siapa yang diberi kesempatan untuk tumbuh, siapa yang mendapat dukungan ketika menghadapi hambatan, dan siapa yang akhirnya memiliki peluang lebih besar untuk menentukan masa depannya sendiri.

Bagi 370 anak yang akan memulai perjalanan di Sekolah Rakyat Jambi, 30 Juli bukan sekadar hari pertama MPLS.

Itu adalah awal dari sebuah kesempatan baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lanjut Baco

NGOFILM Hadirkan Ruang Santai dan Inspirasi, 23 Peserta Ngopi Sambil Nonton Film di Co-Working Space Rumah BUMN Jambi

28 Agustus 2026 - 07:53 WIB

Lindungi Merek, Perkuat Usaha: Rumah BUMN Jambi Edukasi UMK tentang Pentingnya HKI

28 Agustus 2026 - 02:12 WIB

Festival Batanghari 2026 Jadi Panggung Produk Lokal, 20 UMK Ramaikan Kampung Ekraf

28 Agustus 2026 - 02:01 WIB

Kanwil Kementerian Hukum RI Jambi dan Rumah BUMN Jambi Perkuat Sinergi Perlindungan Kekayaan Intelektual UMKM

24 Agustus 2026 - 08:25 WIB

Rumah BUMN Jambi dan GoFood Latih Pedagang Pasar Tradisional Go Digital

20 Agustus 2026 - 01:37 WIB

#JambiBergerak BERITA